PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Sakit...


__ADS_3

Hembusan angin malam masuk tanpa permisi kedalam kamar seorang gadis yang tengah termenung di dalam kamarnya. Satu minggu telah berlalu sejak kejadian dimana Bu Kana menumpahkan semua emosi nya di rumah Bu Nurul.


Sejak kejadian saat itu, Elsa lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar. Ia enggan untuk bertemu siapapun yang ada di rumahnya. Hal itu membuat Pak Roni menjadi bersedih karena melihat putrinya yg perlahan menuju kehancuran hatinya.


Elsa terus menatap ponselnya, dimana banyak momen indah bersama Ivan disana. Ia membuka akun sosial media miliknya untuk melihat apa saja yang di unggah Ivan akhir-akhir ini.


Elsa mengehela nafasnya ketika tak menemukan apapun disana. Ia hanya melihat beberapa Video dari teman sekelasnya yang menandai akun Ivan. Karena penasaran, Elsa sengaja membuka Video itu.


Bulir bening kembali turun tanpa di komando, membasahi pipi yang tak tersentuh make up sama sekali. Ia terus memandang video yang isinya hanya kebersamaan teman sekelasnya bersama Ivan, namun yang membuat Elsa menangis bukanlah itu, Disana ia melihat Ivan sedang menikmati sebatang rokok dengan wajah yang layu.


"Maafkan aku Van. Kamu menjadi seperti ini pasti gara-gara aku kan Van." Lirih Elsa yang terus memandang Ivan disana.


Elsa menutup ponselnya, ia merebahkan tubuhnya ketika mendengar suara pintu yang di ketuk. Ia pura-pura tidur dengan posisi tubuh yang membelakangi pintu.


Pak Roni masuk ke dalam kamar putrinya yang temaram itu. Pak Roni berjalan menuju jendela yang masih terbuka lebar dan menutupnya agar putri yang paling di cintainya tidak merasakan dinginnya angin malam.


"Elsa, Papa tidak suka dengan situasi ini. Papa tidak suka melihat kamu layu seperti ini." Lirih Pak Roni sembari mengusap rambut Elsa yang sedikit berantakan.


Pak Roni menatap Elsa yang sedang terpejam itu, Rasa sakit terus menjalar dalam hatinya, apalagi ketika melihat sisa air mata yang masih membasahi pipi mulus Elsa.


"Papa hanya ingin kamu bahagia Elsa. Kenapa kamu harus memenuhi kekonyolan Mama mu itu?" Ucap Pak Roni sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh Elsa yang sedang meringkuk.


Setelah beberapa saat duduk di ranjang Elsa, Pak Roni memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Elsa kembali membuka kelopak matanya, ia mengubah posisinya dengan duduk bersandar di ranjangnya.


"Ivan..." Elsa bergumam pelan dengan kepala yang menengadah menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya berkelana jauh memikirkan pria yang di cintainya selama ini.


Penunjuk waktu sudah berada di angka dua dini hari, rasa kantuk perlahan menyerang dirinya, membuat kelopak mata yang indah itu perlahan menutup dengan diiringi dengkuran halus yang terdengar lirih.


...💠💠💠💠...


Pernikahan yang di idamkan Bu Kana kurang sebentar lagi akan terlaksana, hanya menunggu waktu dua minggu saja Elsa akan menjadi istri Dimas, seorang Pria yang di pilihkan Bu Mala untuk keponakannya.

__ADS_1


Sudah tiga hari Elsa tidak keluar dari kamarnya. Ia sakit, demam tinggi terasa dalam dirinya. Setiap malam Mak Tina menemani nya tidur, Dan selama tiga malam juga Mak Tina mendengar Elsa memanggil nama Ivan di setiap tidurnya.


"Mak bagaimana keadaan Elsa, apa dia mau minum obatnya?" Tanya Emran ketika melihat Mak Tina keluar dari kamar Elsa.


"Neng Elsa tidak mau minum obat Den." Ucap Mak Tina dengan raut wajah yang resah.


