
Gemerlap bintang tengah menghiasi langit kota Mojokerto, menemani sang rembulan yang malu untuk menampakkan sinarnya. Keheningan Malam menemani sepasang suami istri yang tengah bersantai di teras rumahnya.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan, yang jelas mereka berdua memasang wajah serius, seperti ada suatu hal yang sangat penting untuk di bahas.
"Aku tidak mau Mas. Jangan paksa aku lagi untuk menemui Mama!" Ucap Elsa dengan mata yang berembun.
"Tapi sebagai seorang anak, kita tidak bisa terus seperti ini. Sebesar apapun kesalahan orangtua kepada kita, seharusnya kita yang datang dan minta maaf, Sayang." Ucap Ivan sembari mengusap rambut tebal milik Elsa.
"Tolong Mas, aku belum mau menemui Mama. Aku masih sakit hati dengan semua yang Mama lakukan selama ini." Ucap Elsa dengan tatapan memohon.
Hampir tujuh bulan, Elsa dan Bu Kana tidak memberi kabar satu sama lain. Tidak ada yang mau memulai untuk kembali dalam hubungan yang seperti dahulu karena Keduanya mempunyai sifat yang sama, keras kepala.
"Kita masuk yuk Mas, kasian Rafa di tinggal sendiri dikamar." Ucap Elsa seraya berdiri dari kursi kayu yang ada di teras rumah.
Ivan mengikuti langkah Elsa untuk masuk ke dalam rumah, mereka berdua merebahkan diri di atas kasur empuk bersprei merah jambu.
"Sayang, kenapa lingeri hitammu gak pernah dipakai?" Ucap Ivan yang kini meraih tubuh Elsa kedalam dekapannya.
"Iya, aku bingung nanti kalau nyuci." Jawab Elsa yang membuat Ivan mengerutkan keningnya.
"Kenapa bingung?" Tanya Ivan.
"Lah kalau disini mau di jemur dimana, Mas? kan malu kalau tetangga ada yang lihat aku jemur lingeri." Elsa menatap wajah tampan Ivan.
Mendengar jawaban Elsa, membuat Ivan tergelak. Ia tidak pernah berpikir sampai kesitu. Memang benar, semenjak mereka pulang ke rumah ini, Elsa tidak pernah lagi memakai seragam khususnya di malam hari.
"Udah ih, jangan ketawa mulu!" Elsa menepuk pipi Ivan karena kesal. Tangannya mulai meraba wajah Ivan ketika merasakan panas di kulit sang suami.
"Kamu demam lagi Mas?" Tanya Elsa yang kini mengubah posisinya. Ia menatap Ivan dengan lekat.
"Setiap malam kan memang begitu, tubuhku seperti demam, tapi kalau pagi aku sehat." Ucap Ivan.
__ADS_1
"Tenggorokanku dari kemarin rasanya agak aneh. Kadang terasa panas." lanjut Ivan sembari menatap wajah khawatir Elsa.
"Kita ke dokter saja Ya, Biar di cek kesehatan kamu Mas." Elsa kini duduk di samping Ivan.
"Gak usah Sayang. Aku baik-baik saja. Aku sudah beli obat di apotik kok." Ucap Ivan untuk menenangkan Elsa.
"Makanya kalau istri bicara itu di dengerin! Jangan minum suplemen bersoda lagi, jangan terlalu banyak merokok, jangan begadang terus! kesehatan itu penting Mas! susah bener diajak hidup sehat!" Cerocos Elsa dengan wajah yang kini berubah menjadi tertekuk.
Tanpa banyak bicara, Ivan menarik tubuh Elsa kedalam dekapannya. Di raihnya bibir ranum yang mengerucut itu untuk dinikmati beberapa detik saja.
"Tidurlah Sayang, jangan marah-marah lagi ya!" Ucap Ivan dengan senyum manisnya. Itulah kalimat panjang yang di dengar Ivan setiap hari ketika Elsa merasa khawatir dengan kesehatannya.
