
"Kemasi barang-barang anakmu El, semua baju dan keperluannya sekarang juga!" Perintah Bu Kana yang kini beralih menatap Elsa.
Elsa tertegun mendengar perintah Bu Kana, ia bingung dengan apa yang sebenarnya di inginkan oleh mamanya. Ia masih diam sembari menatap dalam manik hitam wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
"Kamu tidak dengar Elsa? Apa perintah Mama kurang jelas di indera pendengaran kamu?" Ujar Bu Kana yang sedang bersekedap di samping Elsa.
"Untuk apa Ma? kenapa Elsa harus mengemas barang-barang Rafa?" Tanya Elsa yang masih tenang di tempatnya.
"Mama akan menitipkan Rafa di rumah Bude Mala, disana Mama akan menyewa baby sister yang profesional untuk mengasuh Rafa." Ucap Bu Kana tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Omong kosong macam apa ini Ma?" Tanya Elsa yang emosinya mulai terpancing.
"Iya, ini lah yang selama ini Mama rencanakan. Mama tidak ingin Rafa berada di lingkungan yang kurang bagus. Apalagi jika Rafa nanti sampai dekat orangtuamu Van." Ucap Bu Kana dengan jari telunjuk yang mengarah ke tempat Ivan berada saat ini.
"Saya tidak mau jika cucu saya nanti tahu bahwa kakeknya seorang tukang judi sabung ayam. Jadi biarkan Rafa di besarkan di Surabaya bersama keluarga besar Mama." akhirnya Bu Kana mengungkapkan rencana yang di susunnya selama ini.
Ivan terperanjat dari tempat duduknya saat ini, matanya mengisyaratkan sorot kemarahan yang besar dalam dirinya.
"Sampai kapanpun saya tidak akan membiarkan Rafa jauh dari saya, Ma. Saya bisa terima jika Mama menghina ataupun memaki saya selama ini, tapi saya tidak terima jika Mama terus menyudutkan orangtua saya. Karena orangtua saya tidak pernah melakukan apapun seperti yang tadi Mama tuduhkan." Ucap Ivan dengan mata yang menatap Bu Kana.
Elsa melebarkan matanya ketika melihat suaminya berkata seperti itu kepada Bu Kana, baru kali ini ia melihat Ivan melawan orangtuanya.
"Mama tidak punya hak untuk memisahkan Elsa dengan Rafa!" Kini Elsa berganti mengeluarkan suaranya. Emosi dua wanita beda generasi kini sama-sama meledak, Elsa tidak bisa menahan emosinya lagi.
Tanpa sepatah kata pun, Ivan berjalan menyusuri anak tangga menuju kamarnya. Ia membawa tubuh mungil Rafa dalam dekapannya, meninggalkan Elsa yang berdebat dengan Bu Kana di ruang keluarga. ia tidak ingin putranya yang belum genap berusia satu bulan ini mendengar sebuah perdebatan.
Sesampainya di kamar, Ivan duduk di atas ranjang kamarnya sembari menatap Rafa yang tertidur pulas, matanya mulai berembun membayangkan jika Rafa jauh darinya.
"Ayah tidak akan membiarkan kamu pergi kemana-mana Rafa, Ayah dan Mama akan terus bersamamu." Lirih Ivan setelah beberapa kali mengecup kening Rafa.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Elsa berjalan masuk untuk menghampiri anak dan suaminya. Ia menangis tergugu di samping Ivan, ia tertunduk meratapi jalan hidupnya sendiri.
__ADS_1
Ivan beranjak dari tempatnya, ia menidurkan Rafa di box bayi yang tak jauh dari ranjangnya karena Ivan tidak ingin tidur nyenyak Rafa terganggu dengan tangisan Elsa.
Kini Ivan berdiri di hadapan Elsa, ia menatap istrinya yang masih tergugu. Diusapnya rambut hitam Elsa dengan penuh kasih sayang yang selama ini ia berikan.
"Sudah jangan menangis lagi ya, menangis tidak akan menyelesaikan masalah." Lirih Ivan
"Maafkan Mama, Mas." Ucap Elsa yang kini melingkarkan kedua tangannya di pinggul Ivan.
