PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
First kiss...


__ADS_3

"Bunda, Ivan minta maaf ya... Ivan tidak lolos seleksi di perguruan tinggi negeri bund." Ucap Ivan ketika baru saja pulang dari Surabaya untuk melihat hasil tes di Universitas Negeri Surabaya.


Satu minggu setelah wisuda, Ivan mengikuti tes di beberapa Universitas Negeri. Semangat belajar yang membara, berkobar dalam dirinya.


"Mungkin belum rezeki nya Van. Bunda tidak masalah kok kalau kamu tidak bisa masuk di Negeri." Ucap Bu Kana sembari menata adonan kue kering yang baru saja selesai di buatnya.


"Kalau begitu Ivan kuliah di Mojokerto saja ya Bund. Nanti Ivan daftar ke kampus swasta saja biar bisa cari kerja freelance." Ujar Ivan sembari menatap Sang Bunda.


Bu Nurul hanya tersenyum mendengar ucapan putra semata wayangnya. Beliau terharu mendengar ucapan sang putra yang akan bekerja sambil kuliah. Sungguh rasanya ingin menangis, ketika Bu Nurul menatap wajah tampan putranya.


"Van, kamu tidak usah kerja. Ayah dan Bunda pasti bisa membiayai kamu kuliah. Jadi kamu harus fokus belajar ya!" Ucap Bu Nurul sembari mengusap tangan Ivan dengan penuh kasih sayang.


Ivan hanya tersenyum untuk menjawab ucapan sang Bunda. Dalam hatinya ia bertekad untuk mencari pekerjaan sampingan untuk membantu kedua orangtuanya membiayai kuliahnya nanti.


...💠💠💠💠...


Dua bulan kemudian....


Hari terus berganti, waktu demi waktu telah berlalu. Tidak terasa dua hari lagi Elsa akan pindah ke Surabaya karena ia sudah mulai masuk ke kampusnya untuk mengikuti ospek.


Setelah Bu Kana menerima permintaan Elsa untuk memberi kebebasan kepadanya, hampir setiap hari Elsa bersenang-senang dengan Ivan dan juga teman sekolah lainnya. Ia menggunakan sisa waktunya dengan baik sebelum tinggal di kandang singa Komalasari setelah ini.


Pagi ini Elsa mulai mengemas beberapa barang ke dalam koper. Dengan wajah yang masam ia memasukkan boneka pemberian Ivan di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas kemarin.


"Hanya kamu yang bisa aku peluk ketika aku merindukan Ivan nanti." Gumam Elsa sembari menoel kepala boneka berwarna coklat itu.


Setelah semua barang masuk ke dalam koper, Elsa merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya. Pikirannya berkelana entah kemana. Banyak hal yang di pikirkan nya saat ini, termasuk sosok laki-laki yang selama ini ada di hatinya, Ivan Ardiansyah.


"Mumpung masih pagi, mending ke rumahnya Ivan nih." Gumam Elsa ketika tatapannya beralih ke jam weker yang ada di nakas yang menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Elsa segera meraih kunci mobil dan tas slempang nya untuk segera berangkat ke rumah Ivan. Tak lupa ia sedikit memoles wajahnya dengan bedak dan lipgloss miliknya.


Lima belas menit kemudian Elsa sudah sampai di halaman rumah Bu Nurul. Ia segera turun sembari menenteng kantong berwarna putih yang berisi makanan yang di beli nya di pinggir jalan.


"Assalamualaikum...." Ucap Elsa ketika sudah berdiri di depan pintu yang terbuka.


"Waalaikumsalam...." Terdengar suara wanita yang sangat familiar di indera pendengaran Elsa.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian muncullah pemilik suara itu yang tak lain adalah Bu Nurul. Beliau tersenyum ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Elsa...." Ucap Bu Nurul.


"Mari masuk Nak." Ajak Bu Nurul yang berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan diikuti Elsa di belakangnya.


"Duduk El, Ibu mau ke belakang sebentar." Ucap Bu Nurul sebelum masuk ke dalam rumahnya.


Elsa menganggukkan kepalanya dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya. Ia duduk di sofa yang ada di pojok ruang tamu.


Beberapa menit kemudian Bu Nurul keluar dengan membawa dua gelas minuman dingin dan beberapa camilan untuk Elsa.


"Ibu mau kemana?" Tanya Elsa ketika melihat Bu Nurul keluar dengan baju yang berbeda. Beliau sudah terlihat rapi dengan hijab panjangnya.


"Ayo di minum dulu El! Ibu mau ke pengajian rutin dulu El, ada di RT sebelah." Ucap Bu Nurul sembari menata makanan dan minuman di atas meja.


