PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Kemarahan tak terbendung...


__ADS_3

Hening, begitu lah suasana yang terasa di dalam ruang makan. Elsa hanya mengaduk makanan yang ada di atas piringnya dengan perasaan gelisah yang sejak tadi siang menyelimuti hatinya. Malam ini ia duduk sendiri di ruang makan tanpa kehadiran kedua orangtuanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Papa dan Mama seperti menghindariku??" Elsa bertanya-tanya pada diri nya sendiri.


Elsa berdiri dari tempatnya tanpa makan sesuap nasi pun. Suasana hatinya mendadak menjadi tak karuan karena sikap dingin Bu Kana pada dirinya.


Setelah sampai di ruang keluarga, ia mendudukkan tubuhnya di atas sofa untuk menunggu Bu Kana. Keringat dingin muncul dari tubuhnya setelah melihat Bu Kana dan Pak Roni berjalan melewati tangga rumahnya.


Elsa mengalihkan pandangannya tak kala beradu tatapan dengan sang Mama. Oh sungguh Elsa saat ini seperti tersangka yang akan di interogasi.


Bu Kana dan Pak Roni duduk di sofa yang ada di hadapan Elsa. Pak Roni mengembangkan senyumnya sembari menatap Elsa, sedangkan Bu Kana tak sedikitpun mengubah ekspresi datarnya.


"Elsa... Apa kamu tahu apa tujuan kita berkumpul disini?" Tanya Bu Kana setelah diam beberapa saat.


"Tidak Ma." jawab Elsa dengan kepala yang tertunduk.


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari Mama?" Tanya Bu Kana lagi.


"Aduh apa lagi ini?? apa ya yang sudah aku perbuat??" Gumam Elsa dalam hatinya sembari mencari kesalahannya.


Suasana di dalam ruang keluarga terasa hening karena Elsa belum juga menjawab pertanyaan Bu Kana. Ia masih bingung memikirkan jawaban dari pertanyaan sang Mama.


"Jawab Elsa!!" Suara Bu Kana mulai sedikit naik. Pak Roni meraih tangan Bu Kana dan mengusapnya dengan lembut tak kala melihat Bu Kana mulai terpancing emosinya.


"Elsa tidak menyembunyikan apapun Ma..." Ucap Elsa dengan percaya dirinya sambil menatap Bu Kana.


"Baiklah, kalau begitu jawab pertanyaan Mama dengan jujur." Bu Kana menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Apa yang tadi siang kamu lakukan di stasiun kereta api?" Sarkas Bu Kana dengan tatapan tajamnya.


Elsa terkejut bukan main setelah mendengar pertanyaan sang Mama. Jantungnya berpacu lebih cepat seperti baru saja mendengar suara petir yang menggelegar.


"Aduh mati aku!!! kenapa bisa ketahuan Mama ya??" Gumam Elsa dalam hatinya.


Telapak tangan Elsa menjadi basah karena begitu takut akan kemarahan Bu Kana. kedua tangannya saling meremas satu sama lain setelah menatap Bu Kana yang memasang wajah penuh amarahnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu melanggar larangan kami El? Sejak kapan kamu berpacaran dengan temanmu itu El? Apa saja yang sudah kamu lakukan dengan dia Elsa??!!" Bu Kana memberondong Elsa dengan pertanyaan yang sejak tadi siang di tahannya.


"Elsa tidak berpacaran Ma..." Kilah Elsa dengan suara lirihnya.


"ELSA!!! KENAPA KAMU BOHONG LAGI??" teriak Bu Kana sambil berdiri dari tempat duduknya karena sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


Melihat sang Istri sudah di kuasai emosi yang begitu besar membuat Pak Roni juga ikut berdiri dari tempat duduknya. Beliau memberi isyarat lewat tatapan matanya agar Bu Kana menjaga emosinya. Sekilas beliau menatap Elsa dengan ekor matanya, beliau melihat kaki Elsa bergetar karena begitu takut dengan kemarahan Bu Kana kali ini.


Elsa termangu di tempatnya. Ia hanya menundukkan kepala dan mengunci bibirnya dengan rapat agar tidak mengeluarkan kata apapun.


"Apa yang ada dalam fikiran kamu El? bisa-bisanya kamu mau di bonceng naik motor panas-panasan seperti tadi siang!! Mama memberi kamu mobil untuk di gunakan bukan untuk di parkir di stasiun kereta api!!" Bu Kana mengeluarkan semua yang di pendamnya sejak tadi.


Rasa kecewa yang begitu besar telah di rasakan oleh Bu Kana saat ini. Beliau benar-benar tidak suka jika Elsa menjalin hubungan di saat masih sekolah seperti ini apalagi sudah jelas jika Ivan bukanlah anak orang kaya yang sepadan dengan keluarganya.


