
Satu minggu telah berlalu begitu saja. Pagi ini cuaca di Kota Malang sedang tidak bersahabat. Penunjuk waktu sudah berada di angka sepuluh pagi, namun sang surya masih bersembunyi di balik awan mendung. Perlahan air hujan mulai berjatuhan, membuat siapapun enggan untuk melakukan aktivitasnya.
Seperti Emran saat ini, ia masih saja menyembunyikan tubuh polosnya di balik selimut tebal miliknya. Meski berulang kali Dina mencoba membangunkannya, tetap saja ia enggan untuk membuka kelopak matanya.
"Baby, aku lapar ... biarkan aku bangun." Rengek Dina yang ada dalam dekapan tubuh Emran.
"Aku masih ingin seperti ini, Bay. Lagian diluar hujan, kang sayur gak bakal lewat." Ucap Emran tanpa membuka kelopak matanya.
Dina mendengus kesal karena perutnya sudah tidak bisa di kompromi lagi. Ia menggigit lengan Emran agar ia bisa lepas dari dekapan sang suami.
"Ahhhh ... sakit Bay!" Teriak Emran. Kali ini ia membuka kelopak matanya. Tangannya menggosok lengan yang baru saja di gigit oleh istrinya.
Dina segera beranjak dari ranjang, ia memakai piyama yang berserakan di lantai kamarnya.
"Salah sendiri diajak bangun gak mau!" Ucap Dina sembari berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian, Dina keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit rambutnya. Ia melihat Emran sudah berdiri di depan jendela kamar.
"Kamu ingin sarapan apa, Beb? " Tanya Dina yang kini membuka almari untuk mencari bajunya.
"Terserah Bay, apapun aku mau asal makannya berdua denganMu." Ucap Emran yang kini berjalan menuju tempat Dina berada.
Dina tersenyum simpul mendengar penuturan suaminya. Ia segera memakai bajunya sebelum Emran kembali menerkamnya.
"Aku mencintaimu Bay. Tetaplah bersamaku." Ucap Emran di ceruk leher sang istri. Ia memeluk tubuh putih istrinya dari belakang.
"Aku juga mencintaimu. Tapi saat ini cinta tak bisa membuatku kenyang Baby ..." Ucap Dina sambil membalikkan tubuhnya menghadap Emran.
Ia tersenyum sembari mengusap lembut pipi milik Emran. Di kecupnya bibir di hadapannya beberapa detik, "Biarkan aku membuat sarapan dulu, setelah ini kita bisa bermesraan lagi, mandilah Baby! " Ucap Dina sebelum berlalu menuju dapur yang ada di lantai satu.
Dina menghela nafasnya tatkala melihat isi kulkas yang miris. Hanya ada telur dan beberapa mie instan. Ia lupa jika hari ini waktunya belanja untuk keperluan dapurnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Emran turun dari lantai dua dengan memakai celana pendek dan kaos oblong berwarna hitam. Ia melihat ada dua piring mie instan dengan telur mata sapi di atasnya.
"Baby, hari ini hanya ada ini di kulkas. Nanti siang kita harus pergi ke swalayan untuk mengisi kulkas yang sudah tak berpenghuni itu." Ucap Dina seraya duduk berhadapan dengan Emran.
"Oke bay. Jangan lupa beli jamur Bay." Ucap Emran.
Keduanya menikmati sarapan yang hampir masuk di jam makan siang. Menikmati mie instan goreng dengan cuaca dingin seperti ini memanglah menyenangkan. Apalagi di temani senyum manis dari orang tercinta seperti Emran saat ini.
Setelah semua isi piring berpindah kedalam perut, Dina segera membereskan piring kotor yang ada di atas meja. Ia mengerjakan sendiri tanpa harus menunggu asisten rumah tangga yang datang di siang hari sampai sore.
Dina segera kembali ke meja makan setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia duduk di hadapan Emran yang sedang termenung, Dina menerka apa yang sedang di pikirkan oleh Emran saat ini.
"Beb, ada apa?" Tanya Dina setelah beberapa menit menunggu Emran yang masih asyik dalam lamunannya. Ia mengusap tangan pria yang menemaninya selama ini.
Emran menatap wajah polos sang istri, ia bingung harus mulai darimana menceritakan sebuah masalah yang sedang ia hadapi.
