PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Aku akan berjuang...


__ADS_3

"Bunda bahagia sekali mendengar kabar kehamilan kamu, Nak." Ucap Bu Nurul sembari mengusap perut rata Elsa.


Hari ini sepasang suami istri itu datang ke rumah Bu Nurul untuk memberi tahu tentang kabar kehamilan Elsa, dan tentu saja Pak Hamid dan Bu Nurul sangat bahagia.


Bu Nurul terus mewanti-wanti Elsa agar tidak terlalu lelah dan memperhatikan pola makannya, bahkan saat ini Bu Nurul tengah membuat berbagai macam masakan untuk Elsa.


"Bunda, kenapa masak sebanyak ini?" Tanya Elsa yang baru keluar dari kamar.


"Kita makan siang bersama ya Nak setelah ini. Lihatlah! Bunda sudah selesai membuatkan makanan favorite kamu." Ucap Bu Nurul sembari menunjukkan piring yang berisi udang asam manis.


"Wah!! Boleh Elsa cicipi sekarang Bund? sepertinya ini sangat lezat! hmmmm...." Ucap Elsa sembari menghirup aroma yang membuat ia menelan salivanya.


"Ayo sini duduk... Habiskan saja semuanya, Nak." Ucap Bu Nurul sembari menarik kursi yang ada di dapur.


Bu Nurul hanya tersenyum melihat Elsa begitu menikmati masakannya. Beliau kembali lagi melakukan kegiatan memasaknya yang sempat tertunda.


Beberapa menit kemudian, Ivan masuk ke dapur, ia melihat Elsa yang sedang menikmati makanan favoritnya tanpa menoleh sedikit pun.


"Sayang, aku mau satu dong udangnya." Ucap Ivan ketika duduk di hadapan Elsa.


"Gak boleh! Mas gak boleh minta." Ucap Elsa sembari menjauhkan piringnya dari jangkauan Ivan. ia menyebikkan bibirnya karena kesal dengan Ivan.


"Pelit amat sih! bagi satu doang Sayang...." Ucap Ivan lagi. Elsa hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tertekuk.


"Ivan!! jangan ganggu istrimu! biarkan dia menghabiskan udang asam manisnya." Teriak Bu Nurul.


"Tuh dengerin kata Bunda, ini masakan hanya untuk ku!" Ucap Elsa dengan lidah yang menjulur setelah itu.


Ivan tergelak melihat Elsa seperti anak kecil yang berhasil menguasai makanannya sendiri. Ia menggelengkan kepalanya ketika melihat Elsa menikmati makanannya.


"Pelan-pelan Sayang, tidak ada yang mau merebut udangnya." Kelakar Ivan sembari menatap Elsa yang ada di hadapannya.


_


_


Waktu terus berjalan untuk mengantar semua insan sampai di waktu sholat ashar. Ivan dan Elsa keluar dari kamarnya setelah bersiap untuk kembali pulang kerumah Bu Kana.


"Kami pulang dulu ya Yah, Bund." Pamit Ivan sebelum mengecup punggung tangan kedua orangtuanya diikuti dengan Elsa.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan ya Nak, jaga istri dan calon anakmu dengan baik. Jadilah suami siaga untuk Elsa." Tutur Bu Nurul sembari mengusap rambut Ivan dengan penuh kasih dan sayang.


"Siap Bund!" Ucap Ivan dengan senyum khasnya.


"Kami pulang Bunda, Ayah..." Ucap Elsa sebelum keluar dari rumah sederhana Pak Hamid.


"Hati-hati Nak..." Ucap Pak Hamid.


Bu Nurul meneteskan air matanya ketika anak dan menantunya berlalu pergi dari rumah, sebuah air mata kesedihan dan kebahagian yang bercampur menjadi satu.


"Mas, kita mampir ke salon yuk. Aku pengen ganti model rambut." Ucap Elsa ketika dalam perjalanan pulang menuju rumah Bu Kana.


"Baiklah nyonya Elsa... Perintah di laksanakan." ucap Ivan sembari menatap Elsa lewat kaca spion nya.


Ivan menghentikan motornya di halaman salon kecantikan langganan Elsa, ia ikut masuk untuk menemani sang istri di dalam sana.


Beberapa menit kemudian, Ivan menatap wanita berambut sebahu yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Gimana? bagus kan rambut baruku?" Tanya Elsa dengan alis yang di naik turunkan.


