PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Berharap tidak selamat...


__ADS_3

Mentari pagi tengah bersemangat menyapa semua insan yang ada di Bumi. Perlahan Elsa mengerjapkan matanya tak kala sinar Sang surya menerobos masuk lewat sela-sela korden berwarna putih itu.


Ya, saat ini Elsa tengah berada di ruang rawat inap VVIP, tempat terbaringnya Bu Kana setelah melewati masa kritisnya. Kemarin sore Dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi karena adanya sedikit penyumbatan di otak kanan Bu Kana akibat benturan di kepala, Dan jam satu dinihari Bu Kana sudah di pindahkan dari ruang ICU ke kamar inapnya.


Elsa beranjak dari bed yang semalam ia tempati untuk tidur. Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dan tak lama setelah itu, Pak Roni dan Emran datang ke dalam ruangan paling mewah di Rumah sakit ini.


"Papa..." Ucap Elsa ketika keluar dari kamar mandi.


"Sarapanlah dulu El." Sahut Emran sembari meletakkan kantong berwarna putih di atas meja.


"Mama belum sadar El?" Tanya Pak Roni sembari menatap Elsa yang masih berdiri di depan kamar mandi.


"Tadi sebelum subuh Mama bangun Pa, sekitar sepuluh menit Mama tidur lagi." Ucap Elsa sembari berjalan menuju sofa yang ada di dekat jendela.


Beberapa menit kemudian, Bu Kana perlahan mengerjapkan matanya. Beliau menatap ke sekelilingnya, Bu Kana tersenyum tipis ketika melihat kedua anak dan suaminya berada di sampingnya.


"Mama..." Ucap Elsa seraya beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju kursi yang ada di samping Bu Kana.


Bu Kana hanya diam sembari mengusap pipi Elsa dengan mata yang mulai berair.


"Ada apa Ma? Apa ada yang sakit?" Elsa terlihat khawatir ketika melihat wajah sedih Bu Kana.


"Tidak El. Mama baik-baik saja." Lirih Bu Kana.


Emran dan Pak Roni hanya diam sembari menatap interaksi Sang istri dan putrinya. Beliau merasa bersalah karena sempat marah dan mengucapkan kata yang menyakiti hati Bu Kana.


"Papa..." Bu Kana menatap Pak Roni yang sedang berdiri di dekat bed nya.


"Ada apa Ma? bagian tubuh mana yang sakit?" Tanya Pak roni sembari menggenggam tangan Bu Kana.

__ADS_1


"Mama baik-baik saja." Ucap Bu Kana dengan suara lemahnya.


"Maafin Mama ya Pa." Ucap Bu Kana dengan air mata yang perlahan turun dari pelupuk matanya.


"Sudah Ma, tidak usah membahas yang kemarin. Mama harus fokus dengan kesembuhan Mama." Ucap Pak Roni sembari menatap manik hitam milik istrinya.


Elsa sedih melihat Bu Kana yang sedang terbaring lemah itu. Ia menyesal karena akhir-akhir ini bersikap dingin kepada wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. Di tatapnya wajah Bu Kana yang sedang menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosongnya.


"Apa yang Mama pikirkan?" Tanya Elsa.


"Mama mengira Mama tidak akan melihat lagi wajah kamu, papa dan Emran. Saat Mama tidak bisa mengendalikan mobil kemarin, Mama sempat berpikir tidak akan selamat dari kecelakaan itu." Ucap Bu Kana yang membuat mata Elsa dan Emran menjadi berkaca-kaca.


"Allah masih menyelamatkan Mama dari kecelakaan kemarin. Emran bahagia melihat Mama sadar seperti ini." Ucap Emran yang sedang duduk di bed tempat Bu Kana terbaring lemah.


"Tapi Mama sempat berharap untuk tidak selamat Emran. Dengan begitu Mama tidak perlu menanggung malu kepada Bude Mala dan temannya. Mama kemarin akan Ke Surabaya untuk menemui mereka berdua." Ucap Bu Kana dengan berlinang air mata.


" Maafin Elsa Ma, karena Elsa Mama jadi seperti ini." Gumam Elsa dalam hatinya.


"Ma, Elsa mau pulang dulu ya. Elsa mau ambil baju ganti dulu." Ucap Elsa dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


Elsa segera bangkit dari tempat duduknya, Ia tidak berani menatap ketiga orang yang berada di dalam ruangan itu. Pak Roni memberikan isyarat kepada Emran agar menyusul Elsa karena beliau tahu jika Elsa sedang menahan kesedihannya.


Di depan lift Elsa menghentikan langkahnya. Ia bersandar di dinding yang ada di dekat lift rumah sakit. Bahunya terguncang, ia sedang menangis karena bingung harus berbuat apa.


"Ayo Kakak antar pulang." Emran menepuk pundak Elsa.


"Kakak!" Ucap Elsa yang terkejut melihat kehadiran Emran.


Tanpa mengatakan apapun, Emran meraih pergelangan tangan Elsa. Ia menarik tangan Elsa menuju lift yang sedang terbuka itu. Keduanya hanya diam sampai mereka tiba di lantai dasar rumah sakit.

__ADS_1


Tidak ada kata yang terucap dari bibir kakak beradik yang sedang dalam perjalan pulang menuju rumahnya. Elsa terisak di samping Emran yang sedang fokus mengendarai mobilnya, ia membiarkan adiknya berkelana dalam pikirannya sendiri.


"Istirahatlah, nanti sore kita kembali ke rumah sakit El." Ucap Emran setelah mobilnya berhenti di garasi rumahnya.


Elsa menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya. Tatapan kosong terpancar dari sorot matanya. Penyesalan yang begitu besar tengah menyelimuti dirinya.


"Gara-gara aku Mama jadi seperti ini." Lirih Elsa ketika mengingat ucapan Bu Kana beberapa waktu yang lalu.


Elsa bimbang, ia di hadapkan dengan pilihan yang sulit. Ia di hadapkan dengan bakti terhadap orangtua dan sosok pria yang menjadi cinta pertamanya selama ini.


"Apa yang harus aku lakukan! Aku tidak mau membuat Mama sedih, aku gak mau kehilangan Mama. Haruskah aku menerima permintaan Mama agar Mama bahagia?" Gumamnya.


"Lalu bagaimana dengan Ivan. Aku sendiri tidak yakin kalau aku bisa kuat ketika berpisah dengan Ivan." lanjutnya dengan air mata yang tak henti berjatuhan.


Elsa terdiam, ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar di hadapkan dengan situasi yang sulit.


Karena lelah, perlahan kelopak mata Elsa tertutup, mengantarkannya pada gerbang alam mimpi yang begitu indah. Ia terlelap dengan wajah yang di penuhi air mata.


_


_


Happy reading kak, semoga suka♥️😍


_


_


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2