
Matahari tengah memancarkan sinarnya dengan penuh semangat, membuat siapa saja ingin bersembunyi dari sinarnya. Namun semua itu tak mengikis semangat seorang wanita paruh baya yang tengah mengintai besannya sendiri.
"Pak, tolong bapak masuk ke dalam ya. Ingat, bapak harus merekam kegiatan besan saya di dalam sana." Ucap Bu Kana pada supir pribadinya.
"Baik bu." Ucap Sang supir yang masih duduk di kursi kemudi.
"Saya tunggu di sini." Ucap Bu Kana.
Tak lama setelah itu, supir Bu Kana keluar dari mobil. Ia berjalan masuk ke dalam arena sabung ayam yang tertutup rapat.
Di hari minggu yang cerah ini, Bu Kana memutuskan untuk mengikuti Pak Hamid, beliau ingin memastikan sendiri apa saja yang di lakukan besannya.
Hampir tiga puluh menit, terlihat supir Bu Kana keluar dari arena sabung ayam itu. Buru-buru Supir Bu Kana masuk ke dalam mobil.
"Ini Bu video rekamannya...." Ucap Sang supir sembari memberikan ponsel berwarna hitam kepada bu Kana.
Mata Bu Kana membulat sempurna ketika menyaksikan apa saja yang Pak Hamid lakukan disana. Beliau menjadi geram melihat Pak Hamid yang mengeluarkan segepok uang berwarna merah muda dari tas yang di bawanya.
"Di dalam sana sangat ramai bu, itu memang sabung ayam kelas kakap. Ayam mahal banyak berjajar disana. Pak Hamid tadi sedang merawat ayam juragannya yang seperti orang cina itu Bu, saya tidak tahu uang yang di keluarkan Pak Hamid itu uang siapa, yang jelas taruhan disana bernilai fantastis Bu." Ucap Sang Supir sambil menatap wajah Bu Kana di spion mobil.
"Terima kasih Pak, sekarang kita pulang." Ucap Bu Kana yang masih menatap layar ponselnya.
Selama dalam perjalanan menuju rumahnya, Bu Kana beberapa kali menghubungi Bu Mala untuk memastikan rencananya. Beliau semakin pusing karena masalah ini. Otak dan hatinya sudah tidak bisa diajak bekerja sama lagi.
"Mungkin aku tidak perlu menunggu Papa pulang dari Jakarta untuk memutuskan semua ini. Aku rasa Papa akan setuju dengan keputusanku setelah tau apa yang di lakukan Pak Hamid." Gumam Bu Kana dalam hatinya.
Sementara itu di ruang keluarga yang begitu nyaman, ada sepasang suami istri yang tengah menikmati waktu bersama, keduanya sedang asyik menyaksikan film yang terputar di layar televisi di hadapannya. Rafa tidur pulas di pangkuan Ivan.
"Sayang, minggu depan adalah pengumuman untuk karyawan yang di perpanjang kontraknya dan yang harus berhenti bekerja. Doakan aku ya, agar aku di kontrak lagi sama pabriknya." Ucap Ivan yang kini menatap Elsa.
__ADS_1
"Aku selalu mendoakan mu Mas, jangan terlalu di pikirkan untuk masalah itu. Kalaupun nanti kamu tidak lolos, kita bisa membangun usaha sendiri kan?" Elsa berusaha menyemangati suaminya agar tidak terlalu banyak pikiran.
"Kamu dulu kan pernah kerja di Home industri pembuatan sepatu kulit, kenapa kita tidak mencoba untuk membuka usaha itu sendiri?" Ucap Elsa.
"Kita harus punya modal yang banyak untuk bisa membuka usaha pembuatan sepatu, tabunganku tidak sebanyak itu, Sayang." Ucap Ivan sembari mengusap rambut hitam Elsa.
"Jangan terlalu di pikirkan, aku punya banyak tabungan. Uang bulanan yang kamu berikan banyak yang aku masukkan ke rekening tabungan Mas, cukuplah untuk kita membuka usaha." Ucap Elsa dengan senyum manis yang terpampang di wajahnya.
