
Dua minggu kemudian...
Suara kicauan burung terdengar merdu di pagi ini. Sang surya masih malu-malu menampakkan sinarnya yang menghangatkan jiwa semua insan. Hari ini adalah hari pernikahan Elsa dengan Dimas.
Meski hanya akad nikah, di ruang tamu yang luas sebuah dekorasi indah telah tertata disana, bunga warna warni menghiasi setiap sudut ruang tamu.
Tak hanya itu, Kamar berwarna merah muda Elsa kini sudah di ubah menjadi kamar pengantin dengan dekorasi berwarna putih yang melambangkan sebuah kesucian.
Dua orang perias pengantin sedang sibuk memoles wajah Elsa dengan berbagai alat tempur kecantikan yang sudah di siapkan di atas meja rias Elsa. Sebuah kebaya berwarna putih dengan potongan dada rendah juga sudah menggantung di depan almari besar Elsa.
"Adek terharu ya? kok dari tadi basah terus matanya." Ucap Salah satu perias paruh baya yang sedang memasang bulu mata palsu di mata Elsa.
"Iya Bu." Jawab Elsa sembari tersenyum tipis.
"Semoga Ivan menepati janjinya. Semoga usahaku tadi malam tidak sia-sia." Gumam Elsa dalam hatinya.
Semua persiapan telah selesai dilakukan. Beragam makanan telah tersusun rapi di ruang tengah yang telah di ubah menjadi ruang prasmanan.
Pak Roni berdiri di tangga rumahnya, beliau mengamati semua orang yang berada di lantai dasar rumahnya. Nafasnya terdengar berat ketika melihat tempat akad nikah sang putri.
"Ada apa Pa?" Tanya Bu Kana yang baru saja keluar dari kamarnya. Beliau sudah cantik dengan kebaya simpel dan make up tipis di wajahnya.
"Mama yakin dengan pilihan Mama kali ini?" Tanya Pak Roni sembari menatap wajah cantik sang istri.
"Tentu. Mama sangat yakin Pa." Ucap Bu Kana
"Tiba-tiba perasaan Papa tidak enak, entah kenapa!" Ujar Pak Roni.
"Jangan berlebihan Pa!" Ucap Bu Kana.
Tanpa berpamitan, beliau menuruni satu persatu anak tangga agar sampai di lantai dasar rumahnya. Beliau menyapa beberapa kerabat yang baru saja datang, termasuk Bu Mala.
Tepat pukul delapan pagi, Dimas beserta rombongannya telah sampai di kediaman Pak Roni. Mereka di persilahkan masuk oleh sang tuan rumah.
"Tante, apa Elsa sudah siap?" Tanya Dimas kepada Bu Kana.
__ADS_1
"Mungkin sebentar lagi, dia masih di rias." Ucap Bu Kana dengan senyum tipisnya.
Dimas duduk di ruang tamu bersama keluarganya, ia menatap dekorasi tempat akad nikah nya nanti. Senyum tipis terbit dari bibirnya.
"Setelah kita sah menjadi suami istri, aku akan membawamu pergi jauh meninggalkan kota ini, Elsa!" Gumam Dimas dalam hatinya.
Beberapa puluh menit kemudian, terlihat Elsa menuruni tangga rumahnya bersama dengan Bu Kana. Tidak ada raut kebahagiaan yang terlukis di wajah cantiknya. Tatapan matanya kosong seperti rumah yang tak berpenghuni.
Elsa duduk di samping Dimas yang sejak tadi tiada henti tersenyum bahagia. Mereka hanya menunggu penghulu yang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Pak Roni.
Semua orang yang ada di ruang tamu tiba-tiba berdiri tatkala ada enam orang pria dengan postur tubuh yang kekar masuk ke dalam rumah Pak Roni. Semua orang bertanya-tanya siapa sebenarnya para pria ini. Dua orang berpenampilan seperti preman sudah berada di samping Dimas.
"Anda semua ini siapa? dan ada apa datang ke rumah saya?" Tanya Pak Roni dengan wajah yang terlihat bingung.
"Kami dari kepolisian Polda Jawa timur pak. Saya mau menangkap saudara Dimas Syahputra. Dan ini suratnya." Ucap pria berjaket kulit berwarna putih.
