PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Sebuah pertempuran....


__ADS_3

"Mas, ini sudah malam. Kamu tidak ingin istirahat kah?" Tanya Elsa ketika melihat jam dinding berada di angka sebelas.


Dua bulan telah berlalu begitu saja, kini usia Rafa sudah memasuki bulan ketiga. Ia tumbuh menjadi balita yang lucu dan menggemaskan. Rafa menjadi idola ibu-ibu tetangga Bu Nurul.


Usaha Ivan kini mulai berjalan lancar, banyak orderan yang di terima oleh Ivan. Usahanya selama beberapa bulan ini telah membuahkan hasil, setiap hari ia menawarkan produknya ke toko-toko besar yang ada di pusat perbelanjaan yang ada dijalan Mojopahit.


"Sebentar lagi ya, ini udah nanggung." Jawab Ivan tanpa menatap wajah Elsa yang ada di sampingnya.


Saat ini Ivan tengah menyiapkan bahan yang harus di jahit oleh pegawainya. Ia sudah memilik tiga tukang jahit, tiga tukang produksi barang jadi serta dua tukang paking barang. Ivan melarang Elsa untuk membantu kegiatan produksi nya, Ivan hanya ingin Elsa fokus mengasuh Rafa dan memanjakan dirinya.


Sejak memulai usahanya sendiri, Ivan sering begadang untuk menyiapkan desain sepatu yang akan ia produksi, kini ia menjadi perokok aktif apalagi ketika orderan menumpuk dan harus segera diselesaikan.


"Sayang, buatin aku segelas extr*jo*s dong!" Ucap Ivan dengan wajah yang di buat semanis mungkin agar Elsa mau membuatkan minuman soda berwarna kuning itu.


Elsa berdecak, ia menyebikkan bibirnya karena kesal mendengar permintaan Ivan. Ia tidak suka jika Ivan mengkonsumsi suplemen bersoda itu.


"Kenapa setiap hari minta di buatin minuman itu sih Mas! itu gak baik untuk kesehatan kalau setiap hari di minum!" Ucap Elsa dengan bibir yang mengerucut.


"Ayo lah Sayang.... biar aku kuat nglemburnya yak!" Rayu Ivan yang kini meletakkan semua pekerjaannya.


Elsa mendengus kesal, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur untuk memenuhi permintaan Ivan.


Beberapa saat kemudian, Elsa datang dari dapur dengan membawa segelas minuman berwarna kuning serta semangkuk buah naga yang sudah di potong.


"Ini Mas..." Elsa meletakkan minuman Ivan di meja yang ada di ruang tamu.


"Terima kasih Sayang." Ucap Ivan seraya mendudukkan dirinya di samping Elsa. Ia mengecup leher jenjang yang menggoda di sampingnya.


"Geli ih mas!" Lirih Elsa.


Ivan tersenyum simpul sebelum menikmati minuman bersoda yang bisa menambah staminanya untuk begadang seperti malam ini.


"Kalau sudah ngantuk mending kamu tidur dulu. Nanti aku nyusul." Ucap Ivan sembari menatap wajah Elsa dari samping.


Lagi-lagi Elsa menyebikkan bibirnya karena kesal dengan Ivan. Bagaimana bisa suaminya itu tidak peka jika malam ini ia menginginkan sebuah pertempuran di atas ranjang.

__ADS_1


"Kenapa semakin kesini Mas Ivan gak peka sih!" Ucap Elsa dengan kesalnya.


Ivan tergelak melihat ekspresi wajah sang istri yang tengah merajuk itu. Ia benar-benar lupa jika malam ini ia punya janji yang harus di penuhi.


"Udah gak sabar ya..." Lirih Ivan dengan nada yang menggoda di telinga Elsa.


"Nyebelin!" Ucap Elsa seraya berdiri dari tempat duduknya. Ia masuk meninggalkan Ivan yang tergelak di sofa ruang tamu.


Sepeninggalan Elsa dari ruang tamu, Ivan menyulut sebatang rokok untuk menemaninya mencari inspirasi. Ia menengadahkan kepalanya untuk menatap langit-langit ruang tamu yang berwarna putih. Ia sedang memikirkan tentang desain sepatu baru yang sebentar lagi akan ia produksi.


Lima belas menit telah berlalu, setelah menghabiskan sebatang rokok beraroma mint, Ivan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum masuk ke dalam kamar menemui Elsa yang sudah menunggunya.


Pintu kamar terbuka lebar, Elsa mendengar Ivan masuk dan mengunci pintu kamarnya. Ia tengah membelakangi Ivan yang masih berdiri di depan pintu, sengaja ia pura-pura untuk tertidur.


