PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Gagal maning!!


__ADS_3

"Mas, ini sudah malam, pulang yuk!" Ajak Elsa ketika melihat arloji yang ada di tangannya sudah berada di angka delapan malam. Mereka berdua masih berada di gudang produksinya.


Usaha Ivan semakin lama semakin berkembang, banyak pelanggan baru yang order sepatu produksinya. Hal itu membuat Ivan semakin gencar untuk mendesain model-model sepatu terbarunya, terkadang ia lupa waktu jika sudah fokus seperti saat ini.


Setiap hari Elsa menemani Ivan di gudang produksinya, meski hanya sebentar namun ia tak pernah absen untuk menemani pria yang sangat dicintainya ini.


"Mas!!" Sekali lagi Elsa berseru karena diabaikan oleh Ivan yang tengah membuat cetakan 'Mal' untuk sepatunya.


Sesaat Ivan mengalihkan pandangannya ke arah istrinya yang tengah memampang wajah yang tertekuk. Ia tersenyum simpul melihat Elsa yang sedang merajuk karena ia sejak tadi mengabaikannya.


"Sepuluh menit lagi, oke!" Ucap Ivan sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.


Elsa masuk ke dalam ruangan yang ada di ujung bangunan, sebuah ruangan dengan fasilitas lengkap. Ada kamar mandi, Bed tanpa ranjang, televisi, sofa dan kulkas mini yang ada di sudut ruangan.


Rafa tengah tertidur pulas di atas bed bersprei hijau daun dengan motif bunga-bunga yang begitu indah. Elsa merebahkan tubuhnya di samping Rafa dan membuka layar ponselnya.


Gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi, tanda Ivan sedang mandi untuk membersihkan dirinya sebelum pulang. Beberapa saat kemudian, Ivan keluar dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya.


"Sayang, mana baju gantiku tadi?" Tanya Ivan yang sedang bingung mencari bajunya.


"Mungkin disana, Mas!" Elsa menunjuk sebuah almari plastik yang di samping televisinya.


Sebuah ide konyol muncul di kepala Elsa, tatkala melihat Ivan membungkuk di depan almari. Elsa diam-diam merangkak menuju tempat Ivan berada.


"Astagfirulloh!!" Teriak Ivan yang terkejut karena ulah Elsa. Ivan tiba-tiba merasakan tangan Elsa menyentuh dua telur puyuhnya dari bawah.


Elsa tergelak melihat ekspresi wajah terkejut Ivan. Ia menarik handuk yang melekat di pinggang Ivan, dan akhirnya Ivan polos di hadapannya.


"Kenapa? mau ngapain disini?" Ivan membalikkan tubuhnya dan berkacak pinggang menghadap Elsa.


"Tempat ini kan belum pernah kita tempati untuk itu ..." Ucap Elsa dengan tatapan yang menggoda.


"Kunci pintunya kalau begitu." Ucap Ivan sambil menatap Elsa penuh arti.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Elsa segera beranjak dari tempatnya untuk mengunci pintu ruangan. Ia segera kembali ke tempat Ivan berada saat ini. Tubuh putih polos terpampang nyata di hadapannya.


Sebuah permainan akan dimulai. Berawal dari sebuah kecupan, kini mereka berdua saling menyesap bibir satu sama lain, lidahpun ikut berdansa dengan lincahnya. Bukit yang menantang siap untuk di daki. Tangan Ivan dengan lincahnya mulai mendaki dua bukit yang masih terbungkus kain berenda berwarna hitam. Satu persatu kancing telah terlepas, menampakan dua gundukan yang menggoda. Lenguhan manja berhasil lolos dari bibir sensual Elsa.


Setelah puas bermain di dua bukit yang menantang, kini Ivan mulai menggerakkan tangannya turun ke arah rawa-rawa yang mulai berair. Lenguhan semakin terdengar keras tatkala tangan Ivan mulai menemukan kacang almond yang tertanam di dekat rawa.


Sejuta rasa nikmat telah terkumpul di ubun-ubun, Elsa memejamkan matanya, menata tubuh sebelum tubuhnya mengejang tanda sebuah rasa sudah berada di puncaknya, namun sayang sungguh sayang, gerakan dan suara Rafa yang ada di sampingnya telah berhasil membuyarkan semua konsentrasinya.


"Ma ... Ma ... Ma ..." Rafa membuka kelopak matanya, ia mencari Elsa yang tak ada di hadapannya. Perlahan tangisnya pun terdengar di ruangan itu.


Ivan terkejut bukan main, gerakan yang baru saja di mulainya, kini terpaksa di hentikan putranya sendiri. Ia segera turun dari tubuh Elsa dan mencari handuk yang tadi di pakainya.