"Den, kalau saya boleh ngasih saran, Datangkan saja pria yang biasa di sebut neng Elsa setiap malam. Neng Elsa selalu memanggil nama 'Ivan' , mungkin dia merindukan pria itu." Ucap Mak Tina.


"Saya permisi Den." Ucap Mak Tina ketika melihat Emran yang masih terdiam.


Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya Emran berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya. Ia terlihat serius ketika berbicara dengan seseorang di sebrang sana.


"Papa atur saja bagaimana caranya. Yang jelas jangan sampai Mama pulang cepat hari ini. Papa ajak makan malam atau apalah yang membuat Mama tidak curiga." Ucap Emran sebelum panggilan terputus.


Emran kembali menatap ponselnya, raut wajah serius terpancar dari wajah tampannya. Ia kembali menghubungi seseorang yang sangat di rindukan oleh adiknya.


"Baiklah, aku tunggu kedatanganmu nanti. Tolong usahakan ya." Ucap Emran di menit terakhir ketika ia berbicara dengan Ivan lewat sambungan telfonnya.


*


*


"Ivan..." Lirih Elsa sembari tangannya terulur ke wajah tampan yang sedang duduk di samping ranjangnya.


"Aku sudah gila, bahkan aku melihat wajah Ivan di dalam kamarku." Gumam Elsa pelan dengan wajah yang terlihat pucat.


Ivan meraih telapak tangan yang ada di pipinya. Ia mengecup berkali-kali telapak tangan dingin yang ada di genggamannya.


"Bangunlah, aku ada di kamarmu. Kamu tidak bermimpi." Ucap Ivan dengan tangan yang mendarat di pipi Elsa.


Elsa menyubit tangannya sendiri tatkala mendengar suara Ivan yang terdengar nyata di indera pendengarannya.

__ADS_1


"Ivan... kamu ada disini?" Elsa terperanjat dari tempatnya. Ia duduk sembari menangkup kedua pipi Ivan.


Elsa mengedarkan pandangannya. Ia menatap Emran yang sedang berdiri tak jauh dari pintu kamar. Emran memberi isyarat bahwa Kedua orangtunya tidak ada di rumah dan seketika itu pula Elsa berhambur ke dalam pelukan Ivan.


"Ivan... Aku minta maaf. Aku sudah membuat kamu menjadi berantakan." Ucap Elsa dengan wajah yang terbenam di dada bidang Ivan.


Emran berjalan keluar dari kamar Elsa, ia ingin memberikan waktu untuk mereka berdua saling melepas rindu satu sama lain.


"Hey tenanglah!" Ivan mengurai tubuh Elsa. Ia menatap manik hitam yang terlihat berembun itu.


"Aku baik-baik saja El." Lanjut Ivan.


"Tidak Van, kamu tidak baik-baik saja. Aku melihat kamu merokok di video yang di unggah Firman. Jangan merusak dirimu gara-gara aku Van." Elsa menundukkan kepalanya.


"Bukan kah kamu sendiri sudah tau kalau aku merokok sejak pertama kuliah?" Tanya Ivan.


"Iya aku tau, tapi kamu tidak pernah merokok sebanyak itu Van!" Ucap Elsa.


"Jangan terlalu memikirkan aku Elsa. Aku baik-baik saja. Seharusnya kamu yang menjaga diri. Lihatlah, tubuhmu semakin kurus seperti ini." Ucap Ivan sembari menatap Elsa dari ujung rambut sampai kakinya.


Ivan meraih piring berisi makanan untuk Elsa yang ada di atas nakas. Dengan penuh cinta ia menyuapi Elsa sampai selesai. Ia juga mengambil obat yang tersedia disana untuk di minum Elsa.


"Kamu harus sembuh El. Aku tidak mau melihat kamu sakit seperti ini. Berjanjilah kepadaku untuk menjadi gadis yang ceria seperti sebelumnya." Ucap Ivan sembari mengusap pipi tirus Elsa.


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka😍♥️


_

__ADS_1


_


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2