
"Turunlah, kita sudah sampai El." Ucap Ivan ketika motor hitamnya berhenti di tempat parkir Taman Brantas Indah yang ada di pinggiran sungai Brantas. Sebuah tempat bersejarah untuk mereka berdua.
Mereka berdua berjalan memasuki taman dengan lampu temaram di sepanjang jalan setapak menuju sebuah bangku kosong di ujung taman, tak lupa Ivan membeli beberapa makanan ringan dan minuman di kedai pemilik bangku yang ia tempati saat ini.
Sinar bulan purnama yang memantul di sungai yang tenang itu, menemani mereka berdua yang masih terdiam dalam pikiran masing-masing. Hampir dua puluh menit mereka duduk di tempat gelap ini.
Elsa mengalihkan pandangannya, ia menatap pria yang ada di sampingnya. Wajah tampan yang sedang menatap lurus kedepan.
Sedih, itulah yang di rasakan Elsa saat ini. Ia tak sanggup untuk menatap wajah tampan yang terlihat menyimpan sebuah kesedihan. Elsa mengusap sudut matanya yang di penuhi bulir air mata.
Elsa meraih telapak tangan Ivan. Di genggamnya tangan dingin milik Ivan, lalu Ia mengarahkan telapak tangan itu untuk menyentuh pipinya yang basah.
Elsa memejamkan matanya untuk merasakan telapak tangan yang mulai bergerak pelan membelai pipi basahnya. Ia ingin merasakan sentuhan telapak tangan yang akan di rindukannya setelah ini.
"Van...." Lirih Elsa ketika membuka kelopak matanya.
Tanpa mengeluarkan suara, Ivan mengalihkan pandangannya untuk menatap gadis cantik yang selama ini mengisi hatinya.
"Aku sangat mencintaimu Van. Tolong percayalah!" Ucap Elsa dengan wajah seriusnya.
"Iya, aku tau itu El. Aku percaya kalau kamu sangat mencintaiku." Ucap Ivan sembari menatap Elsa dengan dalam.
"Bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke Hotel?" Tanya Elsa dengan wajah frustasi nya.
"Tidak El, aku tidak akan melakukan itu." Ivan menggelengkan kepalanya.
"Katanya dengan memberikan sebuah keperawanan, itu bisa menjadi bukti kalau seorang wanita sangat mencintai pasangannya." Ucap Elsa
"Ayo Van kita lakukan sekarang! Ambillah semua cinta dan kesucianku, karena aku tidak ingin siapapun mengambilnya. Semua ini hanya milikmu, Van." Ucap Elsa tanpa ragu.
Ivan hanya tersenyum, tak lama setelah itu ia menghela nafasnya yang berat. Sungguh ia takut untuk melakukan hal itu sebelum terikat sebuah pernikahan.
"Aku tidak mau kamu menjadi bodoh karena cinta El. Aku tidak ingin kamu membuktikan semua itu untukku. Siapapun yang akan menjadi suamimu, dialah yang berhak mendapatkan semua itu El." Ucap Ivan. Ia beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
Ivan berdiri membelakangi Elsa dengan kedua tangan yang di masukkan kedalam saku celananya. Ia tidak sanggup lagi menatap manik hitam milik Elsa yang berembun lagi.
Elsa pun ikut beranjak dari tempat duduknya, ia berdiri di samping Ivan yang sedang menatap air sungai di depannya.
"Kenapa kamu tidak mau melakukan itu Van? bukankah semua pria selalu ingin merasakan apa yang aku tawarkan tadi? atau kamu tidak mencintaiku Van, sehingga kamu membiarkan orang lain yang memiliknya?" Tanya Elsa dengan nafas yang tersengal karena menahan tangisnya.
Ivan mengalihkan tubuhnya menghadap Elsa. Tangannya menangkup kedua pipi mulus yang basah itu.
"Justru karena aku sangat mencintaimu El, aku tidak bisa melakukan hal besar itu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak merusakmu sebelum kita menikah!" Suara Ivan mulai meninggi karena perasaan yang bercampur aduk dalam hatinya .
"Kalau begitu ayo kita lakukan Van! Sungguh, aku tidak rela jika orang lain yang mengambil mahkota yang selama ini aku jaga!" Suara Elsa juga ikut meninggi.
Karena di penuhi perasaan yang membuncah dalam hatinya, Ivan segera meraup bibir berwarna merah mudah yang ada di depannya dengan sangat keras. Tidak ada kelembutan yang selama ini ia berikan kepada Elsa.