"Astaga!! gagal maning gagal maning!!" Cicit Ivan yang sedang memakai handuknya lagi.


...💠💠💠💠...


Dua bulan kemudian...


Alunan musik yang menenangkan sengaja di putar Emran untuk menemaninya menunggu Pak Roni yang masih mengecek langsung bagian produksi. Ada hal penting yang ingin ia bicarakan bersama Pak Roni.


Suara pintu ruangan yang terbuka membuat Emran mengalihkan pandangannya, sosok pria paruh baya sedang berjalan menuju tempatnya.


"Ada apa, Ran? tumben datang langsung kesini?" Tanya Pak Roni.


"Emran ingin membicarakan hal yang sangat penting Pa." Ucap Emran yang kini beralih menuju sofa putih yang ada di dekat jendela.


Pak Roni pun mengikuti Emran, rasa penasaran telah menyelimuti dirinya.


"Katakan, Emran!" Ucap Pak Roni dengan kaki kanan yang di silangkan di atas kaki kiri.


Emran menarik nafasnya dalam sebelum menceritakan semuanya dari awal. Satu persatu masalah ia ceritakan kepada Pak Roni tanpa ada yang di tutupi, membuat raut wajah Pak Roni memerah seketika karena menahan amarah yang besar. Lagi dan lagi istrinya berulah.


"Papa ... Emran mohon jangan marah kepada Mama." Emran menatap Pak Roni dengan tatapan memohon.

__ADS_1


"Emran tau pasti Papa akan marah karena masalah ini, Tolong Pa kendalikan emosi Papa kali ini. Mama tidak sepenuhnya salah dalam hal ini." Ucap Emran.


"Lalu apa rencana kamu?" Tanya Pak Roni.


Emran kembali menceritakan semua yang terjadi kepadanya dan Dina, tidak ada satu pun yang terlewat. Setelah berpikir panjang, akhirnya Dina mengizinkan Emran untuk menikahi Mega, tentu itu adalah sebuah keputusan yang berat untuk Dina.


"Kamu ini bagaimana?? menikahi anak orang kok gk bilang orangtua?? apa yang ada dalam otak kamu, Emran?" Pak Roni semakin marah setelah mendengar Emran sudah menikah diam-diam bersama Dina.


"Saat itu Emran ada di posisi sulit, Pa. Coba bayangkan jika Papa ada di posisi Emran saat itu?" Lirih Emran dengan tatapan yang menerawang jauh mengingat pesan terakhir Pak Rusdi.


Bungkam. Ya, Pak Roni tidak bisa menjawab ucapan Emran. Beliau hanya menghela nafasnya setelah membayangkan posisi Emran. Entah bagaimana beliau nanti jika bertemu dengan Bu Kana.


"Pa, tolong berikan semua data Papa dan Mama, Emran akan meresmikan pernikahan Emran dengan Dina dulu Pa. Emran tidak mau kalau sampai harus meninggalkan Dina." Kini Emran menatap manik hitam Pak Roni dengan seriusnya.


"Emran akan menikahi Mega setelah Emran meresmikan status Emran dengan Dina. Biarlah Mama tidak mengetahui soal ini Pa, Toh Mega juga sudah tau kalau Emran sudah punya istri." Lanjut Emran.


"Tolong Pa, biarkan semua ini terjadi seperti apa yang diinginkan oleh Mama. Emran tidak bisa membiarkan Mama sampai kenapa-napa, karena kehilangan orangtua sangat lah berat Pa." Emran menundukkan kepalanya.


Semua yang di ucapkan Dina satu bulan yang lalu terus terngiang dalam ingatannya. Sungguh, ia beruntung mempunya wanita dengan sejuta rasa seperti Dina.


"Baby, menikahlah seperti yang diinginkan oleh Mama mu. Aku tidak ingin kamu menyesal jika sampai terjadi sesuatu kepada Mama karena hubungan kita. Aku rela kamu tinggalkan, asal kamu bahagia bersama wanita pilihan Mama. Sungguh baby, aku tidak masalah jika harus melepasmu. Karena aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin orang yang aku cintai merasakan sakit karena kehilangan orangtuanya. Biarkan aku saja yang tau betapa tersiksanya rindu kepada orangtua yang telah bahagia di sisi Tuhan." Sebuah kalimat panjang yang di ucapkan oleh Dina kepada Emran. Sebuah kalimat yang mendesak Emran untuk memutuskan menikah dengan dua wanita setelah ini.


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka ♥️😍


_


_


❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2