
Liburan sebentar lagi telah tiba. Hari ini pembagian rapot hasil nilai semester satu di masa putih abu-abu Ivan. Seluruh wali kelas di sibuk kan dengan persiapan pembagian rapot di kelas masing-masing. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, satu persatu wali murid mulai datang mengisi tempat duduk di kelas yang sudah tertata rapi.
Bu Nurul sudah hadir dengan memakai seragam mengajarnya yang berwarna coklat karena setelah mengambil rapot Ivan beliau akan menghadiri rapat guru TK satu kecamatan. Semua wali murid sudah datang dan duduk di tempat masing-masing.
Beberapa saat kemudian pandangan semua orang tertuju pada wali murid yang baru saja masuk ke dalam kelas tepat sebelum Bu Ima selaku wali kelas memulai pertemuan ini.
Wanita paru baya yang baru saja masuk adalah Bu Kana, orangtua Elsa yang masih terlihat cantik dan elegan di usia nya. Bu Kana duduk di samping Bu Nurul karena bangku kosong hanya ada di samping Bu Nurul.
"Permisi, boleh saya duduk di sini Bu?" Tanya Bu Kana dengan sopan kepada Bu Nurul sebelum duduk di kursi.
"Silahkan Bu." Jawab Bu Nurul dengan senyum manis yang mengembang di pipi nya.
Tidak lama setelah Bu Kana duduk, Bu Ima mulai membuka pertemuan ini dengan sambutan kepada wali murid yang hadir saat ini. Tak lupa beliau juga membacakan siswa yang masuk dalam rangking lima besar.
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu saya akan membacakan nama siswa yang masuk dalam rangking lima besar di kelas ini, mohon untuk di simak dengan baik ya Pak, Bu..." Ucap Bu Ima dengan suara yang lembut.
"Rangking satu di raih oleh ananda Ivan Ardiansyah, rangking dua di raih oleh ananda Elyasari, yang ketiga di raih oleh ananda Johan Permana, yang keempat di raih oleh ananda Fransiska aurora dan yang kelima di raih oleh ananda Ratna Yuliani." Bu Ima duduk kembali ke tempat nya setelah selesai membacakan nama siswa yang masuk ke dalam lima besar.
"Alhamdulillah Ivan dapat rangking pertama. Bunda bangga kepada kamu Nak!!" Gumam Bu Nurul dalam hati sambil menampilkan seulas senyum manis di bibirnya.
" Astaga Elsa!!! kenapa nama kamu tidak disebutkan disana!! memalukan sekali kamu Elsa!!" Gumam Bu Kana dalam hati sambil menatap lurus ke depan.
Setelah menyampaikan beberapa pesan kepada Wali murid, Bu Ima mulai memanggil satu persatu nama siswa nya dari absensi teratas. Bu Kana berdiri dari tempat duduknya ketika Bu Ima memanggil nama putri nya.
"Elsara Anjani" Suara Bu Ima di depan kelas.
"Saya duluan ya Bu..." Pamit Bu Kana kepada Bu Nurul sebelum beranjak dari tempat duduknya.
"Iya bu Silahkan bu..." Ucap Bu Nurul sembari menganggukkan kepalanya dengan hormat.
"Ternyata itu orangtua nya Elsa, Terlihat sekali kalau memang dia orang kaya dari cara berjalan dan pakaian nya." Gumam Bu Nurul sambil menatap Bu Kana yang ada di depan bersama Bu Ima.
Beberapa saat kemudian nama Ivan di panggil oleh Bu Ima. Bu Nurul beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja Bu Ima. Beberapa hal tentang prestasi Ivan selama semester satu ini tengah di perbincangkan oleh Bu Ima dan Bu Nurul.
__ADS_1
Setelah selesai Bu Nurul keluar dari kelas dan berjalan menuju tempat parkir sepeda nya untuk segera berangkat menghadiri rapat yang di adakan di balai pertemuan di pusat kota Mojokerto.
Sebelum keluar dari gerbang sekolah, Bu Nurul tidak sengaja melihat Elsa yang menangis di sebelah pos Satpam. Terlihat ada Ivan juga disana yang berusaha menenangkan Elsa yang sedang terisak. Bu Nurul penasaran dengan apa yang terjadi dengan anaknya dan Elsa, namun waktu yang semakin mendekati waktu rapat membuat Bu Nurul mengurungkan niat nya untuk menemui mereka.
