PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Gusi berdarah...


__ADS_3

Tujuh hari telah berlalu begitu saja. Rumah yang biasa terasa hangat kini menjadi sunyi sepi, hanya ada kepingan kenangan Pak Rusdi bersama Dina selama ini. Seperti malam ini, ia termenung sendiri di teras rumahnya, sesekali ia menyeka bulir air mata yang terjun tanpa sebuah perintah dari sang empu.


Sorot lampu mobil Emran yang baru sampai di halaman rumah yang asri ini berhasil membuyarkan lamunan Dina. Ia segera bangkit dari tempat duduknya untuk menyambut Emran.


"Bay ... kenapa diluar sendirian?" Tanya Emran yang sedang berjalan menghampiri istrinya.


" Aku nunggu kamu pulang beb ..." Ucap Dina dengan senyum tipisnya.


Emran mengajak Dina untuk masuk ke dalam rumah, tak lupa ia mengunci pintu ruang tamu.


"Mandilah dulu Beb, aku mau menyiapkan makan malam." Ucap Dina sebelum berjalan menuju dapur miliknya.


Aroma masakan yang menggoda menyeruak masuk kedalam indera penciuman Emran. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, hanya dengan boxer dan handuk yang dililitkan di lehernya.


"Masak apa Bay? aromanya hmmmm!!! Bikin aku lapar." Ucap Emran yang kini duduk di kursi yang ada di belakang Dina.


"Orek telur Baby ... Kamu tidak ganti baju dulu?" Tanya Dina sambil menyiapkan dua piring di meja yang ada dihadapan Emran.


"Nanti saja, aku sudah tidak kuat untuk menahan rasa lapar ini." Ucap Emran.


Dina tergelak melihat ekspresi wajah suaminya itu, Ia segera menyajikan orek telur yang baru saja ia masak. Keduanya menikmati makan malam dalam keheningan.


"Baby ... aku punya sebuah permintaan." Ucap Dina ketika sudah menyelesaikan makan malamnya.


"Katakan Bay! " Ucap Emran sambil menyulut rokoknya. Asap pun mengepul di dapur sederhana milik Dina.


"Bisakah kita tidak melakukan hubungan suami istri dulu Beb ... Setidaknya sampai empat puluh hari Bapak meninggal. Jujur saja Beb, aku masih dalam keadaan kacau, Bayangan wajah Bapak masih terlukis jelas dimata ku Baby." Tutur Dina dengan bulir air mata yang berjatuhan.


Emran menatap wajah polos wanita yang sangat di cintainya itu. Ia masih berkelana dalam pikirannya sendiri. Ia mencoba menekan hasratnya dan mengerti posisi Dina saat ini.

__ADS_1


"Kita akan melakukan hubungan itu setelah kamu siap lahir dan batin Bay, jangankan menunggu empat puluh hari, bertahun tahun pun sudah ku lalui tanpa hubungan itu." Ucap Emran dengan sebuah senyuman yang memabukkan untuk Dina.


"Terima kasih Baby ... Kamu memang yang terbaik." Ucap Dina dengan tangan yang menggenggam tangan kiri Emran.


Dina terus memandang wajah tampan suaminya, bibir yang menggantung menambah nilai tersendiri untuk pria yang sedang menikmati sebatang rokok di tangannya. Dina tidak pernah menyangka, jalan hidupnya akan seperti ini. Di tinggal pergi kedua orangtuanya dan menjalani sebuah hubungan pernikahan tanpa di ketahui keluarga suaminya.


"Semuanya datang secara tiba-tiba. Aku seperti mendapat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Pria yang aku cintai datang dalam kehidupanku, tapi tuhan telah mengambil Bapak setelahnya, bahkan aku tidak bisa untuk menatapnya lagi ketika rasa rindu merasuk kedalam kalbu." Gumam Dina dalam hatinya. Duka yang dalam masih terasa dalam jiwanya.


...💠💠💠💠...


Hembusan angin malam menemani seorang pria yang tengah menikmati kopi hitam di teras rumahnya. Ia menengadahkan kepalanya untuk menatap rembulan yang sedang bersembunyi di balik awan yang gelap.


Pikiran yang berkelana jauh kini telah kembali tatkala Ivan mendengar suara putranya di ruang tamu yang ingin keluar.


"Rafa, ini sudah malam Nak!" Terdengar suara Elsa yang sedang menenangkan putranya yang sudah mulai aktif berjalan.


"Yah ... Yah ... Yah ..." Rafa menunjuk jendela ruang tamu, dimana terlihat Ivan yang sedang tersenyum kepada putranya.


"Yah ... Yah ... Yah..." Rafa berjalan menghampiri Ivan yang berdiri di depan pintu. Ivan segera menyambut tubuh gembul Rafa ke dalam gendongannya.


"Kenapa Rafa belum tidur hmmm??" Ucap Ivan sembari menatap wajah Rafa yang ada di hadapannya.


Ivan membawa Rafa untuk duduk di samping Elsa. Ia mengajak Rafa bermain disana dengan mainan yang berserakan diatas meja.


Ivan tergelak ketika mendapati Rafa yang marah-marah karena tangan robotnya ada yang patah. Ia membiarkan putranya itu yang membanting mainannya.


"Mas, sini mendekat!" Perintah Elsa setelah menatap gigi rapi yang sekilas ia lihat.


"Coba buka mulutmu, Mas!" Perintah Elsa lagi. Ivan pun menuruti apa yang di perintahkan oleh Elsa.

__ADS_1


"Gusimu berdarah lagi Mas." Ucap Elsa ketika melihat darah di gusi Merah Ivan.


"Kenapa akhir-akhir ini gusiku sering berdarah ya Sayang? tenggorokanku juga sering sakit, kadang juga rasanya panas seperti terbakar." Ivan bergumam.


"Mungkin Amandelmu bengkak, Mas. Kita ke dokter saja ya Mas, biar di periksa." Ucap Elsa sembari mengangkat tubuh Rafa ke dalam pangkuannya.


Rafa merengek dalam pangkuan Elsa, sebuah tanda jika putranya itu menginginkan asi langsung dari sumbernya. Buru-buru Elsa membuka kancing dasternya untuk menenangkan Rafa.


Senyum tipis tergambar di wajah cantik tanpa make up milik Elsa. Dengan penuh cinta dan kasih, ia mengusap rambut lebat Rafa yang mulai terlelap dalam tidurnya.


"Kenapa semakin hari wajah Rafa seperti kamu sih Mas, lihatlah! Dia seperti replika dari dirimu." Ucap Elsa tanpa menatap Ivan.


"Ya kan memang aku Sayang yang nanam bibitnya." Jawab Ivan sekenanya.


"Iya tapi lihatlah wajah Rafa, sedikit saja tidak ada mirip-miripnya dengan ku." Elsa menyebikkan bibirnya.


Obrolan suami istri itu berlanjut sampai tengah malam, entah apa saja yang mereka bahas sampai membuat lupa akan waktu yang terus berjalan.


"Aku tidak mau tahu, besok Mas Ivan harus ke dokter. Kita harus periksa Mas!" Ucap Elsa di akhir pembicaraannya bersama Ivan.


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka 😍♥️


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2