
"Mas, jangan lupa obat yang sebelum tidur diminum dulu yah." Ucap Elsa setelah selesai menidurkan Rafa di kasurnya.
Dua hari ini Ivan meminta kepada Bu Nurul untuk membiarkan Rafa tidur bersamanya. Ia begitu rindu tidur dengan buah hatinya karena selama kondisinya tidak baik-baik saja beberapa bulan kemarin, Rafa terus tidur bersama Bu Nurul.
"Sayang, keadaanku kan sudah membaik, aku juga sudah bisa tidur nyenyak setiap malam. Lalu untuk apa lagi aku mengkonsumsi obat itu." Ivan menolak obat yang disiapkan oleh Elsa diatas meja kamarnya.
Ivan merebahkan tubuhnya disamping Rafa, diikuti Elsa di samping Ivan. Sengaja Ivan yang berada di tengah, karena ia takut Rafa akan menendang perut buncit Elsa.
"Baiklah, malam ini aku biarkan kamu tidak minum obat, tapi besok dan seterusnya harus minum ya Mas." Ucap Elsa.
"Enggak mau Mama." Ucap Ivan sembari menggelengkan kepalanya, ia menirukan gaya Rafa ketika di suruh untuk mandi di pagi hari.
Elsa tergelak melihat tingkah lucu Ivan. Ia pun masuk kedalam dekapan yang membuatnya merasa tenang. Tangannya memeluk tubuh yang tidak gagah lagi seperti dulu, namun ia bahagia melihat perkembangan Ivan yang sudah membaik.
Keduanya pun belum bisa tidur sampai larut malam. Banyak obrolan yang yang terjadi disana, entah apa saja yang mereka bahas, gelak tawa pun terdengar di kamar yang tak seberapa luas ini.
"Sayang, Jika suatu saat aku meninggal duluan, kamu harus menikah lagi ya." Tiba-tiba Ivan berucap hal aneh yang membuat Elsa melebarkan matanya.
"Apa sih mas!! gak usah bahas yang aneh-aneh deh!" Elsa menyebikkan bibirnya.
"Loh jangan marah begitu. Kan tadi cuma seandainya." Ucap Ivan untuk meredam Elsa yang terlihat marah.
"Kenapa kamu menyuruh aku nikah lagi Mas? kamu gak cinta ya sama aku? kamu rela kalau aku dimiliki orang lain?" Cecar Elsa sembari menatap manik hitam Ivan.
"Justru karena aku sangat mencintaimu, aku harus merelakan kamu dengan yang lain." Ucap Ivan.
"Maksudnya bagaimana? kenapa bisa begitu?" Elsa mengerucutkan bibirnya.
"Karena pada hakikatnya, PUNCAK CINTA tertinggi adalah sebuah keikhlasan. Aku sangat mencintaimu, Sayang. Maka dari itu aku harus mengikhlaskan kamu bahagia dengan pria lain ketika aku sudah tidak bisa membahagiakanmu ataupun nanti saat waktunya aku pergi ke alam keabadian. Cinta itu bukanlah sebuah keegoisan untuk memiliki, kita harus melepaskan jika memang orang yang kita cintai tidak bahagia bersama kita." Tutur Ivan sembari membelai rambut Elsa dengan penuh kasih sayang.
"Enggak, aku gak mau nikah lagi!" tiba-tiba Elsa menjadi kesal karena mendengar ucapan Ivan. Ia berdecak.
"Emang kamu mau, punya suami May*t?" Tanya Ivan .
"Udah deh mas, ngapain sih bahas puncak cinta atau apalah itu. Aku gak suka ih." Ucap Elsa yang semakin memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Mas Ivan gk usah mikir yang aneh-aneh ya. Mas harus fokus pada pengobatan Mas, lihatlah, pipi mu sekarang semakin berisi daripada beberapa bulan yang lalu." Ucap Elsa sembari mengusap pipi Ivan yang ada di hadapannya.
"Mas harus sembuh untuk menyambut 'dia' ketika lahir nanti. Mas pasti sudah sembuh ketika 'dia' lahir ke dunia ini." Ucap Elsa sembari mengelus perutnya.
Ivan pun tersenyum, ia mengubah posisinya duduk di samping Elsa. Berkali-kali ia mengecup perut buncit istrinya, gerakan lembut terasa disana.