Ivan merebahkan dirinya di samping Elsa. Ia memeluk tubuh Elsa yang terbalut piyama tanpa lengan bewarna putih. Tangannya mulai menjelajah pengunungan sampai daerah rawan banjir yang ada di bawah pusar.


"Aku tahu kamu belum tidur, Sayang." Lirih Ivan di telinga Elsa yang diiringi dengan hembusan nafas yang menggelitik di belakang telinganya.


Elsa masih tetap pada posisinya, namun matanya berhasil terbuka tatkala merasakan tangan Ivan mendaki puncak bukitnya untuk mencapai sebuah puncak berwarna coklat yang kini di kuasai oleh Rafa.


"lebih cepat, Mas!" Ucap Elsa di sela-sela rintihannya ketika tangan Ivan mulai memainkan kacang almond yang ada di daerah rawan banjir miliknya.


Ivan tersenyum simpul ketika merasakan tubuh Elsa mulai menegang karena permainannya. Ia semakin mempercepat gerakan jarinya yang bermain di sekitar kacang almond agar Elsa segera menuntaskan gelombang tsunami yang sebentar lagi akan menghantam nya.


"Ivan!!" Jerit Elsa ketika merasakan tubuhnya terguncang gelombang tsunami yang begitu dahsyat. Tak bisa di hindari lagi, kini daerah rawan banjir miliknya telah di nyatakan banjir tahap pertama.


Setelah mengatur nafasnya yang terengah, kini Elsa bangkit dari posisinya bersamaan dengan Ivan yang melepas kain segitiga yang membungkus benda pusaka miliknya.


Elsa mulai memposisikan dirinya di hadapan Ivan yang sedang berdiri dan menunggu servis darinya. Tangan Elsa mulai mencari belalai gajah yang sudah mulai mengeras di bawah sana. Ia juga tengah bermain dengan dua telur yang menggantung.


Ivan memejamkan matanya ketika merasakan Elsa memainkan belalai miliknya dengan sapuan lidah yang menari di pucuk belalai. Ia mencengkram rambut hitam Elsa ketika merasakan belalainya keluar masuk di dalam mulut Elsa.


"Stop Sayang!" Ucap Ivan yang sudah tidak tahan lagi ingin segera bertempur di atas ranjang.


"Belum keluar Mas!" Seru Elsa yang masih berjongkok di lantai.

__ADS_1


"Nanti saja di keluarkan di mulut piranha." Ucap Ivan yang kini tengah sibuk melucuti semua kain yang melekat dalam tubuh Elsa.


Ivan memposisikan tubuh Elsa di pinggiran ranjang, kaki Elsa dibiarkan menjuntai ke lantai. Dengan gerakan yang lembut, ia mulai memaksa belalai miliknya untuk masuk ke dalam mulut piranha yang sudah di penuhi cairan kental berwarna bening.


Elsa memekik, ketika merasakan belalai gajah suaminya berhasil masuk dengan sempurna kedalam mulut piranha nya. Ia membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara-suara aneh yang bisa membangunkan Rafa yang tengah terlelap.


Hampir tiga puluh menit mereka berdua berpacu dalam pertempuran yang semakin sengit, tiga gaya telah mereka lakukan untuk menikmati sensasi lain dari gaya original yang selama ini mereka lakukan.


"Aku sudah tidak tahan, Mas!!" Pekik Elsa yang sejak tadi mencengkram sprei kasurnya.


"Tunggu sebentar lagi, Sayang!" Ucap Ivan dengan nafas yang tidak beraturan.


Ivan semakin mempercepat gerakannya ketika sebuah gelombang telah berkumpul di satu tempat untuk di ledakkan. Ivan menarik rambut Elsa seperti seorang joki yang sedang menunggang kuda berponi.


"Elsa!!" Lenguh Ivan ketika berhasil memuntahkan lahar panas di dalam mulut piranha yang tengah mencengkram belalai gajahnya.


"Ivan!! oh..." Elsa menundukkan kepalanya, ia bersujud karena kedua tangannya tak mampu lagi menopang tubuhnya yang beberapa kali di landa gelombang tsunami. Banjir susulan telah melanda daerah rawan banjir.


Ivan mencabut belalai yang sebentar lagi akan tertidur, ia membalikkan tubuh lemas Elsa agar bisa terbaring di atas tempat tidur. Ia meraih tissu yang ada di atas meja untuk membersihkan sisa-sisa cairan yang ada di mulut piranha milik Elsa.


"Terima kasih Sayang." Ucap Ivan sembari mengecup kening Elsa.


_


_


Nulis bab ini beneran capek rasanya😂


Selamat membaca kak, semoga suka 😍♥️


_


_


❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2