
Satu tahun kemudian....
Suara adzan menggema di segala penjuru Desa Modongan, sebuah Desa yang ada di pinggiran Kota. Sebuah tempat di mana Ivan dan keluarganya menjalani kehidupannya sehari-hari.
Di dalam sebuah kamar berwarna putih yang bersih dan nyaman ini, Ivan bersiap untuk berangkat kuliah. Ia mengambil sebuah kertas berwarna putih yang ada di laci mejanya untuk di berikan kepada orangtuanya.
Ivan menjalani hari-harinya tanpa mengeluh, meski ia sering merasa lelah dengan pekerjaannya, tak sedikitpun ia mengeluh karena ia sadar, ia hanya putra dari seorang buruh pabrik dengan gaji yang tak begitu besar.
Selama satu tahun ini, hubungannya dengan Elsa baik-baik saja. Ya, meskipun ia harus memberi pengertian kepada Elsa yang sering ngambek ketika tahu ia sedang ada kegiatan kampus dengan teman wanita nya. Rasa Cinta nya kepada Elsa semakin hari semakin bertambah besar, Demi Elsa ia harus pergi ke Surabaya di akhir bulan untuk menemui kekasihnya itu di tempat yang sudah di tentukan oleh Elsa.
Rasa cinta yang terhalang oleh restu orangtua tak membuatnya menyerah begitu saja. Karena ia yakin bahwa suatu saat ia bisa melunakkan hati Bu Kana dengan kesuksesannya nanti setelah lulus kuliah.
"Ayah.... Bunda...." Ucap Ivan ketika keluar dari kamarnya. Ia menghampiri kedua orangtuanya yang sedang ada di ruang tengah.
"Mau berangkat kuliah sekarang Van?" Tanya Pak Hamid ketika melihat Ivan sudah rapi dengan pakaian nya saat ini.
"Iya Yah." Ivan duduk di samping Bu Nurul.
"Ini surat persetujuan dari kampus kalau Ayah mengizinkan Ivan ikut ke Jakarta bersama Rektor kampus." Ivan mengeluarkan selembar kertas dari dalam ranselnya.
Satu minggu yang lalu, Ivan di panggil oleh Rektor kampus, ia di ajak Sang Rektor untuk pergi ke Jakarta. Ia mewakili fakultasnya untuk mengikuti seminar disana.
"Pergilah Nak.... Bunda mengizinkan kamu untuk mencari pengalaman disana." Ucap Bu Nurul sembari mengusap rambut Ivan dengan penuh kasih sayang.
Pak Hamid menyerahkan surat persetujuan yang telah di tanda tangani olehnya.
"Ivan berangkat dulu Yah, Bund...." Ucap Ivan sebelum menjabat tangan kedua orangtuanya.
Berharap sukses di masa depan, membuat Ivan menanamkan semangat yang tinggi pada dirinya. Bayangan wajah Elsa selalu menemaninya di setiap langkah yang harus ia lalui. Hidup bahagia bersama Elsa tak semudah membalikkan telapak tangan karena ada restu dari Bu Kana yang harus ia dapatkan.
...💠💠💠💠...
Semilir angin malam menemani renungan seorang gadis berkulit putih yang termenung di tepi kolam renang yang ada di bagian belakang rumah seorang wanita paru baya yang biasa di sebut singa betina oleh Elsa.
Malam semakin larut, namun ia masih enggan untuk beranjak dari tempatnya saat ini. kakinya masih bermain dengan air kolam renang yang terkena pantulan sinar rembulan.
__ADS_1
Berfikir, ya itu lah yang sedang di lakukan Elsa saat ini. Setelah mendapat kabar dari Ivan yang akan pergi ke Jakarta, ia menjadi resah dan gelisah. Ia memikirkan sebuah cara agar bisa menyusul Ivan ke Jakarta.p
"Elsa! Kenapa kamu masih berada disini? Apa kamu tidak tahu jika ini sudah malam?" Tiba-tiba terdengar suara Bu Mala yang berhasil membuyarkan semua yang ada di pikiran Elsa.
"Iya Bude. Tapi Elsa masih ingin disini. Elsa belum ngantuk Bude...." Jawab Elsa sambil menatap Bu Mala yang sedang berdiri di belakang Elsa.
