PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Pak Roni pulang.


__ADS_3

"Alhamdulillah... akhirnya kita sampai di Surabaya. Papa sudah rindu dengan Rafa." Ucap Pak Roni yang berada di jok belakang mobil yang di tumpanginya


Emran hanya tersenyum untuk menanggapi ucapan Pak Roni, lalu ia kembali lagi menatap benda pipih yang ada dalam genggamannya. Ia sibuk membaca apa yang ada di dalam benda tersebut.


Tidak sampai sepuluh hari Pak Roni telah menyelesaikan semua urusan pabrik barunya, beliau membeli banyak oleh-oleh untuk cucu pertamanya, dari mulai baju sampai mainan untuk Rafa.


"Pa, ini Emran baru saja menerima kabar dari teman Emran kalau di Malang ada gudang yang dijual, tempatnya strategis Pa." Ucap Emran yang kini meletakkan benda pipihnya. Ia menatap Pak Roni yang ada di sampingnya.


"Terus gudangnya dipakai untuk apa, Ran?" tanya Pak Roni. "Tidak mungkin kan kita buka cabang lagi, cabang kedua saja belum resmi di buka." Lanjut Pak Roni.


"Kita bisa buka percetakan Pa disana. Itu sebuah peluang yang bagus menurut Emran karena gudangnya ada di dekat beberapa perguruan tinggi Pa." Ucap Emran dengan raut wajah yang meyakinkan.


"Siapa yang akan bertanggung jawab dengan yang ada disana, Ran? Papa tidak mungkin satu minggu berada di tiga kota." Ucap Pak Roni


"Kalau di Malang Emran bisa mengatasinya Pa." Ucap Emran.


"Baiklah kalau begitu besok pergilah ke Malang. Coba lihat keadaan gudangnya." Ucap Pak Roni.


"Iya pa." Ucap Emran dengan senyum tipisnya. Sebuah senyuman yang mempunyai makna terselubung di dalamnya.


Waktu terus berlalu, setelah menempuh jarak yang panjang akhirnya Pak Roni telah sampai dirumahnya bersamaan dengan suara adzan magrib yang menggema di segala penjuru komplek perumahannya. Beliau segera keluar dari mobil dengan kedua tangan yang menenteng paperbag yang berisi semua barang untuk Rafa.


"Rafa... kakek pulang!" Teriak Pak Roni ketika sudah masuk ke dalam rumahnya yang terasa sepi. Beliau berjalan menuju kamar Elsa.


Pak Roni memberanikan diri untuk membuka kamar putrinya setelah mengetuk beberapa kali namun tidak ada jawaban. Pak Roni mengerutkan keningnya ketika menatap kamar Elsa yang tertata rapi dan tak berpenghuni.


"Elsa kemana ya?" Gumam Pak Roni yang kini menutup pintu kamar Elsa lagi.


Rasa penasaran kian menggerogoti hatinya ketika tidak menemukan siapapun di lantai dua rumahnya, Pak Roni kembali menuruni satu persatu anak tangga untuk mencari keberadaan keluarganya di teras belakang.

__ADS_1


Pak Roni menghentikan langkahnya, ketika melihat Bu Kana duduk di ruang makan sendiri. Beliau segera menghampiri istrinya itu.


"Ma..." Pak Roni menepuk pundak Bu Kana.


"Loh Papa kapan pulangnya?" Bu Kana terkesiap ketika melihat suaminya sudah berada dirumah.


"Barusaja Ma, Rafa kemana Ma? Papa mencarinya di kamar tapi tidak ada." Ucap Pak Roni.


"Papa lebih baik duduk dulu, kita makan malam ya pa." Ucap Bu Kana sembari menggenggam tangan Pak Roni.


Bu Kana menuangkan air putih di gelas Pak Roni, beliau juga mengambilkan makanan untuk suaminya yang baru saja pulang dari luar kota. Jantungnya berdegup kencang, sejujurnya saja Bu Kana takut untuk mengatakan bahwa Elsa pergi dari rumah ini karena ulahnya.


Beberapa menit kemudian, makan malam telah usai. Pak Roni menatap wajah istrinya yang terlihat gelisah.


"Elsa kemana, Ma?" Pak Roni kembali menanyakan keberadaan putrinya.


"Elsa dan Ivan memutuskan untuk keluar dari rumah ini. Mereka membawa Rafa tinggal di rumah Pak Hamid." Jawab Bu Kana tanpa menatap wajah Pak Roni yang sudah mulai berubah.


"Papa tidak salah dengar kok, memang itu adanya." Jawab Bu Kana yang kini meraih pisang di hadapannya agar bisa menyembunyikan rasa gugupnya.


"Kenapa Ma? Apa yang terjadi?" Pak Roni mulai menatap istrinya yang semakin terlihat gugup.


Bu Kana menghela nafasnya sebelum menceritakan detail masalah yang terjadi satu minggu yang lalu. Pak Roni melebarkan matanya ketika Bu Kana mengatakan penyebab perginya Elsa dan Ivan.


"Apa yang Mama rencanakan benarkan Pa?Mama tidak salah kan Pa jika menginginkan yang terbaik untuk cucu kita?" Bu Kana mencoba mencari pembelaan Pak Roni.


BRAK!!


Pak Roni berdiri dari kursinya sambil menggebrak meja makan di hadapannya, wajahnya memerah seketika karena menahan kemarahan yang besar dalam dirinya.

__ADS_1


"Keterlaluan!!" Satu kata yang keluar dari bibir Pak Roni yang masih menatap Bu Kana.


"Lagi-lagi Mama memutuskan sesuatu tanpa persetujuan Papa. Lihatlah! Apa hasil dari saran Komalasari itu! meski dia kakak sulungmu bukan berarti kamu harus menuruti semua saran bodoh darinya! Kamu punya suami yang harus kamu patuhi, bukan orang gila yang seperti Komalasari!" Tidak ada lagi tutur kata embut yang keluar dari bibir Pak Roni. Kemarahannya kali ini lebih mengerikan di bandingkan dengan batalnya pernikahan Elsa dengan Dimas dahulu.


"Papa, meski papa marah denganku, tolong jangan mengatakan hal buruk tentang kakakku, dia tidak sepenuhnya salah Pa. Kami hanya ingin Rafa besar di lingkungan yang benar pa!" Ucap Bu Kana dengan air mata yang berjatuhan.


"Terserah! kalau kamu tidak tahu apapun tentang seseorang, jangan gegabah untuk memutuskan sesuatu! Pak Hamid tidak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan. Aku pernah ikut bersama Pak Budi masuk ke arena sabung ayam dan memang benar, Pak Hamid hanya bekerja untuk merawat ayam aduan Pak Budi!" Ucap Pak Roni dengan nada yang berapi-api.


"Sekarang apa yang kamu lakukan untuk menebus semua kesalahanmu, hah?! tidak mungkin kamu akan minta maaf kepada keluarga besan karen ego mu terlalu besar!" Pak Roni memaki Bu Kana dengan kata-kata kasarnya.


Tanpa menunggu jawaban Bu Kana, Pak Roni segera pergi dari hadapan istrinya. Beliau membawa semua paperbag yang di bawanya tadi keluar dari rumah.


"Papa!! papa mau kemana?" teriak Bu Kana yang mengejar Pak Roni sampai teras rumahnya.


Bu Kana menangis tergugu ketika mobil Pak Roni keluar dari halaman rumahnya. Beliau bersandar di salah satu pilar kokoh yang ada di teras rumah.


"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan??" Gumam Bu Kana dalam hatinya.


_


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka 😍♥️


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2