*****
Waktu terus berlalu begitu cepat, langit biru berubah menjadi gelap pertanda malam hari telah tiba. Setelah pulang dari masjid, Ivan duduk di ruang tengah dengan tangan memegang remote Televisi yang ada di depan nya.
Bu Nurul berjalan dari dapur menuju ke tempat Ivan berada saat ini. Beliau membawa kue kering yang tadi sore di buatnya tak lupa Bu Nurul juga menyiapkan minuman hangat untuk Pak Hamid yang belum pulang dari masjid.
"Assalamualaikum..." Suara Pak Hamid terdengar di teras rumah.
"Waalaikumsalam..." Jawab Bu Nurul dan Ivan bebarengan.
Suara langkah kaki Pak Hamid terdengar dari ruang tengah rumah Ivan. Pak Hamid masuk ke ruang tengah untuk ikut berkumpul bersama anak dan istri nya.
"Yah, Bunda punya kabar baik nih..." Ucap Bu Nurul sambil menatap suaminya dengan senyum manis nya.
"Ivan tadi dapat rangking satu loh Yah..." Ucap Bu Nurul dengan antusiasnya.
"Wah anak Ayah Hebat!!!" Pak Hamid menatap Ivan dengan bangga.
"Anak Bunda juga dong Yah!!" Bu Nurul berseru karena hal sepele yang di ucapkan oleh suaminya.
"Anak Bunda dan Ayah deh!!" Ralat Pak Hamid. Ivan terkekeh melihat kelucuan kedua orangtuanya.
"Jadi kamu ingin hadiah apa Van dari Ayah dan Bunda?" Tanya Pak Hamid kepada Ivan.
"Terserah Ayah dan Bunda saja." Jawab Ivan tanpa berfikir panjang.
"Baiklah, nanti Ayah pikirkan bersama Bunda hadiah apa yang cocok untuk kamu Van." Ucap Hamid seraya mengambil kue kering buatan istrinya.
"Oh iya Van, tadi sebelum Bunda keluar dari gerbang sekolah kamu, Bunda melihat Elsa menangis disana bersama kamu. Apa dia menangis karena kamu?" tanya Bu Nurul sembari menatap Ivan dengan tajam.
__ADS_1
"Oh tadi itu Elsa menangis gara-gara di omelin mama nya karena dia tidak mendapat peringkat di kelas Bund, Ivan tadi tidak sengaja melihat Elsa menangis sendiri di samping pos Satpam yang sepi. Karena Ivan penasaran akhirnya Ivan menemui dia Bund." Ivan menjelaskan apa yang terjadi pada Elsa.
"Penasaran atau perhatian Van??" Celetuk Pak Hamid.
"Penasaran Yah." jawab Ivan tanpa menatap sang Ayah.
"Cie... cie... Ada yang tidak tega melihat Elsa sedih." Kelakar Pak Hamid yang berhasil membuat wajah Ivan memerah karena malu.
"Ayah!!! jangan begitu!!" Bu Nurul berseru sambil menatap Pak Hamid dengan tajam. Ivan hanya diam tidak menanggapi ayah nya karena ia tidak bisa menjawab apa yang baru saja di ucapkan oleh Ayah nya.
"Ayah kenapa juga pakek ngomong seperti itu di hadapan Bunda!!" Gerutu Ivan dalam hati sambil melihat acara talkshow yang sedang di berlangsung di layar televisi nya.
Beberapa saat setelah itu, Suara adzan isyak terdengar dari masjid yang ada di dekat rumah Pak Hamid. Ivan segera menekan tombol off di remote yang di pegang nya sejak tadi.
"Bund, nanti setelah dari masjid Ivan langsung pergi ke tempat PS ya sama teman-teman." Pamit Ivan sebelum beranjak dari tempat duduknya.
"Iya, jangan larut-larut pulang nya Van." Jawab Bu Nurul sambil menatap Ivan.
"Siyap Bund!!" Ucap Ivan dengan mengacungkan ibu jari nya kepada Bu Nurul.
_
_
_
Happy Reading kak♥️
_
_
❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1