Semua orang yang ada di rumah Pak Roni menjadi heboh ketika dua orang preman ada di samping dimas mengeluarkan borgol dari dalam jaketnya.
"Anda tidak bisa menangkap saya! Mana buktinya jika saya bersalah!" Teriak Dimas yang sedang memberontak.
"Gudang tempat penyimpanan Narkotika Anda telah di temukan beserta jaringan anda, Tuan Dimas Syahputra!" Ujar pria yang tadi memberi Pak Roni surat penangkapan.
"Saudara Dimas sudah Empat bulan ini menjadi target kami, dia ketua sindikat pengedaran narkotika terbesar di jawa timur. Gudang penyimpanan beserta anak buahnya sudah kami amankan." Ucap pria berwajah seperti preman yang ternyata adalah seorang intel.
Semua heboh dengan penangkapan Dimas. Bu Kana dan Bu Mala langsung ambruk di tempatnya. Kedua bersaudara itu lemas ketika mendengar semua penjelasan polisi.
Perlahan Elsa meninggalkan ruang tamu, ia berlari masuk ke dalam rumahnya. Namun ketika kakinya menginjak anak tangga pertama, tangan kirinya ada yang menarik, hal itu membuat Elsa terkejut bukan main.
"Mak Tina!" Teriak Elsa.
"Ini saatnya Neng Elsa kabur. Emak sudah membuka pintu samping! Neng Elsa kaburlah lewat sana karena di luar ada Mas Ivan." Ucap Mak Tina yang terus menyeret Elsa ke bagian belakang rumahnya.
Tidak ada satupun yang menyadari ketika Elsa tidak ada di ruang tamu. Karena semua orang sedang fokus menyaksikan Dimas yang sedang di periksa anggota kepolisian.
"Terima kasih Mak! terima kasih karena Mak Tina telah membantu Elsa pergi dari rumah ini." Ucap Elsa setelah keluar dari pintu gerbang samping rumahnya.
__ADS_1
"Cepat lari Neng!! jangan sampai ketahuan!" Ucap Mak Tina yang buru-buru menutup gerbang samping majikannya.
Elsa berlari menuju jalan yang ada di depan rumahnya. Ia melihat Ivan yang sedang berada tak jauh dari rumahnya.
"Ivan!! Putar balik motormu Van!" Teriak Elsa yang sedang berlari menuju tempat Elsa berada.
Karena kesulitan untuk berlari, Ia melepas high heels dan span panjang bermotif batik yang dipakainya. Semua ini sudah di persiapkan oleh Elsa, ia sengaja memakai celana panjang di balik spannya.
Tanpa alas kaki, Elsa telah sampai di tempat Ivan berada. Ia segera naik ke jok belakang Ivan.
"Cepat Ivan! cepat!" Ucap Elsa.
"Ini ada apa El?" Tanya Ivan yang terlihat bingung ketika melihat Elsa.
"Sudah cepat bawa aku pergi dari sini! nanti aku jelaskan!" Ucap Elsa yang terus menoleh ke belakang karena takut ketahuan oleh keluarganya.
"Jadi sekarang, aku sedang membawa pengantin yang kabur?" Tanya Ivan yang belum juga menyalakan motornya.
"Buruan Ivan! jangan sampai kita tertangkap!" Ucap Elsa dengan tangan yang terus memukul lengan Ivan.
Tanpa berpikir panjang, Ivan segera menyalakan mesin motornya, ia membawa Elsa yang masih lengkap dengan make up dan sanggulnya entah kemana. Yang pasti saat ini ia sedang membawa kabur seorang calon pengantin.
Sementara itu, di atas balkon lantai dua rumahnya, terlihat Emran yang sedang tersenyum simpul. Ia bahagia karena Elsa batal menikah dengan Dimas. Beberapa menit yang lalu, ia melihat Elsa menjauh dari ruang tamu, ia juga melihat Mak Tina menyeret Elsa ke belakang rumahnya, jadi ia memutuskan untuk naik ke lantai dua dan mengamati Elsa dari balkon rumahnya.
"Waktunya menyaksikan drama keluarga." Lirih Emran yang kembali turun ke ruang tamu. Ia tersenyum simpul ketika membayangkan kemarahan Pak Roni nanti.
_
_
_
Selamat membaca, semoga suka kak😍♥️
_
__ADS_1
_
❤️❤️❤️❤️