
Siang telah berganti malam, waktu pun terus berjalan tanpa kenal lelah. Hari demi hari telah Ivan lalui dengan berbagai obat-obatan yang masuk kedalam tubuh, demi untuk sebuah kesembuhannya. Tekadnya sangat kuat, apalagi ketika melihat perut istrinya yang semakin membesar.
Tujuh bulan, Ya itulah usia kandungan Elsa saat ini. Meski perutnya semakin membesar, ia selalu menemani Ivan berobat ke rumah sakit. Tak hanya itu, Pak Hamid juga membawa Ivan untuk berobat ke beberapa tempat pengobatan alternatif. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu tentang penyakit Ivan, termasuk Pak Hamid dan Bu Nurul.
Dengan perut yang semakin membesar, Elsa harus menyimpan sendiri kesedihannya. Beberapa bulan yang lalu kondisi Ivan sempat menurun. Dokter menyarankan agar Ivan melakukan kemoterapi, tapi Ivan menolak untuk melakukan semua itu.
Pak Roni jarang mengunjungi Elsa dan Rafa karena Elsa lah yang mendatangi Pak Roni ke pabrik bersama Rafa. Ia tidak mau jika Pak Roni mengetahui kondisi suaminya saat, ia selalu mengatakan jika Ivan sibuk mengurusi usaha sepatunya.
Sejak Ivan sakit, Pak Hamid lah yang mengurus semua usaha nya, sedangkan Bu Nurul fokus mengasuh Rafa.
"Fokuslah menemani suamimu Nak, jangan khawatirkan Rafa. Bunda bisa mengasuh Rafa sendiri." Ya, itulah kalimat yang membuat hati Elsa tenang jika meninggalkan Rafa dirumah.
Sekitar dua minggu ini, kondisi Ivan berangsur membaik. Dokter pun heran ketika melihat kondisi Ivan saat ini. Sebuah anugerah yang begitu indah telah datang dalam keluarga kecil Ivan.
Sebuah rasa sedih perlahan memudar, berganti dengan sebuah senyum membahagiakan untuk menanti harapan. Rasa sesak dalam dada yang di rasakan Elsa beberapa bulan ini berangsur menghilang.
"Sayang, jangan meminta bantuan apapun kepada Papa atau pun Mama. Kita akan berusaha sendiri walau harus menjual apapun yang kita miliki. Aku tidak ingin kamu bersedih ketika nanti Mama mengatakan hal buruk seperti dulu." Elsa terus mengingat apa yang di ucapkan Ivan ketika ia minta izin untuk meminta bantuan orangtuanya agar mau membiayai pengobatan Ivan.
Saat itu, Elsa sempat putus asa karena melihat kondisi Ivan menurun. Ia tidak tega melihat Ivan yang terbaring tak berdaya di ruang ICU dengan beberapa peralatan medis di tubuhnya. Tekadnya sudah bulat untuk datang ke rumah Bu Kana, namun Ivan terus menahannya.
Senyum Ivan terus mengembang tatkala melihat gelak tawa Rafa ketika bisa bermain dengannya, seperti sore ini di teras rumah. Rafa menggelar semua mainannya di teras rumah, ia menunjukkan kepada Ivan jika ia punya robot baru yang di belikan oleh Pak Hamid beberapa waktu yang lalu.
Rafa meletakkan robotnya, tatkala mendengar suara pedagang gulali keliling. Ia pun berlari menuju halaman rumah untuk membeli gulali berwarna-warni.
"Yah ... Fafa mau itu!" Ucap Rafa sambil menunjuk pedagang gulali yang berhenti di depan rumah.
"Biar aku saja Mas." Tiba-tiba Elsa keluar dari pintu rumah dengan membawa semangkuk makanan untuk putranya itu.
Beberapa saat setelah membeli gulali yang di inginkan Rafa, Mereka berdua kembali duduk di teras. Rafa berjalan menghampiri Ivan dengan membawa dua gulali di tangannya.
"Ayah satu ..." Rafa memberikan satu gulalinya untuk Ivan. Tentu saja hal kecil itu membuat Ivan tersenyum bahagia karena melihat pertumbuhan putranya yang tidak kurang dari apapun.
"Terima kasih Rafa." Ucap Ivan sembari mengusap rambut putranya.
