
"Bunda, doakan ujian Ivan hari ini lancar Bund." Ucap Ivan sebelum berangkat ke kampusnya.
"Iya Nak, semoga nilai kamu bagus ya." Ucap Bu Nurul sembari mengusap kepala Ivan dengan seluruh cinta dan kasihnya.
Ya, hari ini adalah ujian terakhir Ivan di semester empat. Waktu telah membawanya sampai di dua tahun masa kuliahnya. Tiada kata lelah untuk seorang Ivan Ardiansyah yang bertekad intuk menjadi sarjana dan sukses di masa depan.
Dua tahun sudah Ivan dan Elsa menjalani long distance relationship atau biasa di sebut LDR. Sejauh ini hubungan mereka baik-baik saja, dan tentunya mereka harus lebih pandai mencuri waktu untuk bertemu.
Rasa rindu yang begitu besar sering di rasakan oleh keduanya, hanya suara yang bisa mengobati rasa rindu itu di malam hari, ketika mereka berbicara lewat sambungan telfon.
Langit telah berubah menjadi gelap, namun Pak Hamid belum pulang dari pabrik tempatnya bekerja. Setelah kepergian Ivan, Bu Nurul memutuskan untuk menunggu suami yang sangat di cintai nya itu di teras rumah yang terasa nyaman ini.
"Tidak biasanya Ayah telat pulang sampai jam segini." Gumam Bu Nurul sembari menengok jam dinding berwarna biru yang ada di ruang tamu yang menunjukkan pukul tujuh malam.
Tiga puluh menit kemudian, terdengar suara motor Pak Hamid yang semakin dekat di indera pendengaran Bu Nurul. Senyum merekah terbit dari bibirnya untuk menyambut Pak Hamid yang sedang termangu di atas motornya. Ekspresi wajah sedih tergambar di wajah yang mulai banyak kerutannya itu.
"Ayah. Kenapa masih duduk di situ?" Tanya Bu Nurul ketika melihat sang Suami yang enggan untuk beranjak dari motornya.
Pak Hamid menghela nafasnya, beliau turun dari atas motor dan berjalan menghampiri Sang Istri.
"Ayah mandi dulu gih! Bunda mau nyiapin makan malam untuk Ayah ya..." Ucap Bu Nurul ketika berada di ruang tengah rumahnya.
"Tolong bikinin Ayah wedang jahe Bund!" Ucap Pak Hamid sebelum berlalu pergi menuju kamar mandi.
"Wedang jahe?" Gumam Bu Nurul sembari menatap pintu kamar mandi yang perlahan tertutup.
Bu Nurul menaikkan satu alisnya, beliau menerka apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya. Hanya di saat sedang banyak beban fikiran Pak Hamid meminta Bu Nurul untuk membuatkan segelas wedang jahe untuk menenangkan pikirannya.
Makam malam telah selesai, namun Pak Hamid masih diam seribu bahasa. Sebuah tatapan kosong tergambar jelas dari sorot netra teduhnya selama ini.
"Ayah kenapa?" Bu Nurul menggenggam tangan kanan Pak Hamid.
Mendengar suara Bu Nurul yang sangat lembut, membuat Pak Hamid tersadar dari lamunannya. Pak Hamid menatap Bu Nurul dengan segala kerisauan hati yang siap untuk di utarakan.
__ADS_1
"Pabrik tempat Ayah bekerja bangkrut Bund. Semua buruh di PHK tanpa pesangon. Tadi sempat demo disana, namun hasilnya nihil." Akhirnya Pak Hamid menceritakan masalah yang sejak tadi ada dalam fikirannya.
Bu Nurul tertegun mendengar penuturan suaminya, beliau terkejut mendengar sebuah berita yang di bawa oleh suaminya, dan wajah ceria Ivan seketika menari-nari dalam pikirannya.
"Ayah bingung harus bagaimana? Ivan masih butuh banyak biaya untuk pendidikannya Bunda. Ayah tidak tega jika Ivan tahu Ayah sudah tidak bekerja lagi." Lanjut Pak Hamid dengan wajah sedihnya.
Bu Nurul pun begitu, beliau juga menjadi sedih ketika Pak Hamid menyebut nama Ivan. Bagaimana bisa Ivan melanjutkan kuliah nya jika Pak Hamid tidak ada penghasilan setiap bulannya.
"Ayah tau Bund, Ivan juga bekerja. Tapi Ayah tidak tega jika Ivan harus membiayai kuliah nya sendiri." Ucap Pak Hamid dengan wajah frustasi nya.
"Ayah... Jangan terlalu di fikirkan untuk masalah ini. Meskipun Ayah tidak bekerja di pabrik lagi, kita pasti bisa kok membiayai pendidikan Ivan." Bu Nurul tersenyum sembari menatap wajah sedih Pak Hamid.