Ivan menghela nafasnya, ia sendiri tengah menekan emosi yang ada pada dirinya agar tidak ikut meledak seperti Bu Kana.
"Elsa..." Ucap Ivan sambil melepas tangan Elsa yang ada di pinggulnya. Ia kembali duduk di ranjang sembari menatap wajah sembab istrinya.
"Ada apa, Mas?" Tanya Elsa ketika melihat wajah serius Ivan.
"Jika Mama tetap pada pendiriannya, apa kamu mau ikut aku keluar dari rumah ini?" Tanya Ivan.
"Aku sudah tidak kuat lagi menghadapi Mama ketika orangtuaku di tuduh seperti itu, apalagi sampai Mama tega memisahkan Rafa dari kita hanya karena kesalahpahaman." Ujar Ivan sembari membenahi poni Elsa yang berantakan.
"Kalau begitu, mari aku bantu untuk mengemas barang-barang kita. Jika nanti Mama masih tetap pada pendiriannya, kita bisa langsung pergi dari rumah ini." Ucap Ivan sebelum berdiri dari ranjang yang ia tempati.
Elsa mengikuti langkah Ivan menuju almari besar miliknya, kemudian Ivan menurunkan koper besar yang ada di atas almari untuk di isi pakaiannya dan Elsa.
"Jangan menelfon Papa ataupun Kak Emran, biarkan Papa fokus dengan pekerjaannya." Ucap Ivan sembari menata seragam kerjanya di dalam koper.
"Lebih baik kamu telfon Bunda atau Ayah, biar Ayah yang menjemput kita, nanti biar Ayah menyewa mobil rental karena Rafa belum bisa diajak naik motor. Aku tidak ingin membawa mobil pemberian Mama." Ujar Elsa yang kini sedang mengambil beberapa pakaian miliknya.
Ivan tidak menjawab ucapan Elsa, ia masih memikirkan saran dari Elsa, haruskan ia memberi tahu keluarganya jika saat ini mereka dalam masalah? Entahlah, Ivan belum bisa memutuskan ide dari Elsa.
...💠💠💠💠...
Tepat pukul setengah tujuh malam, Pak Hamid dan Bu Nurul sampai di rumah megah besannya dengan membawa mobil rental yang beliau sewa dari tetangganya.
__ADS_1
"Mas Alan, tolong tunggu disini saja ya, saya tidak akan lama." Ucap Pak Hamid kepada supir rental yang ada di kursi kemudi.
"Iya Pak." Ucap Alan sembari menganggukkan kepala.
Setelah tadi sore menerima telfon dari Ivan, Bu Nurul sudah tidak sabar lagi untuk menjemput anak dan cucunya. Jujur saja, beliau ingin sekali mencaci Bu Kana yang angkuh itu.
"Assalamualaikum...." Ucap Bu Nurul dan Pak Hamid bebarengan.
"Waalaikumsalam." Jawab Ivan dan Elsa yang kini berada di ruang tamu.
"Oh, jadi kamu minta di jemput ayah kamu, Van?" Tanya Bu Kana yang menatap Ivan dengan tatapan tajamnya.
Beberapa menit sebelum Pak Hamid datang, Elsa dan Ivan kembali berdebat dengan Bu Kana tentang Rafa. Bu Kana tetap pada pendiriannya ingin menitipkan Rafa di Surabaya.
"Iya, saya ingin menjemput anak menantu dan cucu saya, Bu." Kini Bu Nurul yang berbicara.
"Kalian mau Rafa berada di lingkungan yang kotor hmm?? saya tidak rela cucu saya berada di lingkungan kalian!" Sebuah kalimat menyakitkan yang berhasil keluar dari bibir seorang Bu Kana yang sudah lepas kontrol.
Dan apa yang sejak tadi di khawatirkan Ivan terjadi juga, Bu Nurul bertengkar hebat dengan Bu Kana karena beliau tidak rela harga diri keluarganya di jatuhkan oleh Bu Kana.
"Cukup Ma!! cukup!!" Teriak Elsa yang sudah tidak tahan mendengar perdebatan yang terjadi diantara kedua ibunya.
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka😍♥️
_
_
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️