
Waktu terus berjalan tanpa kenal lelah, membawa semua insan pada tujuan hidup masing-masing. Satu minggu setelah interview di Pabrik gitar yang ada di Ngoro Industri, Ivan mulai bekerja disana. Ia di tempatkan di bagian produksi gitar.
Setiap hari Ivan harus menempuh perjalan selama satu jam untuk sampai di Ngoro industri. Ia harus bekerja keras untuk membantu memulihkan perekonomian keluarganya yang sedang terpuruk.
Semangat yang berapi telah berkobar dalam diri Ivan tak kala ia menerima gajinya setelah satu bulan berkerja disana. Ia begitu bahagia bisa mendapat gaji dua kali lipat dari bekerja di Home industri pembuatan sepatu dulu.
Kesehatan Pak Hamid perlahan mulai membaik, beliau sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat. Kondisi beliau sempat menurun tak kala Bu Nurul menceritakan nasib putra semata wayang nya yang tak dapat melanjutkan pendidikannya lagi.
...💠💠💠💠...
Dua tahun kemudian....
Senyum merekah terlukis indah di wajah cantik Elsa yang berhias dengan make up tipis dan bibir berwarna soft pink. Pagi ini ia akan melaksanakan wisudanya, sebuah proses akhir yang di nantikan semua mahasiswa yang telah selesai melakukan skripsi.
Bu Kana tersenyum simpul melihat Elsa berjalan ke depan untuk melakukan prosesi wisudanya. Beliau begitu bahagia melihat Sang putri yang akhirnya bisa lulus tanpa halangan apapun.
Tepat pukul satu siang, semua rangkaian acara telah selesai dilaksanakan. Elsa dan Bu Kana keluar dari hotel tempat wisuda di laksanakan.
"Ma, kita langsung pulang Ke Mojokerto kan Ma?" Tanya Elsa dengan antusiasnya.
"Iya El, barang-barang kamu tidak ada yang tertinggal kan El?" Tanya Bu Kana yang sudah duduk di kursi kemudinya.
"Sudah Ma, semua sudah beres!" Jawab Elsa sembari memasang seat belt nya.
Bahagia, itulah yang di rasakan Elsa saat ini. Setelah empat tahun terkurung dalam sangkar emas milik Bu Mala, akhirnya ia bisa kembali lagi ke rumah yang selama ini di rindukannya.
Elsa menatap keluar jendela mobil, senyum manisnya terus mengembang disana. Ia terus membayangkan wajah tampan Ivan yang akan ia temui setelah ini.
"Aku bahagia meski wisuda tanpa kehadiranmu Van! Karena setelah ini kita tidak akan lagi berjauhan. Kita akan sering bertemu setelah ini." Gumam Elsa dalam hati nya. Ia beralih menatap kendaraan yang berjajar rapi di depannya.
Satu setengah jam kemudian, mobil Bu Kana berhenti tepat di garasi rumahnya. Elsa segera turun karena tidak sabar lagi untuk bertemu Emran dan Mak Tina. Ia berjalan dengan menenteng high heels berwarna hitam yang tadi di pakainya wisuda.
"Mak... Mak Tina...." teriak Elsa dari ruang keluarganya. Ia berjalan menuju dapur untuk mencari keberadaan Asisten rumah tangga yang selama ini menemani hari-hari sepi nya.
__ADS_1
"Neng Elsa..." Ucap Mak Tina ketika melihat kehadiran Elsa di ambang pintu dapur.
Keduanya saling ngobrol dan melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu. Elsa mengajak Mak Tina untuk duduk di kursi yang ada di dapur.
"Mak, Elsa pamit ke kamar dulu ya...." Ucap Elsa setelah beberapa menit berbincang dengan Mak Tina.
"Iya Neng, nanti malam Emak buatin udang asam manis kesukaan Neng Elsa ya...." Ucap Mak Tina sebelum Elsa berlalu pergi dari dapur.
*
*
Langit biru berubah menjadi gelap, sinar sang surya berganti dengan sinar rembulan yang tengah menampakkan bentuk sempurnanya. Setelah menikmati makan malam bersama dengan anggota keluarga yang lengkap, kini mereka berempat duduk bersantai di ruang keluarga.
