
Jalanan kota masih sepi dari kendaraan bermotor, udara dingin terasa di Kota Mojokerto. Matahari pun masih malu untuk menampakkan sinarnya, siluet kuning terukir indah di langit timur.
Waktu masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Emran mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai di tempat tujuan. Di kursi belakang Bu Kana sedang sibuk menguras air matanya.
"Lebih cepat, Ran!" Perintah Pak Roni dengan wajah gusarnya.
Emran pun menginjak gas nya lebih dalam lagi. Laju kendaraan benar-benar diatas rata-rata. Semua yang berada dalam mobil terlihat panik dan diam dalam pikiran masing-masing.
Sepuluh menit, ya itulah waktu yang di tempuh Emran untuk sampai di tempat tinggal Ivan. Ia menghentikan mobilnya di depan halaman luas tetangga Ivan.
Bu Kana turun dari mobil dengan tubuh yang gemetar, apalagi ketika melihat banyak orang ada di depan rumah besannya. Bendera kuning pun berkibar disana.
Tubuh Bu Kana menjadi lemas saat beliau baru sampai di depan pintu, air matanya tak henti untuk menetes ketika melihat tubuh yang terbaring diruang tamu dengan kain jarik sebagai penutupnya. Elsa pun ada disana, ia duduk di sisi tubuh yang terbujur dengan pandangan kosongnya.
"Elsa ..." Ucap Bu Kana ketika terduduk di depan pintu. Beliau tak dapat lagi menopang tubuhnya, kakinya menjadi tak bertenaga.
Elsa mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara yang sangat familiar di indera pendengarannya.
"Mama ..." Ucap Elsa dengan linangan air matanya.
Bu Kana merangkak menuju tempat Elsa berada. Beliau segera memeluk tubuh Elsa dengan segenap penyesalan yang mengguncang jiwanya.
"Mama ... maafin semua kesalahan Mas Ivan Ma.." Ucap Elsa di sela-sela tangisnya. Tubuhnya pun terguncang dalam dekapan hangat yang selama ini ia rindukan.
Bu Kana mengurai tubuh Elsa, beliau menatap wajah putrinya yang terlihat layu.
"Tidak Nak, tidak ... Ivan tidak memiliki salah apapun kepada Mama. Mama yang harus meminta maaf kepada suami mu." Bu Kana menggelengkan kepalanya. Beliau semakin histeris ketika Elsa membuka kain jarik yang menutupi wajah pucat Ivan.
Elsa berdiri dari tempatnya. Jiwa nya kembali terguncang melihat tubuh yang sudah tidak bernyawa di hadapannya.
"Mas Ivan ... bangunlah Mas!! lihatlah, Mama datang untuk mengunjungi kita Mas! Bukankah kamu ingin bertemu dengan Mama, Mas? ayo bangunlah Mas." Ucap Elsa yang kini menepuk Pipi Dingin Ivan.
Elsa masih belum bisa menerima keadaan yang menimpanya saat ini. Perginya Ivan yang mendadak membuatnya syok dan tak percaya.
__ADS_1
"Mas Ivan ... Bangun mas! Jangan pergi meninggalkan aku mas ..." Tangis Elsa kembali terdengar disana membuat siapapun yang berada disana ikut menangis haru.
"Kamu tidak boleh pergi Mas, kamu harus menyambut kelahiran anak kedua kita Mas!" Ucap Elsa yang masih memandang wajah Tak berdaya di hadapannya.
Bulir air mata semua orang yang ada di ruang tamu semakin mengalir deras setelah mendengar ucapan terakhir Elsa. Apalagi Bu Kana, beliau terus menangis tanpa sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun.
Pak Roni berjalan menghampiri putrinya, beliau menegakkan tubuh Elsa dan membalikkan tubuhnya. Tanpa kata yang terucap, Pak Roni memeluk tubuh putrinya itu.
"Kamu harus kuat, Nak! Kuatlah demi Rafa dan calon anak keduamu." Lirih Pak Roni. Beliau pun ikut menitikkan air matanya karena tak sanggup melihat kehancuran putrinya yang tersirat dari sorot matanya.
"Ivan hanya pura-pura kan Pa? dia belum pergi kan Pa?" Elsa mengurai tubuhnya, ia menatap Pak Roni dengan penuh harap.
"Tidak Nak, tidak ... suamimu sudah pergi. Kamu harus menerima semua ini ya, Nak. Ikhlaskan dia, biarkan dia bahagia di surga." Ucap Pak Roni sembari mengusap kepala putrinya yang terbalut kerudung hitam.
Tubuh Elsa luruh di atas karpet merah yang tergelar di ruang tamu. Ia kembali duduk disisi Ivan dengan air mata yang kembali turun dengan derasnya.
