PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Kabar buruk...


__ADS_3

Waktu terus berlalu begitu cepat. Tak terasa Ivan dan Elsa sudah masuk di penghujung kelulusannya. Hari ini adalah hari terakhir mereka mengikuti Ujian Nasional. Selama satu tahun ini mereka berdua fokus di sekolahnya, mereka berdua tidak pernah lagi bertemu di luar jam sekolah.


"Van, ntar jalan yuk!!" Ajak Elsa ketika berada di taman yang ada di depan sekolahnya.


"Kemana El?" Tanya Ivan sembari memberikan satu botol air mineral kepada Elsa.


"Entahlah Van, yang pasti aku pengen keluar gitu Van!! kan kita udah selesai ujiannya." Ucap Elsa sembari menatap Ivan yang duduk di sebelahnya.


"Ya sudah kita sekarang pulang yuk!! kamu nanti di jemput jam berapa?" Tanya Ivan.


"Jam satu gimana?" Tanya Elsa.


"Boleh. Tapi gak usah lama-lama ya, biar gak ketahuan Mama kamu entar." Ujar Ivan sembari memakai jaketnya.


"Iya Van. Jemput aku di tempat biasa ya..." Ucap Elsa sebelum beranjak dari tempat duduknya.


Keduanya melangkahkan kaki menuju tempat parkir kendaraan masing-masing untuk segera pulang dan mengganti seragam batiknya dengan baju santai.


Tak terasa waktu sudah sampai di angka satu. Ivan sudah stand by di tempat yang sudah di tentukan Elsa tadi. Senyumnya mengembang ketika melihat Elsa berjalan menuju tempatnya saat ini.


Tanpa menunggu lama lagi, motor Ivan berjalan menuju galeri foto yang ada di depan stasiun Mojokerto. Elsa ingin mengabadikan momen kebersamaannya dengan Ivan sebelum lulus dari sekolahnya.


Elsa tersenyum ketika melihat hasil jepretan dari sang fotografer. Tiga pose telah di pilih Elsa untuk di cetak di kertas foto yang berlapis laminasi.


"Lihatlah Van, kamu lucu banget sih posenya!!" Ucap Elsa ketika sudah keluar dari galeri foto Salemba yang ada di lantai dua. Senyum manis terbit dari bibirnya.



Ivan hanya tersenyum tipis untu menanggapi kekasihnya itu. Ia meraih tangan Elsa untuk di gandeng nya menuruni anak tangga yang menjulang tinggi.


"Setelah ini kamu ingin kemana?" Tanya Ivan sembari membantu Elsa memakai helmnya.


"Makan Bakso Yuk Van!!" Ucap Elsa ketika sebuah ide muncul di otaknya.


"Baiklah, kita kesana sekarang!!" Jawab Ivan sembari menyalakan mesin motornya.


Senyum merekah tengah terlukis di wajah kedua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu. Duduk berdua di kedai bakso yang ada di pinggir jalan dengan di temani angin semilir yang menambah keromantisan kencan sederhana sepasang remaja labil ini.


...💠💠💠💠...


Satu bulan telah berlalu begitu saja, kini semua siswa di SMAN xxxx sedang berkumpul di sekolahnya untuk menunggu pengumuman kelulusan mereka. Wajah tegang tergambar di wajah Ivan dan Elsa ketika menerima amplop dengan nama masing-masing yang isinya tentang lulus atau tidaknya mereka.


"Yes!! Yes!! Yes!! Aku lulus Van!!" Teriak Elsa dengan wajah sumringah nya. Ia begitu bahagia ketika membaca tulisan Lulus di kertas yang di pegangnya saat ini.

__ADS_1


Elsa merubah ekspresi wajahnya tak kala melihat Ivan hanya diam dengan ekspresi datarnya ketika membaca isi surat yang di pegangnya saat ini.


"Kenapa Van?? Apa yang tertulis di kertasmu? Kamu lulus kan Van??" Elsa memberondong Ivan dengan beberapa pertanyaan.


"Tidak El, aku tidak lulus." Ucap Ivan dengan suara yang lirih. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sedih.


"Van, kamu yang benar?? jangan bercanda!!" Elsa duduk di samping Ivan.


"Iya El aku gak lulus!! Sungguh ini sebuah kabar buruk." Ucap Ivan sembari menatap Elsa.


"Tapi bo'ong..." Ivan menjulurkan lidahnya setelah itu karena berhasil membuat Elsa menjadi panik karena nya.


"IVAN!!!!!!" Teriak Elsa karena kesal telah di tipu oleh Ivan. Satu cubitan mendarat di lengan Ivan.


Ivan tertawa tanpa henti ketika melihat wajah masam kekasihnya itu. Ia benar-benar puas karena Elsa masuk ke dalam drama kecil yang di buatnya.