"Ivan kemana ya Bu?" Tanya Elsa karena sejak tadi ia tidak melihat batang hidung kekasihnya itu.


"Ivan keluar sebentar El, tadi ibu suruh beli pupuk untuk tanaman yang ada di belakang." Ucap Bu Nurul.


"El, kamu ibu tinggal sendiri gak papa kan? Ibu harus berangkat sekarang nih!" Ucap Bu Nurul ketika mendengar suara tetangga yang memanggil namanya untuk berangkat bersama ke pengajian rutin.


Setelah berpamitan kepada Elsa, Bu Nurul segera berangkat ke tempat pengajian. Tak ada rasa khawatir meninggalkan Elsa dan Ivan di rumah berdua, karena sejauh ini hubungan mereka masih dalam batas normal.


Beberapa menit setelah Bu Nurul berangkat, terdengar suara motor berhenti di depan rumah sederhana Bu Nurul. Sudah bisa di tebak siapa pemilik motor itu.


"Elsa...." Ucap Ivan ketika masuk ke dalam rumahnya.


Sebelum duduk di ruang tamu bersama Elsa, ia meletakkan pupuk yang di beli nya dan tak lupa cuci tangan terlebih dahulu.


"Sudah lama?" Tanya Ivan ketika sudah mendaratkan tubuhnya di samping Elsa.


"Belum Van. Sepuluh menit yang lalu." Ucap Elsa sembari meletakkan ponselnya di atas meja. Ia mengubah posisi duduknya menghadap Ivan.


Bahagia, itulah yang di rasakan oleh Elsa ketika bisa bertemu dan duduk bersama dengan Ivan. Ia akan terus tersenyum sembari menikmati ciptaan tuhan yang begitu indah di hadapannya.


"Van, hari ini terakhir kali nya kita bertemu. Setelah ini kita akan sulit untuk bertemu Van." Ucap Elsa dengan wajah sendu nya.

__ADS_1


Ivan hanya diam sembari memandang Elsa yang sudah merubah ekspresi wajahnya. Entahlah, setelah mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Elsa, membuat hati dan pikirannya tidak tenang.


"Elsa, jaga hatimu ketika jauh dari aku. Disana akan banyak laki-laki yang lebih dari aku." Ucap Ivan sembari menggenggam telapak tangan Elsa.


"Iya Van. Jangan khawatirkan hal itu. Aku akan selalu menjaga hubungan kita, dan aku harap kamu juga melakukan hal yang sama Van." Elsa menatap wajah tampan Ivan yang saat ini terlihat memikirkan sesuatu.


Keduanya saling pandang dalam diam, Ivan terus memandang paras cantik kekasih yang sangat di cintainya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Elsa. Entah darimana datangnya keberanian itu hingga Ia berani mengecup kening Elsa yang berponi.


Mendapat hal romantis seperti itu, membuat Elsa memejamkan matanya untuk menikmati suasana romantis yang ada di sudut ruang tamu ini.


Elsa kembali membuka matanya tak kala merasakan bibir Ivan ada di bibirnya. Ia terkejut karena sebelum nya ia dan Ivan tidak pernah melakukan hal ini.


Berawal dari beberapa kali kecupan kini Elsa sedikit membuka bibirnya, hal ini membuat Ivan leluasa memainkan lidahnya di dalam sana. Elsa mengikuti permainan yang di lakukan oleh Ivan saat ini dengan dada yang berdebar kencang. Hawa panas menyeruak dalam dirinya.


Perlahan tapi pasti, mereka berdua sama-sama mel*mat satu sama lain. Bertukar saliva dengan mata yang sama-sama terpejam karena begitu menikmati ciuman pertama mereka.


Cukup lama mereka terbuai dalam indahnya rasa yang ada hingga Ivan melepaskan tautan bibirnya tak kala menyadari Elsa membutuhkan oksigen untuk bernafas.


"Kamu sudah mengambil ciuman pertamaku Van." Ucap Elsa dengan suara yang lirih dan wajah yang memerah karena malu.


"Kita sama-sama kehilangan ciuman pertama kita El, maafkan aku telah melakukan ini padamu karena hanya ini yang bisa membuatku tenang melepas mu jauh dariku." Ucap Ivan sembari menatap manik hitam milik kekasihnya yang baru saja kehilangan ciuman pertamanya.


Ivan tersenyum ketika wajah Elsa semakin memerah setelah mendengar ucapannya.


"Aku mencintaimu Elsa...." Ucap Ivan sambil mengusap bibir basah Elsa dengan jarinya.


_


_


_


Happy reading kak, semoga suka♥️😍


_


_

__ADS_1


_


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2