Bu Kana tersenyum melihat Elsa yang tengah duduk di samping Emran. Kakak beradik ini tengah sibuk bermain PS, mereka berdua saling berambisi untuk mengalahkan satu sama lain dalam permainan balap sepeda.
Teriakan Elsa menggema di ruang keluarga tak kala dirinya berhasil menjadi pemenang dalam permainan sepeda kali ini.
"Dasar payah! masa iya kakak kalah sama Elsa." Ucap Elsa dengan sombongnya ketika melihat Emran menekuk wajahnya.
"Iya... iya bawel!" Ucap Emran dengan sinisnya. Elsa terus menggoda Emran dengan ocehannya. Hal itu membuat Pak Roni tersenyum karena melihat dua anak nya yang sudah kembali ke rumah.
"Pa, Mama mau bicara." Ucap Bu Kana setelah menutup buku yang sejak tadi di bacanya.
"Memang apa yang harus di bahas Ma?" Tanya Pak Roni yang sudah beralih menatap Bu Kana.
"Ini tentang masa depan Elsa Pa." Ucap Bu Kana dengan suara lembutnya.
Mendengar namanya di sebut, Elsa segera meletakkan stik PS nya dan beralih menatap kedua orangtuanya.
"Kemarin Mama sudah bicara dengan Mbak Mala. Mama akan menikahkan Elsa dengan putra temannya Mbak Mala." Ucap Bu Kana dengan santainya.
Suara Bu Kana bagai petir yang menggelegar, membuat semua yang ada di dalam ruang keluarga terkejut bukan main. Tatapan tajam Pak Roni tertuju pada manik hitam sang istri yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Bagaimana Mama bisa memutuskan hal sebesar ini tanpa berbicara dengan Papa terlebih dahulu!" Nada tinggi terdengar jelas dari ucapan Pak Roni.
"Mama menunggu waktu yang tepat Pa. Mama juga sudah bertemu dengan pria yang akan menikah dengan Elsa. Dia tampan, Kaya dan dia juga Sarjana Pa. Dia cocok untuk menjadi suami Elsa pa." Bu Kana menjelaskan semuanya.
Perdebatan terjadi di antara Bu Kana dan Pak Roni. Kedua orangtua ini berselisih pendapat. Pak Roni sangat marah dengan dengan keputusan sepihak istrinya, beliau menatap Elsa lewat ekor matanya. Sebuah kesedihan terpancar jelas disana.
"Elsa. Kamu tidak boleh menolak perjodohan ini!" Ucap Bu Kana yang beralih menatap Elsa di sofa yang ada di dekatnya.
"Elsa tidak mau! sampai kapan pun Elsa tidak akan mau melakukan permintaan konyol Mama." Ucap Elsa yang kemudian berdiri dan pergi begitu saja dari ruang keluarga.
Rasa kecewa yang begitu dalam tengah di rasakan Elsa saat ini.
"Elsa, mama belum selesai bicara! jangan pergi dulu!" Teriak Bu Kana ketika melihat Elsa berjalan menaiki tangga rumahnya.
Pak Roni benar-benar marah dengan Bu Kana, beliau pun pergi begitu saja dari ruang keluarga tanpa berbicara lagi dengan Bu Kana. Emran juga beranjak dari tempat duduknya saat ini, ia pergi menghirup udara segar di teras rumahnya.
"Kenapa kalian pergi ninggalin Mama! Mama belum selesai bicara!" Teriak Bu Kana.
"Pa... papa!" Bu Kana memanggil suaminya yang berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
Bu Kana mendengus kesal karena anggota keluarganya tidak ada yang setuju dengannya. Bu Kana hanya ingin Elsa bahagia dengan suami pilihannya. Bu Kana berfikir bahwa harta yang bisa membahagiakan Elsa di masa depan.
"Elsa harus menikah dengan Dimas! Yah, aku harus bisa membujuk Elsa menikah dengan Dimas! Aku tidak mau rencanaku hancur begitu saja. Aku tidak mau kalau Elsa sampai menikah dengan teman SMA nya itu!" Gumam Bu Kana yang tengah mondar mandi sendiri di ruang keluarga.
_
_
Happy reading kak, semoga suka ♥️♥️
_
_
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️