Butuh sedikit rayuan untuk membuat Elsa kembali ke mode cerianya. Mereka sama-sama tersenyum karena bisa lulus dari sekolah favorit ini.


Ivan pulang dengan membawa kabar baik untuk orangtuanya. Dengan senyum yang merekah ia memasuki rumahnya untuk segera memberi kabar yang membahagiakan ini kepada orangtuanya.


"Bunda!!!!" Teriak Ivan ketika tak menemukan sang Bunda di dalam rumahnya.


"Bunda!!! Ivan pulang...." Teriak Ivan lagi.


Beberapa menit kemudian terdengar suara motor berhenti di depan rumahnya. Ivan hafal sekali itu suara motor milik siapa.


"Apa ayah tidak kerja ya?? kok tumben jam segini di rumah." Gumam Ivan sembari menatap jam dinding yang ada di hadapannya yang menunjukkan pukul sebelas siang.


Bu Nurul dan Pak Hamid berjalan memasuki rumahnya. Terlihat gurat kelelahan di wajah masing-masing.


"Van, sejak kapan kamu pulang?" Tanya Bu Nurul ketika sampai di ruang tengah rumahnya.


"Belum lama Bund. Ayah tidak kerja?" Tanya Ivan kepada Pak Hamid yang duduk di sebelahnya.


"Ayah masuk siang Van." Jawab Pak Hamid sembari meluruskan kakinya.


"Ini untuk Bunda dan Ayah!!" Ucap Ivan sembari memberikan amplop putih kepada Bu Nurul.


Senyum manis terukir di wajah cantik Bu Nurul tak kala membaca isi surat itu. Beliau begitu bahagia dengan kabar kelulusan Ivan ini.


"Ayah, Ivan lulus yah!!!" Ucap Bu Nurul sembari menatap Pak Hamid.


"Benarkah?? Wah anak Ayah hebat!!" Ucap Pak Hamid dengan wajah berserinya sembari merangkul pundak Ivan.

__ADS_1


Ketiga nya tersenyum bahagia karena kabar kelulusan Ivan kali ini. Wajah lelah yang tadi tergambar di wajah Pak Hamid dan Bu Nurul kini hilang sudah entah kemana. Yang ada hanya wajah berbinar yang tergambar disana.


"Van, Setelah ini kamu ingin kuliah kemana?" Tanya Bu Nurul sembari menatap Ivan.


"Ivan ingin kuliah di Perguruan Tinggi Negeri yang di Surabaya Bund." Jawab Ivan dengan wajah berseri nya.


Bu Nurul memandang Ivan yang begitu bersemangat, Tiba-tiba netranya menjadi berembun ketika ingin membicarakan suatu hal yang penting kepada putranya itu.


"Van, apa ada jalur beasiswa disana??" Tanya Bu Nurul dengan suara lirihnya.


"Ivan belum tahu Bund, apa ada masalah?" tanya Ivan ketika melihat perubahan raut wajah kedua orangtuanya.


"Iya Van. Bunda sudah tidak ngajar lagi sejak kemarin." Ucap Bu Nurul dengan wajah yang tertunduk.


"Kenapa Bund??" Ivan sedikit terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh sang Bunda.


"Bunda mengundurkan diri Van, karena Bunda tidak punya ijazah Sarjana. Pihak sekolah memperbaruhi peraturan jika pengajar disana harus S1, sedangkan Bunda hanya punya D1." Ucap Bu Kana sembari menatap Ivan.


"Bunda memutuskan untuk mengundurkan diri saja Van, karena tidak mungkin Bunda kuliah lagi saat ini. Bunda ingin kamu saja yang kuliah dan menjadi sarjana." Ucap Bu Nurul sembari meraih tangan putranya.


"Maafin Ivan ya Bund. Gara-gara Ivan, Bunda harus keluar dari pekerjaan bunda." Ivan tertunduk karena sedih melihat Sang Bunda.


"Hey anak Ayah tidak boleh sedih begini!!" Ucap Pak Hamid ketika menatap wajah Ivan yang tertunduk.


"Ayah akan berjuang sekuat tenaga untuk membiayai kuliah kamu Van. Jangan khawatir..." Ucap Pak Hamid lagi untuk memberikan semangat kepada putra semata wayangnya.


"Iya Van. Bunda tidak masalah jika tidak mengajar lagi. Kan bunda masih bisa bikin pesanan Kue di rumah." Ucap Bu Nurul dengan senyum manisnya.


Ivan memandang wajah kedua orangtuanya bergantian. Ia begitu terharu melihat kedua orangtuanya yang sangat menyayangi nya hingga rela mengorbankan profesi yang selama ini di lakukannya.


"Besok Ivan akan mencoba mencari informasi tentang beasiswa disana ya Bund." Ucap Ivan sembari tersenyum kepada sang Bunda.


_


_


_


Happy Reading kak, semoga suka♥️😍


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2