
Rasa hampa tengah menerpa, kekosongan hati telah di rasakan Elsa dalam kurun waktu tujuh hari ini. Separuh hatinya telah di bawa pergi oleh Ivan. Sungguh rasa sedih itu masih menyelimuti jiwanya yang rapuh.
Matahari masih berada di ufuk timur, namun Elsa sudah sampai di TPU yang tak jauh dari rumah Pak Hamid. Ia duduk di samping gundukan tanah yang masih basah dengan nisan yang yang bertuliskan 'Ivan Ardiansyah'.
Lantunan doa-doa terdengar disana. Elsa di temani Bu Kana dan juga Pak Hamid, Rafa pun tak ketinggalan. Balita satu ini sempat menangis karena tak melihat Ayahnya lagi. Setiap sore ia duduk di teras rumah sembari terus bertanya 'Kapan Ayah pulang keja?'.
Elsa menutup buku yang berisikan doa-doa. Kini ia menatap pusara suaminya. Bulir air matanya perlahan jatuh membasahi pipi tanpa polesan make up itu.
"Mas ... aku merindukanmu. Apa kamu bahagia disana, Mas? Apa kamu juga merindukanku Mas? lihatlah, putra kita bahkan belum tahu dimana kamu berada, aku tidak sanggup untuk mengatakan jika kamu telah kembali kepada sang pencipta" Gumam Elsa dalam hatinya, air matanya terus menetes tanpa bisa di hentikan.
"Mas ... sampai kapan pun aku tidak akan menikah dengan siapapun. Aku hanya milikmu, Aku tetap menjadi istrimu sampai aku menyusulmu nanti. Maaf aku tidak bisa untuk mengikuti permintaan terakhirmu, sungguh aku tak sanggup." Elsa menundukkan kepalanya.
"Jika memang ini jalan yang terbaik untukmu, aku akan belajar untuk ikhlas menerima kenyataan pahit ini. Tuhan sudah mengabulkan doa-doaku dulu, ketika kita masih duduk di bangku kuliah. Ya, tuhan memang tidak memberi kamu jodoh selain aku, tuhan lebih memilih mengambilmu dariku daripada kamu harus dimiliki wanita lain. Haruskah aku berterima kasih Mas dengan apa yang terjadi saat ini?" Air mata Elsa semakin turun dengan derasnya tatkala mengingat masa lalunya bersama Ivan yang di penuhi bunga-bunga asmara.
Kepingan kenangan masa lalu yang masih tersimpan dalam dirinya, kini menguap sudah. Tak sedikitpun Elsa melupakan perjuangannya selama ini bersama Ivan untuk sampai pada hakikat puncak cinta yang sesungguhnya. Ia harus ikhlas menerima semua kenyataan bahwa Ivan sudah bahagia di sisi Tuhan.
"Nak, ayo kita pulang!" Bu Nurul menepuk pundak Elsa karena matahari semakin beranjak naik.
"Mama ... ini apa Ma?" Tanya Rafa yang sedang menunjuk batu nisan Ivan.
Elsa meraih tubuh kecil Rafa. Ia memangku Rafa dan merengkuh tubuh mungil Ivan versi kecil.
"Disini tempat Ayah berada, Nak. Rafa harus sering datang kesini ya, Nak. Ayah pasti bahagia kalau Rafa datang kesini." Lirih Elsa di telinga Rafa.
"Ayah di dalam sini Ma?" Tanya Rafa sembari menatap Elsa.
"Iya Nak. Ayah ada disini." Elsa menganggukkan kepalanya. Ia menyeka air mata yang mulai membasahi pipinya.
__ADS_1
Pak Hamid mengangkat tubuh Rafa dari pangkuan Elsa, sedangkan Bu Nurul membantu Elsa untuk berdiri dari tempatnya.
"Kita pulang ya, Nak. Nanti malam kan ada pengajian terakhir untuk Ivan." Ucap Bu Nurul dengan suara seraknya.
"Aku pulang Mas ... I love you." Pamit Elsa dalam hatinya sebelum berlalu pergi.
Kesedihan tengah menyelimuti keluarga kecil Pak Hamid. Apalagi Bu Nurul, setiap malam beliau menangisi putra semata wayangnya yang telah pergi untuk selamanya.
...💠💠💠💠...
Dua minggu kemudian ....
Sebuah penyesalan besar telah menyelimuti diri Bu Kana. Beliau masih syok atas kepergian menantu yang pernah di sakitinya dulu. Beliau terus mengurung diri di dalam kamar sejak pulang dari rumah Pak Hamid beberapa minggu yang lalu.
Pak Roni sudah mendatangkan seorang psikolog dan beberapa Kyai untuk membantu istrinya pulih dari depresinya. Beliau sedih melihat istrinya yang terus termenung di atas tempat tidur. Air matanya pun terkuras habis karena rasa bersalah yang teramat besar.
Bu Kana mengalihkan pandangannya, tatkala mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Mega berjalan menuju tempat Bu Kana berada saat ini dengan membawa nampan yang berisi jahe hangat dan brownis kukus yang tadi di belinya.
"Mama ... " Sapa Mega sebelum meletakkan nampannya di atas nakas.
"Ini ada minuman untuk Mama." Ucap Mega dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Mega ... duduklah, Nak." Lirih Bu Kana sembari menepuk ranjang yang ada di sebelahnya.
"Ada apa Ma?" Tanya Mega.
"Maafkan Mama, mama sudah menjerumuskan kamu kedalam rumah tangga yang tidak bahagia ini. Mama sama sekali tidak tahu dengan semua yang terjadi pada kalian." Ucap Bu Kana sembari menggenggam tangan Mega.
__ADS_1
Mega hanya diam, ia pun sebenarnya sudah lelah dengan semua ini. Ia putus asa dengan obsesi yang terbalut dengan cinta.
"Ini bukan salah Mama. Ini salah Mega sendiri, Mega yang sudah memaksa masuk ke dalam kehidupan Emran." Pelupuk mata Mega mulai berembun.
Bu Kana menghela nafasnya, beliau mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Mega, besok Mama harus bertemu dengan istrinya Emran yang ada di Malang. Maaf Mama harus melakukan ini." Ucap Bu Kana dengan tatapan lurus kedepan.
"Apa Mama akan mengajak dia tinggal disini?" Tanya Mega.
"Iya, kalau dia mau. Mama tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya, Ga. Mama tidak sanggup membayangkan jika terjadi sesuatu dengan Emran dan Mama tidak mengetahuinya." Air mata Bu Kana kembali mengalir.
Mega terisak di hadapan Bu Kana. Ia tak sanggup membayangkan jika Dina berada di rumah ini. Ia harus melihat Emran memperlakukan Dina dengan cinta dan kasih yang penuh, sedangkan dirinya harus terabaikan.
"Mega permisi dulu Ma." Ucap Mega sebelum berlalu pergi dari hadapan Bu Kana.
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka 😍♥️
_
_
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1