PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Gaji pertama...


__ADS_3

"Kakak, jemput aku kak! Aku gak tahan ada di rumah ini." Ucap Elsa ketika menelfon Emran yang ada di Malang.


Elsa merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya setelah selesai menghubungi Emran. Kamar bernuansa hijau apel yang sangat nyaman untuk menghabiskan waktu di weekend seperti saat ini.


Ya, hari ini adalah hari sabtu. Hari yang menyebalkan untuk Elsa tentunya, karena ia akan lebih banyak bertemu dengan Bu Mala di rumah ini.


Genap satu bulan Elsa tinggal di rumah megah yang pemiliknya tak pernah lelah untuk mengeluarkan suara lima oktav nya.


Seperti saat ini, suara teriakan Bu Mala terdengar di luar kamar Elsa. Dengan langkah gontai Elsa keluar dari kamarnya untuk menghampiri sang Bude yang terus memanggil namanya.


"Ada apa sih! Selalu saja berteriak! apa gak copot itu pita suara!" Gerutu Elsa ketika hendak membuka pintu kamarnya.


"Iya Bude, ada apa?" Tanya Elsa dengan wajah malasnya ketika berhadapan dengan Bu Mala.


"Ini masih terlalu pagi Elsa untuk berada di kamar! lihatlah, jam masih berada di angka sembilan." Ucap Bu Mala sembari menatap penunjuk waktu yang ada di dinding kamar Elsa.


"Ayo ke dapur, bantuin Bude masak lontong sayur! Ada Hesta yang baru datang." Ucap Bu Mala dengan wajah datarnya.


Hesta adalah putri bungsu Bu Mala yang kuliah di Universitas Negeri yang ada di Ponorogo, ia baru saja menyelesaikan skripsinya dan mungkin sebentar lagi akan wisuda. Hesta memilih menempuh pendidikan di tempat yang jauh dari jangkauan Bu Mala karena ia sendiri tidak nyaman dengan kecerewetan Sang Mama yang tiada akhirnya.


"Elsa!" Teriak Hesta ketika melihat Elsa berjalan keluar dari kamarnya.


"Kak Hesta." Elsa memeluk sepupunya yang penampilannya semakin cantik dan anggun.


"Apa kabar?" Tanya Elsa setelah duduk di samping Hesta.


"Sangat baik El." Ucap Hesta dengan senyum manisnya.


"Aku tidak akan menanyakan kabarmu El, aku bisa melihat dari ekspresi wajahmu kalau kamu sedang tidak baik-baik saja." Lanjut Hesta dengan suara lirihnya.

__ADS_1


Ya, tebakan Hesta tidak salah lagi. Rasanya ia ingin kabur saja dari kandang singa ini. Dua kali Elsa merengek kepada Bu Kana untuk membawa Elsa pulang kembali ke Mojokerto, namun Bu Kana tetap pada pendiriannya.


"Mama sudah tidak percaya lagi kepadamu Elsa! jadi, nikmati saja tinggal di rumah Bude Mala." Sebuah kalimat panjang yang dulu pernah keluar dari indra pengecap Bu Kana.


Elsa menghela nafasnya ketika mengingat kalimat itu, kalimat yang membuat dirinya untuk menetap di rumah ini.


"Jangan terlalu di fikirkan El... Mama memang cerewet, tapi sebenarnya dia baik kok. Mama begitu karena beliau ingin mendidik anak-anaknya dengan baik." Ucap Hesta ketika melihat Elsa termenung dalam lamunannya.


Senyum tipis keluar dari bibir Elsa untuk menanggapi sepupunya yang masih setia di sampingnya. Ia harus membiasakan diri untuk mendengar suara singa yang mengaung selama empat tahun ke depan.


"Hesta... Elsa... kemarilah! bantu Mak Odah membungkus lontongnya!" Terdengar suara Bu Mala dari dapur yang tak jauh dari ruang keluarga.


Kedua pemilik nama itu langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke tempat singa betina itu berada.


...💠💠💠💠...


Rona jingga terlukis di langit biru di ujung barat, perpaduan dua warna yang begitu indah untuk di nikmati bersama orang-orang terkasih. Ivan baru saja pulang dari tempat kerjanya, dengan senyum manisnya ia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah dan menemui sang Bunda.


"Baru pulang Van?" Tanya Bu Nurul sembari melirik penunjuk waktu yang berada di angka lima.


"Iya Bund, tadi sambil nunggu gajian." Ucap Ivan sembari merogoh saku celana nya.


"Ini untuk Bunda." Ivan menyerahkan empat lembar uang bergambar Sang Proklamator.


Tepat satu minggu yang lalu, Ivan di terima kerja di home industri pembuatan sepatu kulit yang tak jauh dari rumahnya. Pagi sampai sore ia bekerja di home industri, dan setelah itu ia harus berangkat ke kampus untuk mengikuti kuliah malam.


Bu Nurul menghampiri Ivan yang sedang duduk di kursi, beliau tersenyum dan menatap Ivan dengan rasa yang membuncah di dadanya. Bu Nurul sudah melarang Ivan untuk bekerja, namun putranya tetap keukeh pada pendiriannya.


"Simpan gaji pertamamu ini Van. Pakailah untuk uang jajan kamu, atau kamu pakai jalan-jalan bersama Elsa saja?" Ucap Bu Nurul sembari menyerahkan kembali uang yang tadi di berikan Ivan kepadanya.

__ADS_1


Di home industri Ivan bekerja di bagian cetak sepatu, ia menerima gaji nya seminggu sekali di setiap hari sabtu seperti saat ini.


"Bund, tolong jangan di tolak uang pemberian Ivan ya..." Ucap Ivan sembari menatap penuh harap kepada Sang Bunda.


"Tidak Nak, Bunda masih punya uang, jadi pakailah untuk jajan ya...." Ujar Bu Nurul dengan netra yang berembun karena terharu melihat sikap putranya.


"Baiklah, akan Ivan simpan uang nya. Oh ya bund, apa besok Ivan boleh ke Malang untuk menemui Elsa?" Ivan meminta Izin kepada sang Bunda setelah tadi sempat di hubungi Elsa bahwa dirinya sedang ada di malang bersama Emran.


Bu Nurul menaikkan satu alisnya tak kala mendengar Elsa ada di malang. Beliau bertanya-tanya kenapa bisa Elsa ada disana. Karena penasaran akhirnya beliau bertanya kepada Ivan.


"Bukannya Elsa kuliah di Surabaya ya Van? kenapa sekarang ada di Malang?"


"Dia di jemput kakaknya Bund, Kakak laki-lakinya kan kuliah disana." Jawab Ivan.


Bu Nurul diam sejenak untuk memikirkan jawabannya, dengan diiringi senyum manisnya Bu Nurul mengizinkan Ivan untuk pergi keluar kota untuk menemui kekasihnya itu.


"Hati-hati selama dalam perjalanan ke Malang. Selalu baca Sholawat dan berdoa agar selalu di lindungi Sang Kuasa." Ucap Bu Nurul sebelum Ivan beranjak dari tempat duduknya.


_


_


_


Happy reading kak, semoga suka♥️😍


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2