"Merenunglah di kamarmu! jangan disini. Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu." Perintah Bu Mala yang berhasil membuat Elsa kesal.
"Tapi Bude...." Elsa menghentikan ucapannya ketika Bu Mala memotong ucapannya.
"Apa kamu ingin di hukum seperti kemarin Elsa? Kamu ingin membersihkan kamar mandi lagi karena sudah melanggar peraturan Bude?" Bu Mala bersekedap dengan mata yang menatap tajam ke arah Elsa.
Tanpa mengeluarkan suara, Elsa segera berdiri dari tempatnya saat ini. Ia berjalan begitu saja tanpa pamit kepada Bu Mala yang masih saja menatapnya.
"Anak muda jaman sekarang gak ada yang punya sopan santun!" Gerutu Bu Mala ketika melihat Elsa berlalu begitu saja.
Sementara itu, di dalam kamarnya Elsa terus menggerutu karena kesal dengan Bu Mala yang selalu mengancamnya. Sering Ia harus di hukum karena melanggar peraturan yang di buat oleh Bu Mala.
"Sedikit-sedikit ngancam! gak bosen apa selalu ngomelin aku!" Gerutu Elsa ketika ia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya.
***
Dua hari kemudian, Bu Kana dan Pak Roni datang ke rumah Bu Mala. Mereka berdua mengajak Elsa untuk menikmati makan malam di sebuah Restoran seafood yang ada di dekat Pantai Kenjeran. Hampir setiap hari setelah dari rumah sakit, Bu Kana menyempatkan diri untuk mengunjungi Elsa di rumah Kakak tertuanya itu.
"Pa, Ma... Elsa punya sebuah permintaan." Ucap Elsa ketika selesai menghabiskan satu porsi kepiting asam manis favoritnya.
"Katakan El!" Ucap Pak Roni sebelum menikmati minumannya.
"Hari Jumat Elsa ingin pergi Ke Jakarta." Ucap Elsa yang berhasil membuat Bu Kana berhenti menikmati Udan crispy di hadapannya.
"Ke Jakarta? untuk apa El?" Tanya Bu Kana dengan wajah herannya.
"Elsa ingin liburan Ma! Elsa suntuk harus terkurung di rumah Bude Mala!" Ucap Elsa sembari menatap Sang Mama.
"Kenapa harus jakarta Elsa?" Tanya Bu Kana.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan kamu ingin menemui laki-laki itu disana?" Bu Kana menerka apa yang akan dilakukan putrinya.
"Siapa Ma? Ivan? untuk apa dia kesana? Kalau pun Elsa mau ketemu dia, untuk apa Elsa harus pergi jauh ke Jakarta. Elsa bisa pulang ke Mojokerto kapan pun Elsa mau." Ucap Elsa sembari menatap mata Bu Kana agar terlihat meyakinkan.
Bu Kana terdiam, beliau mencerna ucapan Elsa yang ada benarnya. Sedangkan Pak Roni hanya diam sambil menunggu istrinya berfikir.
"Kalau begitu Mama akan ikut pergi ke Jakarta sama kamu El." Ucap Bu Kana setelah beberapa saat berfikir.
"Elsa ingin pergi sendiri Ma. Elsa ingin melepas penat disana." Ucap Elsa.
"Tapi El, kamu belum pernah kesana...." Ucap Bu Kana sembari menatap Elsa dengan tatapan khawatirnya.
"Pa, boleh ya pa..." Elsa beralih menatap Pak Roni, ia juga menggenggam tangan Pak Roni.
Senyum manis terbit dari bibirnya tak kala melihat Pak Roni menganggukkan kepala nya, sebuah tanda bahwa beliau menyetujui kepergian Elsa ke Jakarta. Ia semakin puas tak kala Pak Roni berhasil meyakinkan Bu Kana untuk membiarkan Elsa pergi ke Jakarta seorang diri.
"Nanti akan Papa berikan uang transportasi dan uang saku mu selama ada di Jakarta." Ucap Pak Roni yang membuat Elsa semakin melebarkan senyumnya.
"Ivan... kita akan ke Jakarta bersama." Ucap Elsa dalam hatinya.
_
_
_
Happy Reading kak, semoga suka♥️😍
_
_
_
❤️❤️❤️
__ADS_1