PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Kebimbangan Bu Kana...


__ADS_3

Suara tangisan bayi tengah menggema di kamar berwarna putih milik Elsa. Tangisan Rafa berhasil membuat Ivan membuka kelopak matanya, Ia baru saja tidur setelah pulang kerja sift malam.


Ivan mengangkat tubuh mungil Rafa ke dalam gendongannya untuk menenangkan Rafa yang mungkin ingin menikmati asi dari sumbernya. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Cup... cup... Anak Ayah nangisnya kenceng banget ya, tunggu ya sayang... Mama masih masih mandi." Ivan berdiri dari ranjangnya untuk menenangkan Rafa yang masih menangis.


Dua minggu sudah mereka berdua menjadi orangtua Rafa, Elsa sudah mulai bisa mengurus Rafa sendiri, tapi ia masih belum berani untuk memandikan putranya itu. Seperti biasa, Mak Tina lah yang akan membantu Elsa untuk merawat Rafa jika Bu Kana masih berada di rumah sakit.


Elsa segera menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi ketika mendengar suara tangisan putranya, dengan rambut basah yang di lilit handuk berwarna putih, ia keluar dari kamar mandi untuk menghampiri Ivan yang berada di balkon kamarnya.


"Maaf ya Mas udah mengganggu waktu istirahat kamu, sini Rafa biar aku aja yang gendong." Ucap Elsa sembari mengulurkan tangannya di hadapan Ivan.


"Kamu tidak ganti baju dulu?" Tanya Ivan dengan mata sayu nya.


"Nanti saja setelah Rafa tertidur lagi." Ucap Elsa yang kini membawa Rafa kembali ke kamarnya. Ia duduk di depan meja rias berwarna putih miliknya.


Ivan tersenyum tipis menatap anak dan istrinya. Ia sangat bahagia dengan adanya Rafa di dalam keluarga kecilnya. Ivan menghampiri Elsa, ia membuka handuk yang ada di rambut Elsa.


"Eh mau ngapain Mas?" Elsa terkejut ketika melihat Ivan membuka handuk putihnya dari pantulan cermin di hadapannya.


"Aku mau bantu kamu untuk mengeringkan rambutmu." Ucap Ivan sembari menarik laci tempat hairdryer Elsa tersimpan.


"Gak usah Mas, tidur aja lagi. Aku bisa melakukan itu nanti kok." Ucap Elsa


"Sudah jangan berisik, nanti Rafa bangun lagi. Anggap saja kamu sedang berada disalon." Ucap Ivan yang kini mulai menyisir rambut pendek Elsa.


Bahagia, itulah yang di rasakan Elsa saat ini karena mempunya suami sempurna seperti Ivan. Ia tidak pernah menyangka ada di posisi saat ini, mengingat bagaimana dulu perjuangan beratnya bersama Ivan.

__ADS_1


"Terima kasih Mas untuk semua ini." Ucap Elsa sembari memandang wajah Ivan dari pantulan cermin di hadapannya.


Ivan hanya tersenyum manis untuk menanggapi ucapan sang istri. Dengan telatennya ia mulai mengeringkan rambut basah yang ada di hadapannya.


Beberapa menit kemudian, rambut Elsa sudah kering dan tersisir rapi. Ivan meletakkan hairdryer ke tempat semula, lalu ia menempatkan kedua telapak tangannya di pundak Elsa.


"Nona Elsa, bagaimana cara anda membayar pegawai salon yang profesional ini?" Tanya Ivan dengan nada yang menggoda.


"Sepertinya saya tidak bisa membayarnya, pak. Bagaimana jika saya membayarnya satu bulan lagi pak?" Seloroh Elsa dengan tatapan yang membuat Ivan memalingkan wajahnya.


"Tidak masalah Nona, asal pembayarannya di tambah bonus servis yang oke." Ucap Ivan diiringi gelak tawa setelahnya.


"Baiklah, permintaan di terima." Ucap Elsa yang kini berdiri menghadap Ivan. Ia mengecup bibir kenyal yang bisa membuatnya terbang jauh ke nirwana.


"Tidurlah Mas, kamu harus istirahat." Ucap Elsa sebelum berjalan menuju ranjang untuk menidurkan Rafa kembali.


Ivan pun mengikuti langkah Elsa, Ia kembali menata bantal dan memposisikan tubuhnya untuk mencari tempat yang nyaman sebelum berkelana di alam mimpi yang indah.


Waktu terus berjalan tanpa kenal lelah. Langit telah berubah gelap dengan hiasan jutaan bintang yang indah, dinginnya angin malam menyeruak ke dalam kamar Bu Kana yang jendelanya di biarkan terbuka. Beliau sedang sibuk menata pakaian Pak Roni kedalam koper berwarna hitam.


"Papa berapa hari di Jakarta?" Tanya Bu Kana tanpa menatap Pak Roni yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Paling cepat satu minggu dan paling lama mungkin 10 hari Ma." Jawab Pak Roni


"Harus selama itu ya Pa?" Tanya Bu Kana lagi.


"Iya Ma, Papa kan kesana mau ngurus surat-surat untuk cabang pabrik kita yang baru Ma." Ucap Pak Roni. "Emran juga akan ikut dengan Papa." Imbuh Pak Roni.

__ADS_1


Besok Pak Roni akan berangkat ke Jakarta bersama Emran. Disana beliau akan pergi ke kantor pemerintahan dan kantor pajak untuk mengurus surat-surat resmi pabrik barunya yang sebentar lagi akan di buka di Jombang. Pak Roni tidak menemukan tempat yang tepat di Kota Malang, jadi beliau membatalkan rencananya.


Bu kana melanjutkan menata pakaian Pak Roni. Sesekali Bu Kana melirik suaminya yang sedang sibuk di depan laptopnya. Bu Kana bimbang tentang rencananya bersama Bu Mala dulu.


"Haruskah aku membicarakan rencanaku sekarang? tapi aku takut Papa akan banyak pikiran nanti. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Rafa terus bertemu keluarga Ivan." Gumam Bu Kana dalam hatinya.


Bu Kana mengurungkan niatnya, beliau menyimpan kembali rencananya yang tidak masuk akal itu. Setelah semua barang yang di perlukan Pak Roni masuk ke dalam koper, kini Bu Kana beralih duduk di samping Pak Roni.


"Pa, Rafa semakin hari semakin menggemaskan ya Pa." Ucap Bu Kana sembari tersenyum tipis.


"Iya, kalau di pabrik rasanya Papa ingin cepat pulang, kangen sama Rafa." Ucap Pak Roni yang masih berkutat dengan pekerjaannya.


"Papa sangat menyayangi Rafa Ma, rasanya membahagiakan ya Ma kalau sudah punya cucu begini." Ucap Pak Roni diiringi tawanya.


Bu Kana hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Pak Roni. Terlihat sekali jika Pak Roni begitu menyayangi cucu pertama nya itu. Sungguh, Bu Kana di buat bingung karena semua ini.


"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan." Gumam Bu Kana dalam hatinya.


_


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka♥️😍


_

__ADS_1


_


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2