Elsa melingkarkan kedua tangannya di pinggul Ivan. Ia meremas jaket yang di melekat di tubuh Ivan tak kala ia merasakan gigitan kecil di bibirnya.
Ivan melepaskan tautan bibirnya, ia mendekap tubuh Elsa dalam pelukannya. Sebuah pelukan terakhir yang ia dapatnya dari Elsa.
"Aku sangat mencintaimu Elsa. Sungguh aku mencintaimu. Tolong, jangan biarkan aku menjadi seorang pendosa dengan mengambil kesucianmu yang hanya bisa di miliki oleh suamimu nanti." Ucap Ivan yang setelah itu menghujani puncak rambut Elsa dengan kecupan hangat berkali-kali.
Ivan menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang tamu. Pintu rumahnya tidak pernah di kunci sebelum ia pulang. Saat ini penunjuk waktu berada di angka sepuluh.
Ivan mengeluarkan dua bungkus rokok dari tas kecil yang selalu ia bawa bekerja. Ia membuka satu bungkus rokoknya dan mengeluarkan satu batang untuk di nikmatinya.
Ivan termenung, memikirkan cinta yang begitu sulit untuk ia miliki. Jalan terjal untuk mencapai sebuah puncak dari mencintai sungguh terasa sulit untuk ia lalui.
Pak Hamid keluar dari kamarnya, beliau melihat lampu ruang tamu yang masih menyala. Di liriknya penunjuk waktu di ruang tengah yang ada di angka dua belas.
Tanpa suara Pak Hamid berjalan ke ruang tamu, beliau ingin melihat apa yang sedang di lakukan Ivan sampai selarut ini.
Terkejut, ya itulah yang di rasakan Pak Hamid saat ini. Beliau melihat Ivan yang terbaring di sofa panjang miliknya dengan tangan yang mengapit sebatang rokok. Beliau melihat satu bungkus rokok kosong dan putung yang berserakan di lantai.
"Apa yang sedang di lakukan oleh Ivan?" tanya pak Hamid dalam hatinya. Beliau segera menghampiri Ivan yang masih terbaring di ruang tamu.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu merokok Van?" tanya Pak Hamid sembari mendudukkan tubuhnya di hadapan Ivan.
Ivan mengubah posisinya. Ia duduk menghadap Pak Hamid dan mematikan rokok yang baru setengah ia rasakan.
"Sejak kuliah, tapi Ivan merokok hanya ketika banyak pikiran. Waktu banyak tugas misalnya." Ucap Ivan dengan santainya.
"Apa ada masalah?" Tanya Pak Hamid sembari menatap wajah resah yang ada di hadapannya.
"Elsa akan menikah Yah." Ucap Ivan sembari menyandarkan tubuhnya di sofa yang ia tempati. Ia tersenyum dengan kepala yang menengadah ke atas.
Pak Hamid menghela nafasnya, ia begitu terkejut mendengar kabar dari putranya itu. Akhirnya, apa yang di khawatirkan Pak Hamid beberapa hari ini terjadi juga.
"Apa kamu tidak ingin melakukan sesuatu Van? kamu rela Elsa menikahi pria lain?" Tanya Pak Hamid.
Ivan menegakkan tubuhnya. Ia menatap Pak Hamid dengan sorot mata yang tidak bisa di jabarkan dengan kata-kata.
"Apa Ivan harus menghalangi seorang anak yang ingin berbakti kepada orangtuanya, Yah?" Tanya Ivan.
"Ayah tidak bisa menjawabnya Van. Itu sebuah pertanyaan yang sulit." Ucap Pak Hamid.
"Ivan hanya melakukan apa yang Ivan yakini benar Yah. Mau tidak mau, Ivan harus merelakan Elsa di miliki pria lain." Ucap Ivan dengan suara yang bergetar.
"Ya sudah kalau begitu, Ayah mau tidur dulu. Jangan begadang Van, tidurlah! besok kamu kerja pagi." Ucap Pak Hamid sebelum beranjak dari tempat duduknya.
Pak Hamid memilih untuk mengakhiri obrolan ini karena beliau sudah tidak tahan melihat mata dan bibir Ivan yang mengisyaratkan makna berbeda. Sebuah senyuman terbit dari bibirnya, namun dari sorot matanya terpancar sebuah kehancuran hati yang tiada tersisa. Ya, begitulah Ivan, Ia akan menyembunyikan rasa sedihnya dengan senyum manis yang menghiasi wajah tampannya.
_
_
Happy Reading kak, semoga suka😍♥️
_
__ADS_1
_
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️