Sejenak pikiran Ivan melayang jauh setelah memikirkan saran dari Elsa. Ia mulai membayangkan apa saja yang harus ia lakukan jika benar-benar berhenti bekerja di pabrik. Semua lamunan itu hilang begitu saja tatkala Ivan mendengar suara pintu ruang tamu yang di tutup dengan keras.
Mereka berdua menatap ke arah ruang tamu, dimana terdengar langkah kaki Bu Kana sedang berjalan masuk ke dalam rumah.
Elsa mengerutkan keningnya ketika melihat wajah Bu Kana yang menyiratkan sebuah amarah yang terpendam. Ia menunggu Sang Mama yang masih mengatur posisi duduk di sofa yang ada di sampingnya.
"Mama kenapa?" tanya Elsa.
Bu Kana hanya diam, beliau menghela nafasnya yang berat, mata nyalangnya kini terpejam untuk menata semua rencana yang akan di bahas setelah ini.
Ivan meraih remote yang ada di meja, ia menekan tombol off yang terarah ke layar televisinya agar tidak mengganggu Bu Kana yang terlihat resah.
"Mama ingin bicara serius dengan kalian." Ucap Bu Kana setelah beberapa menit terdiam.
"Silahkan Ma." Ucap Elsa.
Lagi dan lagi Bu Kana menghela nafasnya, beliau menatap Elsa dan Ivan bergantian, lalu beliau juga menatap bayi mungil yang tengah terlelap dalam pangkuan Sang Ayah.
"Sejujurnya Mama sangat kecewa kepada keluargamu Van." Ucap Bu Kana yang membuat Ivan melebarkan matanya karena terkejut dengan apa yang baru saja di ucapkan mertuanya.
"Kenapa ma?" Akhirnya Ivan mengeluarkan suaranya setelah terdiam.
__ADS_1
"Saya sangat terganggu dengan pekerjaan orangtuamu Van, bagaimana bisa Ayahmu ikut judi sabung Ayam bersama Pak Budi." Ucap Bu Kana dengan nada yang mulai naik.
"Saya tadi mengikuti ayahmu untuk membuktikan kebenarannya. Setelah saya mendengar perbincangan Ayahmu dan Pak Budi ketika ada acara tingkepan disini, saya mulai mencari tahu tentang pekerjaan ayahmu." Bu Kana menatap Ivan dengan intens.
"Dan hasilnya memang benar, ayahmu seorang tukang judi sabung ayam." Ucap Bu Kana. "Ini bukti yang saya dapatkan hari ini." Lanjut Bu Kana sembari memberikan ponselnya kepada Ivan.
Ivan menatap video yang terputar di benda pipih yang ada di tangannya, ia mengamati apa saja yang di lakukan Ayahnya dalam video itu.
"Ayah saya tidak pernah judi Ma, beliau hanya bekerja di peternakan Pak Budi. Dan tentang Ayah saya yang mengeluarkan uang dari tas tersebut, sungguh itu bukan tas ayah saya Ma." Ivan menjelaskan apa yang ia ketahui selama ini.
Bukannya percaya, Bu Kana malah terperanjat dari tempatnya setelah mendengar penjelasan Ivan. Beliau menatap Ivan dengan penuh amarah.
"Jangan membela Ayah kamu yang salah itu, Ivan!" teriak Bu Kana.
"Saya tidak membela Ma, tapi memang seperti itu adanya. Ayah saya tidak pernah bermain judi apapun Ma, Ayah memang mengikuti Pak Budi kemanapun beliau pergi karena ayah saya yang merawat ayam-ayam Pak Budi." Sekali lagi Ivan menjelaskan apa yang selama ini dilakukan oleh Pak Hamid dengan mata yang berembun, ia sedih melihat Bu Kana menuduh Ayahnya seperti itu.
Bu Kana mendengus kesal karena Ivan berani melawan ucapannya. Amarah yang semakin besar kini menyelimuti dirinya.
"Kemasi barang-barang anakmu El, semua baju dan keperluannya sekarang juga!" Perintah Bu Kana yang kini beralih menatap Elsa.
_
_
Hhmmm ada apakah setelah ini?? coba tebak guys Bu Kana mau ngapain??
Selamat membaca kak, semoga suka😍♥️
_
__ADS_1
_
❤️❤️❤️❤️❤️