Suasana di dalam ruang keluarga semakin mencekam, tak ada satu pun yang mengeluarkan suara. Namun semua itu berubah tak kala ponsel Elsa berdering di saku Bu Kana.


"Lihatlah siapa yang menelfon mu El?" Ucap Bu Kana sembari memperlihatkan layar ponsel yang bertuliskan nama Ivanku disana.


"Izin kan Elsa menjawab telfon nya Ma..." Ucap Elsa dengan suara lirihnya.


"Mama sudah membaca semua pesan yang ada di dalam ponselmu dan mama juga sudah melihat isi galeri mu Elsa!! Mama benar-benar kecewa sama kamu!! Mama gak nyangka selama ini kamu sering berbohong Elsa!!" Bu Kana berdiri dari tempat duduknya.


Praakkk... terdengar suara ponsel Elsa yang hancur di lantai rumahnya. Karena begitu kesal Bu Kana membanting ponsel milik Elsa dengan kerasnya.


Pak Roni melebarkan matanya tak kala melihat kemarahan istrinya.


Elsa tak dapat menahan air matanya lagi ketika melihat ponselnya hancur di atas lantai. Ia tergugu di tempatnya. Tanpa menghiraukan Elsa yang menangis, Bu Kana berjalan menuju kamarnya. Namun sebelum pergi, Bu kana menginjak ponsel Elsa sampai benar-benar hancur.


Setelah kepergian Bu Kana, Pak Roni menghela nafasnya yang berat. Sebenarnya beliau pun merasa kecewa dengan Elsa, namun melihat keadaan Elsa saat ini membuatnya tidak tega.


"Sudah jangan menangis lagi. Kembalilah ke kamarmu." Ucap Pak Roni Sambil meraih tubuh mungil Elsa ke dalam pelukannya.


Pak Roni mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang untuk menenangkan Elsa yang tidak berhenti menangis. Pak Roni menjadi tidak tega karena melihat kesedihan Elsa yang begitu dalam.


"Papa ke kamar dulu ya El." ucap Pak Roni sembari mengurai tubuh mungil putrinya.

__ADS_1


Hampir tiga puluh menit Elsa menangis di ruang keluarga. Setelah di rasa tenang, Elsa berdiri dari tempat duduknya. Sebelum pergi ke kamarnya, ia mengambil simcard dan memory card nya yang berserakan di lantai untuk di simpan di dalam dompetnya.


Sementara itu di dalam kamar Bu Kana sedikit terjadi perdebatan antara Bu Kana dan Pak Roni. Mereka berdua membahas tentang Elsa. Bu Kana terus menyerang Pak Roni dengan argumen nya.


"Papa tau Ma kalau Elsa bersalah. Tapi Mama tidak harus merusak handphone Elsa Ma!! Apa Mama tidak kasihan dengan Elsa Ma?" Ucap Pak Roni sembari menatap Bu Kana yang duduk di ranjangnya.


"Pa... Mama seperti ini karena Mama sayang sama Elsa pa, Mama itu ingin yang terbaik untuk Elsa!! Mama ingin Elsa itu fokus ke pendidikannya!!" Ujar Bu Kana dengan nada tingginya.


"Lalu bagaimana lagi Ma? Elsa memang sudah beranjak remaja Ma, dia pasti mengalami hal ini. Jatuh cinta dengan teman lawan jenis nya Ma!!" Pak Roni mencoba membela Elsa.


"Mama juga tahu Pa kalau Elsa saat ini ada di fase itu!! tapi Mama gak terima kalau Elsa berpacaran dengan laki-laki bernama Ivan itu pa!! Mama gak rela melihat Elsa hanya di bonceng dengan motor!!" Akhirnya Bu Kana mengeluarkan semua yang sejak tadi siang di pendam dalam hatinya.


Pak Roni berkacak pinggang sembari menatap Bu Kana dengan tajam. Beliau tidak menyangka jika sang istri tega membuat putrinya menangis hanya karena masalah itu.


"Papa gak nyangka kalau Mama membuat Elsa menangis hanya karena masalah status ekonomi!!" Ucap Pak Roni sebelum pergi meninggalkan Bu Kana.


"Pa jangan pergi dulu!! kita belum selesai bicara pa!!" Ucap Bu Kana sembari menatap suaminya yang sudah berada di balik pintu kamarnya.


Karena kesal Bu Kana meremas selimut yang ada di sampingnya sampai menjadi kusut. Beliau semakin kesal karena Pak Roni mengabaikannya begitu saja.


Bu Kana menyesal kenapa harus membahas masalah itu dengan Pak Roni yang dari dulu tidak pernah setuju jika harus membahas harta ataupun status sosial orang lain.


_


_


_


Happy Reading kak, semoga suka♥️😍


_


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2