"Nak, ini Ayah. Kamu mendengarnya kan? Jangan nakal dan menyusahkan Mama ya Nak. Kamu harus kuat dan sehat seperti Kakak Rafa." Bisik Ivan di hadapan perut Elsa.
Elsa tergelak setelah mendengar ucapan Ivan. Ia menepuk bantal yang ada disampingnya, sebuah kode untuk Ivan agar ia membaringkan tubuhnya disamping Elsa.
Lagi dan lagi, Ivan meraih tubuh Elsa kedalam dekapannya. Ia tak henti untuk mengecup puncak rambut yang harum ini. Semua cintanya telah di curahkan kepada Elsa malam ini.
"Apapun jenis kelamin anak kita nanti, aku harap dia mirip denganmu. Aku tidak mau kamu kembali protes jika anak kedua kita nanti mirip denganku seperti Rafa." Ivan berkelakar, hal itu membuat Elsa tertawa renyah malam ini.
Elsa menikmati dekapan Ivan saat ini. Ia sangat bersyukur karena keadaan Ivan berangsur membaik. Badai yang sempat menerpa rumah tangganya kini telah berganti dengan sebuah anugerah terindah dari sang pencipta. Hadirnya buah cinta keduanya dan kesembuhan Ivan setelah beberapa bulan sakit.
Perlahan Elsa menutup kelopak matanya karena tak kuasa untuk melawan rasa kantuk yang mulai menyerangnya. Ia tertidur pulas dalam tempat ternyaman selama ini. Alam mimpi pun sudah menanti kedatangannya.
***
Ivan mencoba untuk memejamkan matanya lagi, namun semua itu tak bisa di lakukannya. Ia pun memutuskan duduk bersandar di ranjangnya, tangannya meraih tasbih kecil yang ada di atas meja kecil yang ada disamping ranjang.
" Ya Allah,Ya karim ... Ya Allah, Ya karim ..." Itulah yang di ucapkan oleh Ivan dalam hitungan tasbihnya. Ia terus berdzikir tanpa kenal lelah.
Ivan terus terjaga dengan bibir yang terus mengucapkan dzikir sampai suara adzan subuh berkumandang. Ia menghentikan dzikirnya dan meletakkan kembali tasbihnya di atas meja.
"Sayang, bangunlah!" Ucap Ivan sembari menggoyangkan tubuh Elsa.
"Jam berapa Mas? Aku masih ngantuk." Ucap Elsa dengan kelopak mata yang masih tertutup rapat.
"Hampir setengah lima Sayang, buruan mandi dan sholat subuh ya." Kini Ivan mengusap lembut pipi Elsa.
Perlahan Elsa mengerjapkan matanya, ia menatap wajah Ivan yang tengah tersenyum degan sejuta perasaan yang menggelora. Elsa mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, meregangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Aku mandi dulu ya Mas." Ucap Elsa sebelum berjalan menuju pintu kamar.
__ADS_1
"Sayang ..." Ucap Ivan yang berhasil membuat Elsa menghentikan langkahnya, ia kembali menatap Ivan yang sedang merebahkan tubuhnya.
"Sebelum mandi berikan aku morning kiss seperti yang ada di film romantis." Ucap Ivan.
Elsa tersenyum geli mendengar permintaan Ivan, ia pun kembali menghampiri Ivan yang ada di ranjang. Cup ... satu kecupan mendarat di kening Ivan, diikuti dengan senyum manis setelahnya.
"Good morning, Ayah." Ucap Elsa sembari menatap manik hitam Ivan.
Setelah memberikan sebuah kecupan mesra kepada Ivan, Elsa segera berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menunaikan dua rakaatnya.
Iima belas menit telah berlalu begitu saja, Elsa pun sudah menyelesaikan kegiatannya di dalam kamar mandi. Ia berjalan menuju kamarnya untuk mengganti dasternya.
" Ya ampun, baru aja nyuruh mandi. Sekarang malah tidur." Gerutu Elsa ketika melihat Ivan memejamkan matanya.
Elsa berjalan menuju ranjangnya, ia duduk di pinggiran ranjang untuk membangunkan Ivan.
"Mas ..."
"Mas Ivan ..."
"Bangun yuk!"
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka 😍♥️
Maaf ya kalau di part ini terlalu banyak dialog😂 karena di part inilah makna Puncak cinta di jelaskan.😍 BTW anak kedua Ivan enaknya cwo apa cwe nih?? bantu jawab di kolom komentar yah😀
_
_
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1