
Langit gelap dengan bintang yang bertaburan tengah menghiasi tempat tinggal Ivan. Dengan duduk di lantai teras Ivan mengamati bintang yang ada di langit gelap yang terbentang luas.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam namun Ivan belum beranjak dari tempatnya saat ini. Ia masih termenung dalam lamunan nya. Banyak hal yang dia pikirkan saat ini.
Pak Hamid keluar dari kamarnya untuk mengambil minum yang ada di dapur namun langkah nya terhenti ketika melihat pintu rumah yang masih terbuka di jam seperti ini. Pak Hamid berjalan untuk melihat siapa yang masih ada di luar rumah nya.
Sesampainya di ambang pintu, Pak Hamid melihat Ivan yang duduk sendiri sambil menatap bintang-bintang yang bertaburan diatas langit. Pak Hamid tau jika ada sesuatu yang tengah mengusik ketenangan hati putra semata wayang nya itu.
Setelah menunggu beberapa saat di depan pintu akhirnya Pak Hamid memutuskan untuk duduk di samping Ivan, beliau penasaran dengan apa yang ada di fikiran anak nya itu.
"Van..." Ucap Pak Hamid yang sudah duduk di samping Ivan.
"Ayah!!" Ucap Ivan yang sedikit terkejut dengan kehadiran sang Ayah.
"Kenapa Ayah belum tidur??" Lanjut Ivan.
"Ayah belum ngantuk Van, kamu kenapa dari tadi disini? Kamu juga tidak tidur?" Tanya Pak Hamid
"Ivan juga belum ngantuk Yah." Jawab Ivan. Beberapa saat suasana menjadi hening kembali, Ivan tidak mengatakan apapun kepada Ayah nya. Ia kembali menyelami pikiran nya. Sementara itu Pak Hamid juga hanya diam sambil melirik wajah putra nya yang terlihat resah.
"Kamu kenapa Van? Apa ada masalah?" Tanya Pak Hamid untuk memecah keheningan malam yang terasa.
"Tidak ada Yah, apa Ivan terlihat banyak masalah Yah?" Tanya Ivan yang merubah posisi duduk nya menghadap Pak Hamid.
"Tidak Van, Tapi kamu terlihat sangat Resah. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Pak Hamid sambil menatap manik hitam milik putranya itu.
Sejenak Ivan terdiam setelah mendengar pertanyaan Ayah nya. Ia memikirkan apakah Ia harus menceritakan kepada Ayah nya tentang sesuatu yang menjanggal di hati nya.
__ADS_1
"Iya Yah..." Akhirnya Ivan menjawab pertanyaan Pak Hamid dengan jujur setelah berfikir beberapa saat.
"Apa itu soal cinta dan Elsa?" Tanya Pak Hamid to the point.
Ivan tertegun mendengar Ayah nya menyebut nama Elsa. Ia bingung harus mengatakan apa kepada Ayah nya.
"Apa benar Van?" tanya Pak Hamid lagi karena Ivan masih terdiam di tempatnya.
"Ivan bingung Yah!!" Jawab Ivan kemudian.
"Apa yang kamu bingungkan?" tanya Pak Hamid.
"Ivan bingung dengan perasaan Ivan sendiri Yah." ucap Ivan sambil mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Apa kamu sedang jatuh cinta dengan Elsa Van?" tanya Pak Hamid yang membuat Ivan terkesiap.
"Kenapa harus seperti itu Van?" Tanya Pak Hamid.
"Elsa itu anak orang kaya Yah, Ivan tidak seberani itu untuk dekat dengan Elsa. Bunda juga sudah mengingatkan Ivan untuk menjaga hati agar tidak mencintai Elsa, Nyata nya Ivan gagal Yah!!" Ucap Ivan dengan kepala yang tertunduk.
"Ivan... Ayah sebenarnya kurang setuju kalau kamu berpacaran di usiamu saat ini, Tapi Van Ayah juga tidak bisa melarangmu untuk jatuh cinta dengan seorang gadis. Ayah ingin kamu tetap berprestasi di sekolah seperti dulu, Jadi Van bijak lah dalam mengambil keputusan ini. Kalau kamu ingin berpacaran silahkan Van tapi berpacaran lah yang sehat. Kamu mengerti kan maksud Ayah?" Tutur Pak Hamid untuk putranya yang mulai tumbuh menjadi ABG yang sedang jatuh cinta.
"Iya Yah Ivan mengerti. Tapi Ivan juga masih ragu dengan perasaan Ivan Yah. Ivan benar-benar menekan perasaan Ivan saat di dekat Elsa dengan bersikap cuek dan dingin kepada nya." Ucap Ivan sambil menatap Pak Hamid.
Pak Hamid memandang wajah Ivan yang penuh dengan kerisauan, Beliau tahu saat ini Ivan tengah tersiksa di antara cinta dan ketakutan nya sendiri.
"Van, jangan jadi laki-laki pengecut. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab dan tegas. Kalau kamu punya perasaan dengan Elsa ungkapkan Van!! di terima atau di tolak itu resiko, jangan buat wanita menunggu apalagi sampai menangis." Ucap Pak Hamid sambil menepuk bahu Ivan. Tanpa menunggu jawab Ivan, Pak Hamid berdiri dari tempat duduk nya dan berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Ivan sendiri di teras rumah.
__ADS_1
"Terima kasih Yah!!" Ucap Ivan ketika Pak Hamid yang sudah di depan pintu. Beliau berhenti dan membalikkan badan nya untuk menatap Ivan dengan senyum khas nya.
"Semangat Van!!" Ucap Pak Hamid sambil mengacungkan ibu jari nya ke arah Ivan.
Setelah Pak Hamid masuk ke dalam rumah, Ivan masih tetap di tempatnya, Ia enggan untuk masuk. Ia masih menyelami pikiran nya sendiri dan memikirkan apa yang di ucapkan sang Ayah.
"Haruskah aku mengikuti perasaan ini?" Tanya Ivan dalam pada diri nya sendiri. Elsa adalah gadis pertama yang berhasil mengusik ketenangan hati Ivan. Ia bukan lah tipe laki-laki yang mudah akrab dengan seorang gadis apalagi jatuh cinta, tapi entah mengapa kehadiran Elsa berhasil membuat Ivan terperangkap dalam perasaan cinta untuk yang pertama kali nya.
Baru enam bulan Ivan mengenal Elsa namun perasaan ingin memiliki secepat ini ada di hati Ivan. Berkali-kali Bu Nurul mengingatkan Ivan untuk menjaga hati nya agar tidak jatuh cinta dengan Elsa. Bu Nurul takut Ivan akan jatuh cinta dengan Elsa karena setiap hari mereka bertemu bahkan setelah pulang sekolah pun mereka masih saja bersama.
Bu Nurul hanya takut Ivan tersakiti karena cinta monyet di antara dua ABG yang berbeda jenis kelamin ini di tolak orangtua Elsa yang kaya raya. Bu Nurul juga tidak bisa memungkiri bahwa beliau juga menyukai sosok Elsa yang ramah, baik dan tentu nya tidak pernah membahas tentang harta kedua orangtuanya jika berada di rumah Ivan.
"Bunda, maafkan Ivan karena sudah gagal menjaga hati untuk tidak jatuh cinta dengan Elsa. Ivan benar-benar terperangkap dalam pesona Elsa yang begitu menggetarkan hati Ivan. Sekali lagi Ivan minta maaf Bund..." Gumam Ivan dalam hati nya sambil menatap Bulan yang bersinar dengan terang.
_
_
_
Happy Reading kak♥️ Semoga suka ya😍
_
_
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1