
Hari yang di tunggu Elsa telah tiba. Hari dimana ia akan bertemu keluarganya untuk pertama kali setelah dua tahun pergi dari rumah megah Pak Roni. Rasa rindu telah hadir dalam dirinya.
Sebuah gaun berwarna merah maroon telah melekat di tubuh indah Elsa. Sebuah gaun yang di belinya tiga hari yang lalu di butik terkenal yang ada di Kota Mojokerto. Lipstik berwarna merah pun menghiasi bibirnya. Sempurna, ya itulah nilai untuk penampilan Elsa saat ini.
Ivan tak berkedip ketika menatap penampilan istrinya malam ini, meski bukan yang pertama kalinya Elsa berdandan seperti ini, namun ia masih saja mengagumi ibu dari anaknya itu.
"Mas yakin tidak mengajak Rafa ke pernikahan kak Emran?" Tanya Elsa yang sedang memakai heelsnya.
"Tidak Sayang, biar Rafa dirumah saja." Ucap Ivan sembari merapikan lengan kemejanya.
"Padahal aku ingin Rafa ikut kesana, Mas." Ucap Elsa yang kini menatap Ivan.
Ivan hanya diam, sesaat ia mengalihkan pandangannya ke arah Elsa. "akan lebih baik jika Rafa tetap dirumah, Sayang." Ucap Ivan.
Elsa segera meraih tas pesta nya, ia berjalan menuju pintu rumah yang masih tertutup rapat. Namun, langkahnya harus terhenti ketika tangannya di raih oleh Ivan.
"Sayang!" Lirih Ivan. Ia menangkup kedua pipi Elsa dengan wajah yang terlihat gugup.
"Ada apa lagi Mas?" Tanya Elsa.
"Apapun yang nanti terjadi disana, tolong jangan pernah salahkan dirimu. Oke?" Ucap Ivan dengan tatapan seriusnya. Tiba-tiba perasaannya menjadi tak karuan.
Elsa hanya menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti, senyumnya tak pernah pudar karena membayangkan betapa bahagianya nanti jika ia bertemu dengan sosok yang ia rindukan dalam diam 'Mama'.
*
*
__ADS_1
Suasana meriah terasa di dalam ballroom hotel mewah yang ada di Mojokerto. Pelaminan yang megah berdiri dengan gagahnya didalam sana sebagai tempat untuk sepasang pengantin yang sama-sama tersenyum untuk menyambut tamu yang mengucapkan selamat. Tentu saja, senyum terpaksa yang tengah menghiasi wajah tampan Emran.
Bu Kana dan Pak Roni sibuk menemui kolega yang hadir dalam pesta pernikahan putranya. Tamu undangan sejak tadi terus berdatangan memenuhi ruangan ini.
Seorang wanita paruh baya terperanjat dari tempat duduknya tatkala melihat sepasang suami istri yang bergandeng tangan sedang berjalan dari pintu masuk.
"Dik, ada Elsa dan suaminya datang." Bisik Bu Mala ketika menghampiri Bu Kana yang sedang duduk bersama teman-teman seprofesinya.
Bu Kana mengalihkan pandangannya ke arah yang di tunjuk Bu Mala, entah mengapa matanya tiba-tiba berembun tatkala memandang wanita yang memakai gaun merah maroon. Rindu yang di pendamnya selama ini seakan menguap begitu saja, beliau beranjak dari tempat duduknya karena ingin sekali memeluk gadis kecilnya yang kini sudah menjadi seorang 'Ibu'.
Bu Kana mengalihkan pandangannya kesamping tatkala Bu Mala menepuk pundaknya.
"Kendalikan emosimu Dik. Jangan sampai karena tidak bisa menahan rindu, kamu menjatuhkan harga dirimu di depan Elsa. Dia anakmu, dialah yang harus meminta agar dia bisa kembali ke rumahmu. Jangan sampai kamu yang harus memohon kepadanya." Lagi dan lagi Bu Mala memprovokasi Bu Kana, membuatnya memejamkan mata. Menekan perasaan rindu untuk mengikuti saran dari sang Kakak yang menurutnya benar.
Kedua wanita paruh baya ini berjalan beriringan menuju tempat Elsa berada saat ini. Entah apa yang ingin mereka lakukan kepada Elsa dan Ivan yang tengah antri untuk naik ke pelaminan menemui Emran.
Elsa dan Ivan pun membalikkan tubuhnya untuk menatap sang pemilik suara. Elsa terkejut ketika melihat Sang Mama dan Bude yang berdiri di belakangnya.
"Mama ... " Lirih Elsa, ia pun tak melepaskan tangannya dari genggaman Ivan.
"Kenapa kamu datang ke pernikahan Kakakmu? siapa yang menyuruhmu datang kemari?" Tanya Bu Kana dengan suara yang nyaris tak terdengar, beliau setengah berbisik di telinga Elsa.
"Maaf Ma, kami datang atas undangan dari kak Emran." Ivan pun mengeluarkan suaranya karena melihat bibir Elsa yang terkunci, ia masih syok setelah mendengar pertanyaan Bu Kana.
"Tapi saya tidak pernah mengundang kalian berdua! kalian lupa jika kalian sendiri yang memutuskan keluar dari rumah saya dan siap menerima konsekuensinya!" Ucap Bu Kana dengan suara yang terdengar lirih, namun matanya menegaskan sebuah kemarahan disana.
"Tidak Ma, kami tidak lupa!" Ucap Elsa, ia sedang berusaha keras agar air matanya di runtuh disini.
__ADS_1
"Kamu menginginkan pesta seperti ini kan, El? kamu menyesal bukan, karena tidak bisa duduk di atas pelaminan yang megah seperti kakakmu?" Cecar Bu Kana dengan sudut bibir kanan yang terangkat.
"Lihatlah Van!! bahkan kamu tidak bisa memberikan Elsa pesta pernikahan mewah seperti ini. Kamu menghapus semua mimpi yang dulu pernah di dambakan oleh Elsa, menjadi ratu semalam dengan balutan gaun pernikahan yang indah!" lanjut Bu Kana yang kini beralih menatap Ivan.
"Cukup Ma!" Ucap Elsa dengan wajah yang memerah karena menahan perasaan yang bercampur aduk di dalam dirinya.
Rasa sakit kembali menghujam hati Elsa, baru saja ia ingin memperbaiki hubungannya, namun Bu Kana kembali menyiram air cuka kedalam hati yang mulai kering lukanya. Elsa memejamkan matanya untuk menekan emosi yang tengah berkobar dalam dirinya.
"Elsa tidak pernah menyesal atas semua yang Elsa lakukan. Beri Elsa waktu sebentar saja untuk mengucapkan selamat kepada Kak Emran dan menyapa Papa, setelah itu Elsa akan pergi dari gedung ini." Sekuat tenaga Elsa menatap manik hitam milik Bu Kana di hadapannya.
"Kami permisi." Ucap Ivan sebelum meraih tangan Elsa untuk berjalan menuju pelaminan tempat Emran duduk saat ini.
Tatapan kosong tengah terpancar dari sorot mata Elsa, ia benar-benar tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini dari ibu yang telah melahirkannya.
Elsa benar-benar merasa kecewa saat ini, sesaat ia mengalihkan pandangannya kesamping untuk melihat raut wajah sang suami. Ia menyesal karena tidak mengikuti apa yang di ucapkan oleh Ivan, dengan tidak hadir di pesta pernikahan Ini.
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka😍♥️
_
_
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1