__ADS_1
"Rafa ... sini makan dulu sama Mama. Nanti saja makan gulalinya." Ucap Elsa yang sejak tadi memasang raut wajah bahagia.
Gelombang besar yang pernah menghantam rumah tangganya, kini berangsur surut. Perlahan kebahagiaan dalam keluarganya kembali seperti dulu. Elsa sangat bersyukur dengan keadaan yang terjadi saat ini.
...💠💠💠💠...
Hari yang melelahkan telah dilalui oleh Emran. Setelah menempuh perjalanan panjang, ia harus datang ke pabrik milik Pak Roni, setumpuk pekerjaan telah menantinya disana. Tepat pukul lima sore, mobilnya masuk ke dalam garasi rumah megah Bu Kana.
Emran masuk ke dalam rumahnya, terlihat Bu Kana sedang duduk santai di ruang keluarga dengan pandangan yang fokus pada sebuah majalah yang ada di pangkuannya.
"Assalamualaikum ..." Ucap Emran ketika sampai di ruang keluarga.
"Waalaikumsalam ..." Bu Kana mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Di tatapnya wajah tampan putranya yang terlihat lelah itu.
"Hmmm, yang baru di kasih kejutan istrinya kok lesuh gitu sih wajahnya. Senyum dong!" Bu Kana berusaha menggoda Emran.
"Kejutan? Kejutan apa sih Ma?" Tanya Emran, ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan Bu Kana.
"Ih pura-pura lupa! kemarin malam kan Mega ke Malang tuh untuk menemui kamu. Katanya dia ingin memberi kamu kejutan, Ran." Ucap Bu Kana.
"Dimana Mega sekarang Ma?" Tanya Emran.
"Di kamar, dia juga baru sampai." Ucap Bu Kana.
Tanpa berpamitan, Emran langsung saja melangkahkan kakinya pergi. Ia menaiki satu persatu anak tangga yang terhubung ke lantai dua, dimana kamarnya bersama Mega berada.
"Dasar gak punya sopan santun! main pergi aja tanpa pamit!" Gerutu Bu Kana sembari menatap punggung Emran.
"Kapan ya Mega hamil, aku sudah tidak sabar untuk menimang anaknya Emran." Gumam Bu Kana. Beliau pun kembali fokus pada majalah kesehatan yang ada dalam pangkuannya.
Pintu kamar terbuka dengan kerasnya tepat ketika Mega telah selesai untuk memakai pakaiannya. Ia menatap pria yang diinginkannya selama ini dengan sorot mata penasarannya.
"Pelan-pelan kan bisa, Ran!" Ucap Mega dengan tenangnya.
__ADS_1
Emran mengunci pintu kamarnya sebelum berjalan menghampiri Mega yang sedang duduk di depan meja riasnya. Tatapan penuh emosi terlihat di mata Emran.
"Katakan untuk apa kamu datang ke Malang!" Ucap Emran dengan suara yang berhasil membuat Mega meletakkan pensil alisnya.
Ia pun membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan Emran. Ia berdiri dan menyandarkan panggulnya di meja rias.
"Mama tadi mengatakan jika kamu pergi menemuiku! Apa yang sudah kamu lakukan kepada Dina?" tanpa basa basi lagi, Emran pun bertanya pada intinya.
"Ah sial!!! kenapa Mama mengatakan hal ini sih! kamu bodoh Mega, bodoh! kenapa kamu bisa lupa kalau Mertuamu akan mengatakan semua ini!" Mega bermonolog dalam hatinya. Ia pun memberanikan diri untuk menatap sorot mata yang menakutkan di hadapannya.
"Katakan!!" Emran mulai hilang kendali, Suaranya pun meninggi.
"Aku tidak melakukan apapun, Emran. Aku hanya ingin bertemu dengan dia." Ucap Mega.
"Bohong!!" Ucap Emran lagi.
"Aku serius, Ran. Aku hanya sekedar ngobrol dengan dia." Ucap Mega.
Emran semakin geram ketika melihat wajah Mega yang terlihat panik. Ia menerka apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau sampai terjadi ada apa-apa dengan istri dan calon anakku, lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadamu!" Ucap Emran dengan penuh penekanan.
Emran pun berlalu pergi dari kamarnya, meninggalkan Mega seorang diri dikamar. Bulir air mata perlahan turun dari pelupuk mata Mega, sebuah air mata penyesalan yang tersirat disana.
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka♥️😍
_
_
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️