Elsa menyebikkan bibirnya karena kesal dengan Ivan. Ia tidak habis pikir dengan Ayah dari anaknya itu yang semakin hari semakin susah untuk diajak hidup sehat. Meski Elsa mengeluarkan pidato sebanyak dua ribu kata, Ivan tetap mengonsumsi minuman soda berwarna kuning itu setiap hari.
...💠💠💠💠...
Penunjuk waktu sudah berada di angka delapan pagi. Ivan bersiap untuk berangkat ke gudang miliknya yang terletak di depan Gang tempat tinggalnya. Kini ia tengah duduk bersantai menemani Elsa menyuapi Rafa dengan semangkuk kecil bubur rasa pisang.
Ivan tergelak ketika melihat putranya terus meronta dari gendongan Elsa, kedua pipinya cemong karena ia terus bertingkah ketika Elsa mencoba menyuapkan satu sendok bubur untuknya.
Ivan berdiri dari tempatnya. Ia mengambil Rafa dari gendongan Elsa.
"Mungkin Rafa ingin dipangku seperti ini, Sayang." Ucap Ivan yang kini memangku Rafa menghadap kedepan.
Keduanya mengalihkan pandangan ketika melihat sebuah mobil pick up berhenti di halaman rumahnya. Keduanya saling pandang, memberikan pertanyaan lewat sorot mata, siapa yang datang?
"Papa!!" Seru Elsa ketika melihat Pak Roni keluar dari kursi kemudi.
"Assalamualaikum..." Ucap Pak Roni.
"Waalaikumsalam..." Jawab Ivan dan Elsa bebarengan.
__ADS_1
Pak Roni berjalan menghampiri Rafa yang sedang berada dalam pangkuan Ivan. Beliau menggendong Rafa sambil mencium pipi cemong Rafa berkali-kali.
"Cucu Kakek semakin lucu saja nih!!" Gumam Pak Roni dengan wajah berbinarnya.
"Papa tumben beli mobil pick up? " Tanya Elsa ketika melihat mobil yang dipakai Pak Roni belum ada seri angka platnya, masih tertulis XX di plat putih.
Pak Roni memberikan sebuah kunci kepada Ivan. Beliau tersenyum penuh arti kepada Ivan.
"Itu mobil untuk kalian. Papa membelikan mobil ini agar bisa dipakai Ivan untuk kirim barang." Ucap Pak Roni dengan senyumnya.
Baik Elsa maupun Ivan, mereka sama-sama terkejut mendengar ucapan Pak Roni. Elsa memasang wajah tak percayanya ketika melihat mobil bak terbuka yang ada di halaman rumah.
"Pa ... Jangan repot-repot Pa. Kami bisa membeli sendiri Pa." Ucap Elsa dengan wajah yang tiba-tiba berubah menjadi memerah karena menahan air mata yang ingin keluar dari pelupuk matanya.
"Sudahlah El, Papa sudah dari kemarin-kemarin merencanakan semua ini. Lagi pula kalian pasti membutuhkan mobil bak terbuka seperti ini, kan?" Ucap Pak Roni yang kini tersenyum bahagia.
"Papa, apa ini tidak berlebihan Pa? Ivan bisa membelinya sendiri kok pa." Ucap Ivan sambil menatap haru mertuanya itu.
"Jangan membahas masalah mobil lagi, yang jelas mobil itu untuk kalian berdua. Apa kalian tidak mau mengajak Papa masuk?" Pak Roni mengalihkan topik pembicaraan.
Ivan tergelak, ia benar-benar lupa untuk mengajak masuk papa mertuanya itu, ia masih sibuk memandang apa yang ada di halaman luas rumahnya.
"Maaf pa, maaf ... silahkan masuk Pa, Ivan akan memanggil Ayah di belakang." Ucap Ivan sebelum masuk ke dalam rumahnya untuk mencari keberadaaan Pak Hamid.
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka 😍♥️♥️
_
__ADS_1
_
❤️❤️❤️❤️❤️❤️