PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Melamar...


__ADS_3

Senja terukir indah di langit barat Kota Mojokerto, rona jingga menemani sang surya pulang ke peraduannya. Elsa berdiri di teras rumahnya, ia gelisah menunggu Ivan yang tak kunjung datang.


Senyum manis terbit dari bibirnya, tak kala sebuah motor berwarna hitam itu berhenti di halaman luas rumahnya. Elsa menatap Ivan yang sedang melepas helmnya.


"Assalamualaikum..." Ucap Ivan sembari berjalan menuju tempat Elsa berada saat ini.


"Waalaikumsalam.... Ayo masuk Van!" Elsa menarik pergelangan tangan Ivan untuk masuk kedalam rumah megahnya.


Keduanya merasakan hal yang sama, perasaan yang bercampur aduk, namun Ivan bisa menyembunyikan rasa gelisahnya dengan memasang ekspresi wajah tenangnya.


"Kamu duduklah disini. Aku mau panggil Papa dulu, kalau Mama belum pulang." Ucap Elsa beberapa saat sebelum berlalu dari ruang tamu.


Beberapa menit kemudian, Elsa kembali lagi ke ruang tamu dengan membawa nampan yang berisi minuman untuk Ivan. Kegelisahan terlihat di wajah cantik Elsa, apalagi ketika Pak Roni sudah duduk berhadapan dengan Ivan.


"Pak..." Ivan membungkukkan tubuhnya dan meraih tangan pak Roni untuk di salaminya


"Silahkan duduk kembali." Ucap Pak Roni sembari menatap Ivan.


Pak Roni menatap wajah serius Ivan. Beliau menerka maksud kedatangan Ivan kemari.


"Diminum dulu minuman nya, Nak!" Ucap Pak Roni untuk memecahkan keheningan yang terasa saat ini.


"Iya Pak." Ivan menganggukkan kepalanya.


Sekali lagi, keheningan kembali terasa di ruang tamu ini. Terlihat sekali jika Ivan sedang merancang beberapa kata untuk di sampaikan kepada Pak Roni.


"Jadi, ada apa kamu ingin menemuiku, Nak?" Tanya Pak Roni sembari menatap Ivan yang masih terdiam.


Ivan menarik nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Pak Roni. Meski gugup, ia merasa tenang setelah mendengar pertanyaan yang di tunggu nya sejak tadi.

__ADS_1


"Begini Pak, maksud kedatangan saya kemari, saya ingin mengatakan bahwa saya sangat mencintai Elsa Pak. Kalau Bapak Izinkan saya ingin melamar Elsa bulan depan Pak." Dengan tenangnya Ivan mengatakan hal itu kepada Pak Roni.


"Saya harap Bapak mau memikirkan lagi niat baik saya Pak. Saya benar-benar mencintai Elsa Pak." Dengan raut wajah yang meyakinkan, Ivan mengatakan keinginannya itu.


Demi cintanya yang begitu besar kepada Elsa, dengan berani Ivan mengatakan hal besar itu, bahkan kedua orangtuanya belum mengetahui rencananya ataupun permasalahan yang sedang terjadi saat ini.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan tadi, Nak?" Tanya Pak Roni yang tak melepas pandangannya dari wajah tampan Ivan.


"Saya yakin Pak." Ucap Ivan dengan tegasnya.


"Keputusan Bapak ada di tangan Elsa, kalau dia bahagia bersamamu, maka bapak tidak akan menghalangi hubungan kalian." Ucap Pak Roni tanpa berpikir dua kali.


Raut bahagia tergambar jelas di wajah cantik Elsa. Ia begitu bahagia setelah mendengar jawaban dari Pak Roni. Ia mengalihkan pandangannya ke wajah Ivan yang tengah menampakkan senyum tipisnya.


"Tapi...." Pak Roni menghentikan ucapannya sembari menatap wajah putrinya yang sedang bahagia itu.


"Tapi Bapak tidak bisa memutuskan ini sendiri Nak. Kita tunggu Mamanya Elsa pulang dulu Ya, setelah itu kita akan lanjutkan membahas masalah ini. Mungkin sebentar lagi Mamanya Elsa pulang." Ucap Pak Roni sembari menyandarkan tubuhnya di sofa yang beliau tempati saat ini.