"Kita bisa mengembangkan ternak ayam kita Yah. Kita harus yakin kalau kita bisa membahagiakan Ivan Yah." Lanjut Bu Nurul dengan kedua telapak tangan yang menggenggam tangan Pak Hamid.
Bu Nurul terus menatap Pak Hamid yang sedang berbicara tentang rencana ke depan mereka. Tepat pukul sembilan malam Bu Nurul mengajak Pak Hamid masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
...💠💠💠💠...
Hari terus berganti, satu bulan telah berlalu. Satu minggu setelah di PHK, Pak Hamid akhirnya memutuskan untuk menjadi tukang ojek demi kelangsungan hidup keluarga kecilnya. Himpitan ekonomi membuat Pak Hamid harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
"Kapan kamu masuk kuliah, Van?" Tanya Bu Nurul untuk mengusir rasa khawatirnya.
"Minggu depan Bund." Jawab Ivan tanpa menatap Sang Bunda. Sejak tadi ia terus menghubungi nomor ponsel Pak Hamid, namun belum ada jawaban.
Setelah mendengar Pak Hamid tidak lagi bekerja di pabrik, ia sempat berfikir untuk berhenti kuliah dan mencoba mencari pekerjaan di Ngoro Industri dengan berbekal ijazah SMA. Namun semua itu di urungkannya ketika Bu Nurul dan Pak Hamid meyakinkan dirinya bahwa mereka bisa membiayai kuliah nya.
"Van. Ayah kemana ya, jam segini kok belum pulang?" Tanya Bu Nurul ketika jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
"Sabar Bund, jangan panik dulu. Mungkin ayah nganterin penumpangnya agak jauh." Ucap Ivan dengan tenangnya. Walau ia sendiri di selimuti rasa panik.
Suara mobil kijang berwarna merah yang masuk ke halaman rumah, membuat Bu Nurul dan Ivan mengalihkan pandangannya. Mereka berdua menerka siapa yang datang di jam seperti ini.
"Ayah...." Bu Nurul dan Ivan sama-sama berdiri ketika melihat Pak Hamid keluar dari mobil merah dengan di papah dua orang pria asing.
__ADS_1
Bu Nurul tertegun di tempatnya ketika melihat keadaan suaminya yang penuh dengan luka serta tangan yang di balut perban elastis bewarna coklat. Setetes air mata lolos dari pelupuk matanya.
"Ayah. Kenapa bisa begini yah?" Lirih Bu Nurul ketika Pak Hamid sudah duduk di ruang tamu bersama dua orang yang mengantar pulang suaminya tadi.
"Maaf Pak, Bu... kami harus segera pulang karena sudah malam." Ucap Salah satu pria berpostur tinggi dan berisi.
"Terima kasih Pak, sudah mengantar saya pulang ke rumah. Maaf saya harus merepotkan bapak." Ucap Pak Hamid dengan suara lemahnya.
Ivan dan Bu Nurul mengantar dua orang pria yang mengantar pulang Pak Hamid. Setelah mobil kijang itu berlalu, mereka berdua segera masuk ke dalam ruang tamu.
"Ayah, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ivan yang tengah bersimpuh di dekat Pak Hamid.
"Tadi pagi Ayah menjadi korban tabrak lari di daerah Kutorejo Van. Lalu ayah di bawa ke Rumah sakit yang ada di trawas Van." Pak Hamid menceritakan detail kejadian yang menimpanya.
Raut kesedihan terlukis di wajah tampan Ivan. Ia benar-benar sedih melihat kondisi Sang Ayah. Tangan yang patah dan kaki yang tidak bisa di buat jalan karena cedera di pergelangan kakinya.
"Kenapa Ayah tidak di rawat di rumah sakit saja? kenapa Ayah tidak menghubungi Ivan?" Tanya Bu Nurul dengan suara yang menahan tangis.
"Ponsel Ayah hilang Bund, jadi Ayah tidak bisa menghubungi kalian. Untung saja kedua perawat tadi berbaik hati mau mengantar Ayah pulang." Ucap Pak Hamid.
"Besok pagi datanglah ke alamat ini Van. Ini alamat rumah salah satu perawat tadi yang mau memberi Ayah pinjaman untuk membayar biaya rumah sakit, jadi besok bayarlah hutang Ayah kepada Bapak tadi." Ucap Pak Hamid sembari menatap Ivan dan memberikan sebuah kartu nama kepadanya.
Ivan hanya menganggukkan kepalanya, lalu ia membantu Pak Hamid berjalan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat dan memulihkan kondisinya yang masih lemah.
_
_
_
Happy Reading Kak, semoga suka😍♥️
_
__ADS_1
_
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️