Emran tak sanggup untuk menyaksikan dua wanita yang ada dalam hidupnya banjir air mata, ia pun memutuskan keluar dari ruang tamu untuk mencari Rafa yang keberadaannya entah dimana. Keponakan kecil yang harus kehilangan ayahnya di usianya saat ini.
Beberapa menit kemudian, Bu Nurul keluar dari kamarnya. Beliau baru siuman dari pingsannya setelah tadi mengetahui putra semata wayangnya telah pergi ke pangkuan tuhan.
Lagi dan lagi, Bu Kana hanya menggelengkan kepalanya. Beliau tak sanggup lagi untuk menggerakkan bibirnya karena sudah terkunci dengan rasa bersalah dan penyesalan dalam dirinya.
Waktu terus berlalu begitu saja, satu persatu langkah telah di laksanakan. Kini tiba waktunya keberangkatan Ivan menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Kereta kencana yang beroda empat manusia siap berangkat menuju tempat peristirahatan Ivan, hanya menunggu Pak Ustad yang masih mengucapkan beberapa kata perpisahan.
Tangis Elsa kembali pecah ketika kereta kencana membawa suaminya pergi. Ia histeris di tempatnya, rangkaian kata pun kembali terdengar dari bibirnya.
"Mas Ivan benar-benar tega!! kenapa kamu tega meninggalkan aku dan Rafa!! bahkan kamu tega meninggalkan anak kita yang belum lahir ..." Semua yang mendengar ucapan Elsa menjadi terharu.
Para kerabat dan tetangga yang menyaksikan bagaimana Elsa tergugu pun menjadi tidak tega. Elsa di tinggal pergi suaminya dalam kondisi hamil. Ivan benar-benar pergi membawa cintanya, tanpa perduli tangisan Elsa yang membuat hati siapa saja yang mendengarnya bergetar.
"Sudah Nak, sudah ... ayo masuk Nak!" Ucap Bu Nurul yang kini mendekap tubuh Elsa.
__ADS_1
"Mungkin dengan cara ini Allah melepaskan Ivan dari rasa sakit yang di deritanya selama ini." Bu Nurul menguatkan Elsa agar bisa menerima semua yang terjadi saat ini, meski beliau sendiri pun merasa hancur.
Satu persatu tetangga Bu Nurul pamit untuk pulang. Menyisakan beberapa kerabat dekat saja yang kini berkumpul di ruang tamu. Bu Kana hanya diam dengan tatapan kosongnya disamping Elsa. Keduanya terlihat sangat terpukul dengan kepergian Ivan.
Empat puluh lima menit kemudian, Pak Roni, Pak Hamid dan Emran kembali ke rumah setelah prosesi pemakaman Ivan selesai. Mereka bertiga duduk di ruang tamu beserta keluarga lain yang sedang menguatkan Elsa.
"Elsa, apa yang sebenarnya terjadi dengan suami mu?" Akhirnya Pak Roni memberanikan diri bertanya kepada Elsa.
"Iya Nak, katakan dengan jujur, sebenarnya Ivan sakit apa?" Pak Hamid pun ikut bertanya, karena selama ini beliau tidak mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya. Ivan hanya mengatakan kepada Pak Hamid jika dirinya sakit tulang punggung.
"Kanker darah." Jawab singkat Elsa.
Semua orang yang ada di ruang tamu terkesiap mendengar dua kata yang di ucapkan oleh Elsa. Apalagi Bu Nurul dan Pak Hamid, mereka berdua lebih terkejut mendengar ucapan Elsa.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu kami, Nak? kenapa kamu menyimpan semua ini sendiri?" Tanya Bu Nurul dengan air mata yang kembali berjatuhan.
"Mas Ivan yang melarang saya untuk bicara." Jawab Elsa yang masih menunjukkan tatapan kosongnya.
Pak Roni mengusap kasar wajahnya, beliau benar-benar menyesal karena terlambat mengetahui semua ini. Pandangannya kembali terpusat pada putrinya yang tiba-tiba menangis dengan segala ucapannya.
"Kenapa Ivan tega meninggalkan Aku? bahkan kondisinya sudah membaik akhir-akhir ini. Kenapa tuhan melakukan semua ini padaku, setelah memberi sedikit kebahagiaan dengan pulihnya kondisi Mas Ivan, kini tuhan malah mengambil Mas Ivan untuk selamanya. Aku tidak menyangka tadi pagi ternyata mas Ivan berpamitan kepadaku lewat sebuah permintaan kecil, Morning kiss untuk terakhir kalinya." Ucap Elsa dengan tubuh lemah yang bersandar di tembok.
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka 😍♥️
Maafkan othor tega melakukan semu ini😭 baper banget nulis episode ini guys😭
_
_
__ADS_1
❤️