"Bay, ada yang harus kita bicarakan." Ucap Emran.
"Katakan saja Baby." Perasaan tidak enak mulai menyerang hati Dina.
"Memangnya kenapa? Apa yang terjadi?" Dina mulai penasaran dengan kabar yang akan di sampaikan oleh Emran.
Dengan berat hati, akhirnya Emran mengungkapkan semua hal yang terjadi akhir-akhir ini. Semua di ceritakan tanpa ada yang di tutupi dari Dina. Air mata mulai berjatuhan dari pelupuk mata indah milik seorang wanita bernama Dina Silvana setelah mendengarkan apa yang terucap dari bibir sang suami.
"Bay, jangan menangis seperti ini. Aku tahu semua ini bisa membuatmu sakit. Tolong berikan aku solusi untuk masalah ini Bay." Ucap Emran yang kini pindah posisi di samping Dina, ia merengkuh tubuh yang bergetar itu kedalam dekapannya.
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Dina. Ia masih tenggelam dalam samudra yang menghanyutkannya. Sungguh, ia terkejut dengan semua ini. Baru saja ia menjadi istri sirinya Emran, ia harus di hadapkan pada pilihan yang berat.
Beberapa menit kemudian, Dina menegakkan tubuhnya, ia menatap wajah yang tengah sendu di hadapannya. Ia tahu ini semua bukanlah salah Emran sepenuhnya, keadaan yang membuat Emran ada berada di titik ini.
"Katakan apa rencanamu, Baby? Apa kamu akan meninggalkan aku? apa aku yang harus pergi darimu Baby, setelah apa sudah kita lalui selama ini?" Cecar Dina dengan perasaan yang bercampur aduk di dalam dada.
__ADS_1
"Tidak Bay! Setelah ini aku akan mengurus surat pernikahan kita, aku ingin pernikahan kita resmi di mata agama ataupun Negara. Aku tidak ingin kehilangan kamu dan Mama. Kalian berdua sama-sama wanita yang aku cintai." Emran menundukkan kepalanya.
Beberapa hari ini pikiran negatif terus terbayang dalam pikirannya, ia takut jika Bu Kana benar-benar nekat untuk mengakhiri hidupnya karena frustasi dengan situasi yang beliau hadapi.
"Apa itu berarti kamu akan menikahi wanita pilihan Mama setelah meresmikan pernikahan kita?" Tanya Dina yang kini menatap manik hitam milik Emran.
"I-iya ... Wanita itu sudah tau jika aku pria yang beristri, tapi dia masih ngotot ingin menikah denganku. Bay, tolong katakan pendapatmu, katakan aku harus bagaimana?" Emran menatap Dina dengan wajah seriusnya.
Dina mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia mencoba untuk berpikir dewasa dalam situasi ini. Seketika raut wajah kedua orangtuanya yang telah pulang ke pangkuan Tuhan menari-nari di matanya. Perasaannya semakin tak karuan saat ini.
"Memang benar, kehilangan orangtua untuk selamnya sangatlah menyedihkan Baby. Tapi menyetujui pasangan kita untuk bersama orang lain juga sangat menyakitkan rasanya." Dina menundukkan kepalanya untuk menguras genangan air mata yang tidak sanggup lagi untuk di bendungnya.
Emran segera meraih tubuh yang ada di samping untuk masuk lagi ke dalam dekapannya. Ia benar-benar tidak tega melihat Dina sesedih ini setelah mendengar apa yang baru saja di ungkapkannya. Ia tahu tidak akan ada wanita yang mau jika pasangannya menikah lagi dengan wanita lain.
"Berikan aku waktu Beb. Aku harus memikirkan semua ini agar tidak menyesal di kemudian hari." Ucap Dina yang kini kembali tenggelam dalam dekapan nyaman pria yang berstatus sebagai suami siri-nya.
_
_
_
Selamat Membaca kak, semoga suka 😍♥️
Holaaa aku udah up tiga episode nih sebagai hadiah di tahun baru islam ini😍 Terima kasih untuk kalian yang selalu membaca karya-karya aku😂 Dan jangan lupa untuk mengikuti akun sosial media ku yaa😀
Ig : @tie_tik
Fb: Titik pujiningdyah
_
__ADS_1
_
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️