
Teriknya matahari tak menghalangi dua sejoli yang tengah di mabuk asmara ini. Walau ada masalah besar yang di hadapi, walau cuaca panas tengah menyelimuti kota Surabaya, itu semua tak menghalangi mereka berdua untuk terus menyunggingkan senyum manis dari bibir masing-masing.
Motor hitam kesayangan Ivan, terus melaju memecah kepadatan lalu lintas di kota Surabaya. Elsa begitu menikmati waktu bersama Ivan yang singkat ini.
"Ivan, aku mencintaimu... aku tidak perduli, meski nanti aku harus mengarungi samudra atlantik untuk bisa terus bersamamu, akan aku lakukan!" Ucap Elsa seraya mengeratkan kedua tangannya yang ada di perut rata Ivan.
"Jangan nge gombal di jalan El. Kalau aku kelepek-klepek terus nabrak gimana?" Tanya Ivan sembari menatap Elsa lewat kaca spion motornya.
"Ih jangan dong!" Desis Elsa.
Perjalanan berlanjut sampai di dekat sebuah perumahan elit, dimana rumah mewah Bu Mala berdiri dengan megahnya disana. Ivan menghentikan motornya setelah melewati pos penjagaan di pintu depan perumahan.
"Kita harus bagaimana El?" Tanya Ivan sembari melepas helmnya.
Elsa diam sejenak untuk memikirkan cara agar Ivan bisa mengantar Elsa tepat di depan pintu gerbang rumah Bu Mala. Elsa turun dari jok belakang motor Ivan.
"Bagaimana kalau kamu nanti pura-pura jadi tukang ojek?" Usul Elsa yang membuat Ivan menaikkan satu aslinya.
"Jadi, nanti aku pura-pura ngasih duit ke kamu kan. Terus setelah turun, kita gak usah ngobrol. Kamu langsung puter balik gitu biar kelihatan kalau kamu benar-benar Tukang Ojek. Gimana?" Tutur Elsa sembari menatap Ivan dengan seriusnya.
Ivan menganggukkan kepalanya, tanda ia menyetujui usul dari Elsa. Ia memberi Elsa isyarat agar Elsa mendekat dengannya.
Cup. Satu kecupan berhasil mendarat di kening Elsa.
"Aku mencintaimu lebih dari apapun Elsa. Aku harap kamu tetap menjadi wanita yang kuat walau badai terus menerjang hubungan kita." Ucap Ivan dengan tatapan sendunya. Ia mengusap pipi mulus Elsa tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Elsa tersenyum bahagia mendapat perlakuan romantis dari kekasihnya itu. Ia terus memandang manik hitam yang sejak tadi menatapnya.
"Yakin nih, cuma kening aja yang di kecup? gak pengen yang lain gitu?" Ucap Elsa dengan tatapan yang penuh arti.
Ivan mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia takut akan menginginkan hal lebih jika terus menatap manik hitam yang tengah menggodanya saat ini.
__ADS_1
"Dasar cewek mesum!" Kelakar Ivan sembari menangkup kedua pipi Elsa dengan gemasnya.
"Buruan naik! Aku antar pulang sekarang!" Ucap Ivan setelah melepas kedua tangannya dari wajah Elsa.
"Cie... cie... takut di grebek satpam komplek ya..." Seloroh Elsa sembari duduk di atas jok belakang motor Ivan. ia memakai helmnya lagi untuk bersiap pulang ke rumah Bu Mala.
Ivan hanya tersenyum simpul untuk menanggapi kekasihnya yang cerewet itu. Ia sudah siap untuk berangkat menuju kandang singa yang biasa di sebut Elsa setiap malam ketika menelfonnya.
Sementara itu, di balkon lantai dua rumahnya, Bu Mala dan Hesta sedang bersantai sembari menikmati lemon tea yang baru saja di buatkan oleh Mak Odah.
"Hesta, Tumben kamu libur hari senin, biasanya kan kamis?" Tanya Bu Mala setelah menikmati kripik pisang yang ada di meja.
"Iya Ma... Hesta tukeran sama temen." Jawab Hesta tanpa mengalihkan pandangannya dari buku katalog tas dari salah satu brand yang terkenal di Indonesia.
Hesta memanglah begitu, ia tidak suka jika harus banyak bicara dengan Sang Mama, karena Bu Mala tidak akan menghentikan ocehannya ketika Hesta tidak sengaja kelepasan membahas hal yang tidak di sukai oleh Bu Mala.
Bu Mala berdiri dari tempat duduknya, beliau menatap hamparan luas yang ada di depan rumahnya. Sebuah tanah dengan rumput hijau yang menari-nari disana. Beliau tersenyum sembari menikmati pemandangan di depannya, namun wajahnya kembali terlihat datar tak kala Bu Mala melihat dua orang yang berhenti di depan gerbang rumahnya.
"Elsa!" Gumam Bu Mala ketika melihat Elsa memberikan helmnya kepada laki-laki yang memboncengnya.
Hesta menutup katalog yang sedari tadi ia bolak balik, ia menghela nafasnya setelah mendengar Sang Mama yang mengeluh tentang sepupunya itu.
"Udah deh Ma... Jangan membesar-besarkan masalah! mungkin Elsa naik ojek tadi Ma." Ucap Hesta sembari menatap Bu Mala.
"Kita lebih baik tidak usah ikut campur masalah percintaannya Elsa Ma. Biarkan Elsa bahagia dengan pilihannya." Ucap Hesta dengan menekan kata yang paling akhir.
"Sudahlah Hesta, kamu tidak usah menasehati Mama!" Sarkas Bu Mala. Beliau meninggalkan Hesta yang termangu di tempatnya.
Bu Mala segera turun dari lantai dua rumahnya, beliau ingin menemui Elsa untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya itu.
"Elsa!" Bu Mala memanggil Elsa yang baru saja keluar dari dapur sembari membawa botol air minum yang baru di isi di dapur.
__ADS_1
"Iya Bude. Ada apa?" Jawab Elsa santainya.
"Siapa laki-laki yang tadi menurunkan kamu di depan gerbang?" Tanya Bu Mala dengan suara ketusnya.
"Oh, itu ojek Bude..." ucap Elsa.
"Jangan bohong! mana ada ojek yang masih muda seperti itu! dan nomor plat nya juga dari Mojokerto." Sarkas Bu Mala.
"Astaga! ini singa betina teliti amat sih ngeliatnya!" Umpat Elsa dalam hatinya.
Elsa hanya diam, ia mencoba melawan rasa gugupnya dengan menatap manik hitam yang tengah melotot kepadanya.
"Kalau Bude tidak percaya juga gak papa kok! Elsa tidak ingin mendebat Bude, karena Bude dan Mama sama saja, tidak pernah percaya sama Elsa! Kalau Bude mau ngadu ke Mama juga terserah. Elsa pamit ke kamar dulu. Permisi...." Ujar Elsa sebelum pergi meninggalkan Bu Mala yang sedang bersekedap.
"Elsa!"
"Elsa!! Bude belum selesai bicara!"
"Dasar gak punya sopan santun ya!"
Tanpa memperdulikan Bu Mala yang berteriak memanggil namanya, Elsa berjalan menuju kamarnya dengan hati yang dongkol. Ia sengaja menutup pintu kamarnya dengan keras. Braakk!!
"Makin lama makin cerewet aja sih!" Ucap Elsa sembari menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk yang ada di kamarnya.
_
_
Happy Reading kak, semoga suka♥️😍
_
__ADS_1
_
❤️❤️❤️❤️❤️