
Tiga bulan kemudian...
Suara kicauan burung yang terbang untuk mencari sarangnya terdengar saling bersahutan. Rona jingga tengah terlukis di langit biru untuk menemani sang surya pulang ke peraduannya. Asap rokok mengepul di gazebo yang ada di belakang rumah megah Pak Roni, alunan musik yang menenangkan terdengar dari ponsel milik Emran.
Dina Silvana, sebuah nama wanita yang kini sudah tinggal di rumah yang di kontrak oleh Emran di Malang. Tepat setelah empat puluh hari meninggalnya Pak Rusdi, Emran memboyong istri nya itu untuk tinggal di tempat yang lebih nyaman bersamanya.
Senyum tipis terbit dari bibirnya, tatkala bayangan wajah keenakan Dina saat itu, saat mereka pertama kali melakukan cocok tanam di lahan gundul yang belum tersentuh selama ini.
Emran terus memikirkan wanita yang dua hari ini sudah ditinggalkannya sendirian di Malang. Ia sangatlah rindu dengan Dina, tapi ada banyak pekerjaan yang menantinya disini. Emran ingin mengakhiri semua rasa ini, ia lelah harus menyembunyikan statusnya dengan Dina saat ini, namun ia masih bingung harus mulai bercerita darimana kepada kedua orangtuanya.
"Emran!!" terdengar suara Bu Kana yang masih berada di ambang pintu.
"Mama dari tadi mencarimu, ternyata kamu disini." Ucap Bu Kana sembari berjalan ke tempat Emran berada saat ini.
"Mama darimana?" Tanya Emran ketika melihat penampilan Bu Kana yang berbeda.
"Mama tadi habis keluar dan jalan-jalan." Ucap Bu Kana yang kini duduk disamping Emran.
Sorot bahagia terpancar dari netra Bu Kana, hal itu membuat Emran menerka apa yang sudah terjadi kepada Bu Kana hingga beliau terlihat begitu bahagia.
"Mama kenapa?" Tanya Emran dengan wajah herannya, ia semakin penasaran karena melihat Bu Kana senyum-senyum sendiri.
Bu Kana mengalihkan pandangannya, kini ia menatap Emran dengan binar kebahagiaan yang terpancar dari netranya.
"Mama tadi habis bertemu Mega dan orangtuanya, ternyata ibunya juga seorang Dokter gigi sama seperti Mama, Ran." Ucap Bu Kana dengan semangat yang berapi.
"Terus?" Tiba-tiba Emran menjadi datar ketika Bu Kana menyebut nama Mega.
"Kamu kok datar banget sih, Ran?" Bu Kana menjadi kesal karena Emran tidak seantusias seperti dirinya ketika menceritakan tentang Mega.
__ADS_1
"Karena Emran tidak tertarik jika kita membahas Mega, masih banyak bahan yang lebih menarik untuk di bahas selain Mega Ma." Ucap Emran yang kini sudah berdiri dari tempatnya.
Emran memasukkan bungkus rokok beserta korek apinya kedalam saku celana jeans nya, lalu ia berlalu begitu saja dari gazebo yang ia tempati.
"Emran! Mama belum selesai! kamu gak punya sopan santu hmm!" Teriak Bu Kana ketika Emran berlalu begitu saja tanpa berpamitan kepada beliau.
Braaak!!!
Karena kesal, Emran membanting pintu kamarnya. Kini ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang king size miliknya. Ia menatap langit-langit kamar berwarna putih untuk mencari sebuah solusi.
"Bagaimana caranya aku memberitahu Papa dan Mama jika aku sudah menikah dengan Dina. Ya Tuhan, semua ini sangat membingungkan!" Emran bergumam dalam hatinya.
Suara ketukan pintu kamar berhasil membuyarkan semua angan yang terkumpul dalam pikirannya. Ia segera beranjak untuk melihat siapa yang datang ke kamarnya. Wajah tampan yang biasa ia tampilkan, kini berganti dengan wajah masam karena di hadapannya ada wanita paruh baya yang telah melahirkannya.
"Mama ingin bicara, Ran. Boleh Mama masuk?" Tanya Bu Kana.