Bu Kana berjalan menuju tempat Pak Roni saat ini. Dengan menjinjing tas kerja nya, Bu Kana berdiri tepat di samping Pak Roni.


"Sampai kapan pun saya tidak akan merestui hubungan kalian. Saya tetap akan melanjutkan rencana pernikahan Elsa dengan Dimas, Jadi saya harap kamu bisa melupakan Elsa!" Sungut Bu Kana sembari menatap tajam ke arah Ivan.


"Mama!" Seru Pak Roni. Beliau tak habis pikir dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh istrinya itu.


Bu Kana hanya diam sembari menatap Pak Roni dengan amarah yang membara dalam dirinya. Bu Kana begitu marah karena keputusan Pak Roni yang membiarkan Elsa bersama dengan Ivan. Ya, Bu Kana sejak tadi ada di depan pintu untuk mendengarkan semua obrolan yang terjadi di ruang tamu, karena tidak tahan lagi, akhirnya beliau terpaksa masuk untuk menemui Ivan.


Tanpa berpamitan, Bu Kana pergi begitu saja dari ruang tamu. Beliau berjalan menuju kamar nya yang ada di lantai dua. Pak Roni mengusap wajahnya kasar, beliau begitu kasihan melihat Ivan yang di perlakukan dengan buruk oleh istrinya.


"Saya minta maaf atas sikap Mamanya Elsa kepadamu, Nak." Ucap Pak Roni.

__ADS_1


"Saya baik-baik saja Pak, tidak masalah." Ucap Ivan yang masih menampakkan wajah tenangnya.


Sementara itu, Elsa hanya diam dengan bulir air mata yang mulai mengalir deras dari pelupuk matanya. Ia tidak menyangka Bu Kana akan mengatakan semua itu kepada Ivan.


"Elsa, Ivan... Kalau seperti ini keadaannya, lebih baik kalian tunda dulu rencana untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Kalian harus memenangkan restu dari Mama, karena sebuah pernikahan tanpa restu seorang Ibu tidaklah membahagiakan." Tutur Pak Roni sembari menatap kedua sejoli yang sedang di landa kegundahan hati.


Pak Roni pamit untuk menyusul Bu Kana, meninggalkan Elsa dan Ivan di ruang tamu berdua saja. Elsa berhambur kedalam pelukan Ivan. wajahnya bersembunyi di dada bidang yang sangat nyaman itu, ia tergugu disana.


"Sudah aku bilang kan Van! Semua ini tidaklah mudah. Harusnya kamu mengikuti saranku tadi pagi Van." Lirih Elsa di sela-sela tangisannya.


Ivan hanya diam, tatapannya lurus ke depan. Ia mengusap rambut panjang Elsa dengan penuh kelembutan. Ia juga masih syok dengan jawaban Bu Kana.


Ivan mengurai tubuh Elsa, ia menatap dengan sendu wajah yang penuh dengan air mata itu. Ivan mengusap air mata yang masih menggenang disana. Beberapa detik kemudian, ia mendaratkan bibir kenyal itu tepat di kening Elsa.


"Apapun yang terjadi, aku selalu mencintaimu. Kita akan berjuang bersama untuk mendapatkan restu dari Mama mu. Berdoalah semoga kita berjodoh El." Ucap Ivan untuk menenangkan hati Elsa yang tengah di landa kesedihan yang mendalam.


"Aku pulang dulu ya, karena sebentar lagi aku harus siap-siap untuk berangkat kerja." Ucap Ivan.


Elsa berjalan di samping Ivan. Ia tak melepas genggaman tangannya dari telapak tangan Ivan. Rasanya ia ingin kabur saja dari rumah megahnya dengan ikut bersama Ivan saat ini juga.


"Hati-hati Van." Ucap Elsa ketika Ivan sudah naik di atas motornya.


_


_


Happy Reading kak, semoga suka♥️😍


_

__ADS_1


_


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2