
Hembusan angin malam menemani sosok pria yang sedang termenung di teras rumahnya. Ya, pria itu adalah Ivan. Dalam satu minggu ini ia terus memikirkan Elsa, ia terus mencari cara bagaimana agar Bu Kana merestui hubungannya.
Kedua orangtuanya sudah mengetahui permasalahannya dengan Elsa. Awalnya Bu Nurul sempat melarang Ivan melanjutkan hubungannya dengan Elsa, namun beliau menjadi tak tega ketika melihat wajah sendu putranya itu.
Ivan tak tahu harus bagaimana lagi menaklukkan hati keras Bu Kana. Ia hanya pria sederhana yang memiliki cinta untuk Elsa, namun Bu Kana menginginkan gunung emas untuk tetap menjaga ego dan gengsinya di hadapan keluarga besarnya.
"Apalagi yang harus aku lakukan?" gumam Ivan sembari menatap gemerlap bintang yang ada di atas sana.
Pandangan Ivan beralih ke layar ponsel yang ada di sampingnya. Nama 'Elsayang' tertulis di layar ponsel Ivan. Ivan segera meraih ponselnya dan membaca pesan yang berhasil membuatnya tersenyum.
Besok kita keluar yuk. Aku tunggu di tempat biasa ya...
Setelah membalas pesan dari kekasihnya itu, ia kembali meletakkan ponselnya di lantai. Ivan menghela nafasnya kasar, ia benar-benar bingung dengan situasinya yang di hadapinya saat ini. Haruskah ia mengikuti saran Elsa, untuk menanam benihnya terlebih dahulu agar mendapat restu dari Bu kana.
"Tidak... tidak... aku tidak mungkin melakukan hal itu. Jangan bodoh Ivan, jangan bodoh!" Gumam Ivan pada dirinya sendiri sembari memijat pelipisnya.
Malam semakin larut, angin malam semakin mengusik jiwa tenang Ivan yang masih sibuk dalam pikiran yang melanglang jauh entah kemana. Dilihatnya penunjuk waktu yang ada di ponselnya. Ia segera beranjak dari tempatnya ketika melihat angka 00.00 dilayar benda pipihnya.
...💠💠💠💠...
Pagi ini matahari sedang malu untuk menampakkan sinarnya, awan tebal tengah menyelimuti Sang surya yang masih berada di langit timur Kota Mojokerto.
Ivan duduk di atas motornya, ia menunggu Elsa yang tak kunjung datang. Tidak biasanya Elsa telat dari waktu yang sudah di tentukan olehnya.
Tiga puluh menit kemudian, Ivan melihat Elsa turun dari mobil berwarna putih. Dengan langkah cepat, ia berjalan menemui Ivan yang sedang termangu di atas motornya.
"Maaf ya telat, tadi aku nunggu kak Emran sarapan dulu." Ucap Elsa ketika berdiri di samping Ivan.
"Mau jalan kemana hari ini?" Tanya Ivan sembari memberikan Helm yang di bawanya kepada Elsa.
__ADS_1
Elsa memutar bola matanya untuk mencari tempat yang ingin ia kunjungi. Beberapa saat kemudian, wajahnya menjadi berbinar tatkala menemukan sebuah ide.
"Kita ke Pacet yuk! Aku pengen nasi jagung yang ada di Sendi Van." Ucap Elsa.
Pacet merupakan sebuah daerah di kaki Gunung Welirang. Disana banyak tempat wisata yang biasa di kunjungi muda mudi untuk menghabiskan waktu bersama orang terkasihnya.
"Oke tuan putri. Ayo kita berangkat kesana." Ucap Ivan sebelum melajukan motornya.
Empat puluh lima menit kemudian mereka telah sampai di tempat yang di maksud oleh Elsa. Mereka berdua turun dari motornya untuk mencari tempat yang nyaman. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang dengan pemandangan lembah yang sangat indah di depannya.
"Elsa, apa rencana kamu selanjutnya?" Tanya Ivan setelah beberapa menit menghirup udara segar pegunungan.
"Entahlah Van. Aku juga bingung harus bagaimana menaklukkan Mama." Ucap Elsa tanpa menatap wajah tampan yang ada di sampingnya.
"Tadi pagi Papa dan Mama bertengkar. Mama tidak tahan melihat Papa yang mogok bicara sejak kejadian saat kamu datang ke rumahku." Elsa menatap wajah Ivan yang tengah sibuk memandanginya.
"Apa kamu ikut mogok bicara?" Ivan menyelidik.
Ivan menghela nafasnya, ia tidak menyangka Elsa akan melakukan hal itu kepada wanita yang sudah melahirkannya ke dunia yang fana ini.
"Seharusnya kamu tidak bersikap seperti itu El! Bagaimana kamu akan mendapat restu dari Mama mu kalau kamu saja tidak berbicara dengan beliau." Ivan menggenggam telapak tangan Elsa.
Elsa hanya diam sembari menatap manik hitam yang fokus menatapnya.
"Kamu belum mengenal Mamaku Van. Banyak bicara bukanlah cara yang tepat untuk menaklukkan hatinya yang keras itu." Ucap Elsa dengan raut wajah yang tertekuk.
Mereka berdua sama-sama terdiam, saling menatap satu sama lain. Mata indah milik Elsa kini di penuhi bulir-bulir air mata yang siap turun membasahi pipinya. Ia takut tidak akan bisa melihat lagi wajah tampan yang ada di hadapannya saat ini.
"Jangan menangis El! kita pasti bisa melewati semua ini." Ucap Ivan untuk meyakinkan Elsa. Ia mengusap cairan bening yang mulai membasahi pipinya.
__ADS_1
"Lebih baik kita ke kedai nasi jagung sekarang yuk! Kamu pasti sudah lapar kan?" Ucap Ivan agar Elsa kembali ceria seperti sebelumnya.
Elsa tersenyum tipis, ia teringat tujuannya datang ke tempat ini. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan Ivan untuk mencari kedai favoritnya.
Elsa memilih tempat yang ada di bagian depan kedai untuk menikmati pemandangan yang begitu indah di depannya. Dua porsi nasi jagung telah tersaji di mejanya. Mereka berdua menikmati makanan khas dari Pacet ini.
Elsa merogoh tas yang ada di sampingnya, tatkala mendengar ponselnya berdering. Ia menaikkan satu alisnya ketika melihat nama Emran disana.
" Hallo kak, ada apa?" Tanya Elsa setelah menekan tombol hijau di ponselnya.
"Kamu dimana? kenapa susah di hubungi?" Terdengar suara panik Emran.
"Aku lagi di Pacet Kak. Disini sinyalnya susah. Ada apa sih?" tanya Elsa yang di penuhi rasa penasaran.
"Pulanglah sekarang! Mama kecelakaan." Ucap Emran yang berhasil membuat Elsa melebarkan matanya.
Panik. Ya, itulah yang di rasakan Elsa saat ini. Meski hubungan dengan Bu Kana sedang tidak baik-baik saja, ia tetaplah seorang anak yang menyayangi orangtuanya. Pelupuk matanya kembali di penuhi air mata, hal itu membuat Ivan menjadi bingung.
"Ayo pulang Van! Mama ku kecelakaan!" Ucap Elsa dengan wajah paniknya.
_
_
Happy reading kak, semoga suka♥️😍
_
_
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️