Tanpa menjawab, Emran membuka lebar pintu kamarnya. Ia berlalu dari hadapan Bu Kana dan segera duduk di sofa abu-abu miliknya.
"Ada hal penting yang harus Mama katakan padamu, Emran." Ucap Bu Kana yang kini memasang wajah seriusnya.
Emran mengerutkan keningnya, ia menerka apa kiranya yang akan di bahas Bu Kana.
"Mama ingin kamu menikah dengan Mega, Ran." Ucap Bu Kana yang membuat Emran terhenyak dari tempat duduknya. Ia berdiri di hadapan Bu Kana dengan mata yang melebar.
"Apa Mama ingin aku seperti Elsa dulu? menikah dengan orang yang tidak aku cintai? Apa mama ingin mengulang semua masalah dua tahun yang lalu?" Emran memborbardir Bu Kana dengan beberapa pertanyaan.
"Mama tahu ini sangat tidak adil untukmu, Ran. Tapi, hanya kamu harapan Mama satu-satunya. Lihatlah, adikmu sudah membangkang Mama, apa kamu juga mau membangkang Mama, Emran?" Tanya Bu Kana dengan wajah seriusnya.
Emran berdecak kesal mendengar pertanyaan Bu Kana, ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Tatapan mata Bu Kana membuatnya merasa bersalah jika harus menolak keiinginan sang Mama.
__ADS_1
"Papa tidak akan setuju jika Mama melakukan hal ini kepada Emran. Apa Mama ingin bertengkar lagi dengan Papa?" Tanya Emran dengan wajah yang memerah karena menahan emosinya.
"Maka dari itu, sembunyikan semua ini dari Papa mu. Mama ingin kamu bicara dengan Papa jika Mega itu pilihanmu sendiri." Tutur Bu Kana yang membuat Emran semakin melebarkan matanya.
Amarah yang memuncak di ubun-ubun kini telah dirasakan oleh Emran. Ia membalikkan tubuhnya agar tidak melihat Bu Kana yang kini menatapnya.
"Emran sudah punya pilihan sendiri Ma, dan Emran juga sudah ... " Emran menghentikan kata-katanya karena Bu Kana langsung memotong ucapannya.
"Mama tidak mau tahu, meski kamu punya pacar ataupun tidak, yang jelas Mama ingin kamu menuruti Mama. Siapa lagi kalau bukan kamu Emran? Apa kamu juga akan membangkang Mama? Kenapa? Apa salah Mama kepada kalian hingga kamu dan Elsa tega menghukum Mama seperti ini?" Cecar Bu Kana dengan suara yang bergetar.
Emran menghela nafasnya yang berat, ia berkacak pinggang dengan posisi membelakangi Bu Kana. Ia benar-benar kesal telah ada di posisi ini.
"Kalau memang kamu tidak mau menikah dengan Mega, terserah! kalau kamu bilang ke Papa tentang rencana Mama, terserah! Biarlah semua menjadi berantakan! tapi setelah ini, jangan cari Mama! Sudah tidak ada gunanya lagi Mama hidup kalau kalian tega melakukan semua ini kepada Mama!" Teriak Bu Kana dengan bulir air mata yang berjatuhan.
Rasa kecewa dan Amarah kini menyatu dalam diri Bu Kana. Beliau segera pergi dari kamar Emran dengan air mata yang mengalir deras dari pelupuk matanya, Beliau tidak tahan melihat Emran tidak menghiraukan beliau.
Braakkk!!!!
Pintu kamar Emran di tutup Bu Kana dengan keras. Emran menatap pintu yang telah tertutup rapat itu dengan sejuta perasaan yang bercampur aduk dalam dirinya. Ia segera meraih ponsel yang ada di atas ranjangnya untuk menelfon seseorang.
"Aku tunggu di RnR cafe jam delapan malam. Jangan sampai telat!" Ucap Emran ketika panggilannya terhubung dengan seseorang di seberang sana.
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka β₯οΈπ Maap ye kemarin gk up, othor sibuk bngt di RLππ sebagai gantinya nanti othor akan up lagiπ tapi tidak bisa menentukan waktunya yaπππ
_
__ADS_1
_
β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