"Cantik. Aku suka." Ucap Ivan yang kemudian berjalan menghampiri Elsa.


Elsa menginjak kaki Ivan sembari mengedarkan pandangannya, wajahnya memerah ketika melihat pegawai salon yang menahan tawa karena ucapan Ivan.


"Malu dikit napa Mas! tuh di ketawain sama Mbaknya." Lirih Elsa sembari menatap Ivan namun Ia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Elsa. Ivan segera membayar tagihan Elsa ke kasir dan langsung keluar setelah itu.


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...


Matahari sudah condong ke barat, rona jingga sudah terlihat di langit barat untuk menemani sang surya pulang ke peraduannya. Dina menahan Emran agar tidak pulang terlebih dahulu dari rumahnya.


"Aku masih rindu... Jangan pulang dulu ya beb." Ucap Dina yang bergelayut manja di lengan Emran, ia menyandarkan kepalanya di bahu milik Emran.


"Iya, tenang saja aku akan disini menemani kamu sampai Bapak pulang." Ucap Emran sembari mengusap rambut panjang Dina.


Dina hanya memiliki seorang Ayah, Ibunya sudah meninggal sejak ia berumur lima tahun karena kecelakaan. Ayahnya bekerja sebagai buruh di pabrik rokok yang ada di Malang.


Mereka berdua sedang asyik ngobrol tentang pekerjaan masing-masing. Setelah lulus kuliah, Dina bekerja menjadi Teller di Bank swasta yang ada di kotanya sedangkan Emran bekerja di pabrik milik Pak Roni. Ia membantu Pak Roni untuk mengelolah pabrik kertas terbesar di Mojokerto.


"Mungkin Papa akan membuka cabang di Malang, tapi aku kurang tau dimana lokasinya. Masih belum pasti." Ucap Emran.

__ADS_1


"Benarkah? apa itu berarti kita akan sering bertemu jika kamu punya cabang disini?" Tanya Dina dengan antusiasnya.


"Tentu saja jika aku yang mengelolah pabrik disini. Kamu tidak bosan jika sering bertemu denganku?" Tanya Emran dengan tatapan yang membuat Dina meleleh seketika.


Dina menggigit bibir bawahnya sembari menatap Emran, sebuah kode rahasia yang di berikan Dina untuk Emran. "Apa selama ini aku pernah bosan denganmu Baby? "


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Emran langsung menyambar bibir yang sangat menggoda dihadapannya. Emran memainkan lidahnya di dalam sana dengan lincahnya, membuat nafas Dina menjadi memburu. Sebuah kegiatan senam lidah yang sering mereka lakukan sejak pertama jadian.


"Cukup Baby, jangan di teruskan!" Ucap Dina setelah bibirnya terlepas dari Emran.


"Aku ingin menikah secepatnya Bay... Aku sudah tidak kuat menahan hasrat ini." Ucap Emran dengan tatapan seriusnya. Sudah lama ia ingin melakukan penyatuan dengan Dina, namun Dina selalu menolaknya. Ia takut jika suatu saat Emran meninggalkannya setelah berhasil mengambil mahkota yang di jaganya selama ini.


"Aku masih takut dengan orangtuamu beb. Aku takut hubungan kita di tentang Mamamu sama seperti Elsa dulu Beb." Ucap Dina sembari mengelus rahang milik Emran.


Emran menghela nafasnya yang berat, memang benar apa yang dikatakan oleh Dina, mereka berdua takut jika Bu Kana menentang hubungan mereka berdua karena sebuah alasan status sosial.


Selama ini Emran menyembunyikan kisah cintanya dari kedua orangtuanya. Ia menyimpan dengan rapi kisah cintanya bersama gadis dari kota Malang, sang primadona di kampusnya dulu.


"Aku hanya mencintaimu Bay, aku akan memperjuangkan hubungan kita." Ucap Emran sembari menarik tubuh Dina dalam dekapannya.


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...


*Nih aku kasih bonus potonya Neng Elsa yang rambutnya baru dan Mas Ipan😍



Sekalian sama potonya Babang Emran dan Dina yakk😍



_


_


Selamat membaca kak, semoga suka 😍β™₯️


_


_

__ADS_1


❀️❀️❀️❀️


__ADS_2