
"Mama tunggu di sana ya...." Ucap Bu Kana sembari menunjuk bangku panjang yang ada di luar kasir.
Satu persatu barang belanjaan di keluarkan Emran dari troli yang di bawanya. Sebenarnya ia begitu malas jika harus mengantar Bu Kana belanja bulanan seperti ini. Wajahnya tertekuk melihat barang yang masih menumpuk di depan kasir.
Beberapa puluh menit kemudian, Emran sudah selesai dengan beberapa kantong kresek berwarna putih di dalam troli. Ia dan Bu Kana berjalan keluar dari Supermarket.
"Kemana lagi Ma?" Tanya Emran sembari memakai kacamata hitamnya. Ia memasang seat belt nya sebelum mobilnya berlalu dari tempat parkir.
"Kita pulang saja." Ucap Bu Kana.
Emran melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumahnya. Ia masih ngantuk karena tadi subuh baru pulang dari Malang untuk menemui Dina di rumahnya.
Bu Kana merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya setelah mendengar bunyi notifikasi dari ponselnya. Mata Bu Kana terbelalak tatkala melihat pemberitahuan keberadaan Elsa lewat GPS nya.
"Emran.... putar balik!" Ucap Bu Kana tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
"Kemana Ma? ini hampir sampai di rumah." Emran berdecak kesal.
"Lihatlah! Elsa berada di luar! Kira-kira ini dimana?" Bu Kana memberikan ponselnya kepada Emran.
"Ini kan daerah tempat tinggal Ivan. Astaga Elsa! Semoga kamu cepat pulang dari sana." Emran bergumam dalam hatinya.
Tanpa menjawab pertanyaan Bu Kana, Emran memutar balik mobilnya. Ia mengarahkan mobilnya untuk mengikuti arah GPS di Ponsel Bu Kana.
Beberapa menit kemudian, Mobil Emran berhenti di kampung tempat tinggal Ivan. Bu Kana meminta Emran untuk masuk ke dalam Gang yang ada di depannya untuk mencari keberadaan Elsa.
Emran menghentikan mobilnya tatkala melihat mobil merah Elsa ada di halaman rumah seseorang. Karena tak sabar, Bu Kana turun untuk bertanya kepada salah satu warga yang ada di sana.
"Ternyata itu rumah Ivan! Ayo kita turun kesana, Emran!" Ucap Bu Kana setelah masuk ke dalam mobilnya lagi.
"Jangan Ma! kita tunggu disini, Mama telfon saja Elsa ya ma..." Ucap Emran sembari memandang Bu Kana.
__ADS_1
Tanpa menghiraukan ucapan Emran, Bu Kana keluar dari mobilnya, beliau berjalan menuju sebuah rumah sederhana dimana mobil Elsa terparkir disana.
Bu Kana melangkah pelan tanpa suara, seperti seekor singa yang sedang mengintai mangsanya. Beliau berdiri di samping pintu rumah Bu Nurul sembari mendengarkan pembicaraan di dalam sana.
Geram, itulah yang di rasakan Bu Kana saat ini. Bagaimana bisa Elsa menangis di rumah seorang pria yang tidak setara dengannya.
"Tidak seharusnya kamu minta maaf seperti itu, Elsa!!!" Ucap Bu Kana di pintu rumah Bu Nurul, beliau sudah tidak tahan lagi mendengar Elsa yang terisak di dalam sana.
"Pulang Elsa!!" Ucap Bu Kana dengan tatapan nyalangnya.
Semua yang ada di ruang tamu berdiri, mereka menatap raut wajah yang di penuhi amarah yang begitu besar itu. Elsa sangat terkejut ketika melihat kehadiran Bu Kana di rumah Ivan.
"Pulang!!" Ucap Bu Kana dengan mata yang melebar.
"Bu, sabar bu.... Silahkan ibu duduk dulu." Ucap Bu Nurul dengan suara lembutnya.
Bu Kana beralih menatap Bu Nurul yang ada di samping Elsa. Beliau mendengus kesal menatap ibu dari pria yang tidak di sukai nya selama ini.
"Seharusnya Anda melarang anak anda ini untuk tidak menghubungi putri saya lagi! Apa ibu tidak tau kalau anak saya sebentar lagi akan menikah!" Suara Bu Kana meninggi di hadapan Bu Nurul.
"Elsa sendiri yang datang Ma, tidak ada yang menyuruh Elsa datang kesini." sahut Elsa yang berusaha membela Bu Nurul.
"Cukup Elsa! Jangan membela pria ini!" Ucap Bu Kana sembari menunjuk Ivan yang ada di hadapan Elsa.
"Seharusnya kamu itu sadar kalau Elsa tidak pantas untuk menjadi pendampingmu! Lihatlah Elsa dengan segala yang di milikinya!" Bu kana menatap tajam ke arah Ivan.
"Dan untuk Anda Bu, seharusnya Anda menasehati anak anda agar tidak mendekati anak saya lagi!" Ucap Bu Kana dengan emosi yang berapi-api.
"Cukup Bu! Cukup! Anda tidak berhak untuk menghina anak saya! Keluarga kami memang bukan orang berada, tapi kami masih punya tata krama dan kasih sayang! Saya akan menasehati anak saya agar melupakan anak anda!" Ucap Bu Nurul dengan tatapan tajamnya.
"Elsa, bawa Mama mu pulang dari sini. Jangan kembali kesini lagi ya nak. Karena ini bukan tempat yang terbaik untuk kamu." Bu Nurul mengusap rambut panjang Elsa.
__ADS_1
"Tidak bu, tidak. Maafkan Elsa dan Mama Bu." Ucap Elsa dengan air mata yang bercucuran.
"Cukup Elsa! Ayo pulang!" Bu Kana menarik tangan Elsa. Beliau menyeret Elsa keluar dari rumah Bu Nurul. Elsa menangis sembari menatap wajah sendu Ivan.
Sepeninggalan Elsa dan Bu Kana dari rumahnya, Bu Nurul menangis di sofa ruang tamunya. Semua ucapan Bu Kana berhasil membakar telinganya.
"Bunda... Jangan menangis seperti ini." Ucap Ivan yang sudah berpindah tempat duduk di samping Bu Nurul.
"Jangan di ambil hati ya Bund." Ucap Ivan lagi.
Bu Nurul menghela nafasnya, beliau menatap Pak Hamid yang masih enggan untuk mengeluarkan suaranya. Mata merah Bu Nurul beralih menatap Ivan yang ada disampingnya.
"Bunda tidak terima kamu di hina seperti itu Van. Tidak ada seorang Ibu yang akan diam saja jika anaknya di hina orang lain." Ucap Bu Nurul dengan suara seraknya.
"Jangan temui Elsa lagi Van! biarkan dia menikah dengan pria yang sepadan dengan keluarganya! Bunda tidak akan rela jika kamu yang menjadi jodoh Elsa." Ucap Bu Nurul dengan tegasnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Ivan, Bu Nurul beranjak dari tempat duduknya. Beliau berlalu pergi menuju kamarnya. Sepeninggalan Bu Nurul, Ivan menyandarkan tubuhnya di sofa yang ia tempati saat ini. Ia memijat keningnya karena memikirkan situasi yang semakin sulit ini.
"Jangan terlalu banyak pikiran Van. Ikuti saja jalan yang di berikan tuhan kepadamu, kamu pasti akan menemukan sebuah kebahagiaan jika kamu bersabar menjalaninya." Ucap Pak Hamid sebelum pergi dari ruang tamu miliknya.
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka♥️😍
_
_
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1