
Gemerlap bintang dan sinar rembulan yang tertutup awan tengah menyaksikan akad nikah yang di gelar di dalam rumah sederhana yang terletak di kota apel. Setelah Emran menjelaskan bahwa keluarganya belum mengetahui perihal hubungannya dengan Dina, Pak Rusdi memutuskan untuk menikahkan mereka secara agama atau bisa disebut nikah siri.
Beberapa tetangga Pak Rusdi mulai datang untuk menghadiri undangan mendadak dari Pak Rusdi. Sebuah tumpeng dan beberapa nasi kotak telah tertata rapi di ruang tamu sebagai syukuran pernikahan siri Emran dan Dina.
"Ya Tuhan, semoga yang aku lakukan ini tidak salah. Maafkan aku Ma, Pa, aku harus melakukan semua ini tanpa izin dari kalian." Gumam Emran dalam hatinya. Ia sejak tadi gelisah memikirkan kedua orangtuanya. Rasa cinta yang besar akan ia buktikan dengan memenuhi permintaan orangtua kekasihnya itu.
Dihadapan Pak Rusdi, Emran mulai mengucap Ijab kabul dengan seorang ustad yang mewakili Pak Rusdi. Hanya satu kali ijab kabul Emran sudah sah secara agama menjadi suami dari wanita cantik bernama Dina Silvana.
"Segeralah urus surat-surat pernikahan kalian, Nak." Ucap Pak Ustad setelah membacakan doa untuk pernikahan mereka berdua.
"Saya akan segera mengurusnya Pak, terima kasih sudah menghadiri undangan kami." Ucap Emran di hadapan Sang Ustad.
Pak Rusdi mengulum senyumnya, ia menitikkan air matanya tatkala melihat pancaran kebahagiaan dari raut wajah Dina. Beliau bisa bernafas lega, karena Dina sudah bersama pria yang selama ini di cintainya.
Satu persatu tetangga Pak Rusdi mulai pamit untuk pulang. Kini tinggallah Mereka bertiga yang sedang berdiri di teras rumah setelah mengantar tamu undangan yang pulang.
"Aku juga mau pulang dulu ke rumah. Ada yang harus aku selesaikan malam ini." Ucap Emran kepada Dina.
Di Malang, Emran mengontrak sebuah rumah besar dengan fasilitas lengkap di komplek perumahan elit yang tak jauh dari gudang percetakan yang ia kelola. Rumah yang bisa ia tempati ketika berada di kota ini. Tiga hari ia berada di Malang dan tiga hari Ia pulang ke Mojokerto untuk membantu Pak Roni mengurus dua pabriknya.
"Menginaplah disini Nak. Kalian sudah sah menjadi suami istri meski secara agama." Tutur Pak Rusdi.
"Maaf Pak, saya harus menyelesaikan pekerjaan dulu. Besok saya akan menginap disini ya Pak." Ucap Emran dengan senyumnya. Ia mengikuti Dina yang masuk kedalam rumah, namun langkahnya harus terhenti karena tangannya di tarik Pak Rusdi.
"Ada apa Pak?" Tanya Emran.
"Bapak mempercayakan Dina kepadamu, Nak. Tolong jangan sakiti anak Bapak ya. Bapak titipkan Dina kepadamu." Ucap Pak Rusdi dengan sorot mata memohon.
Emran memandang wajah yang terlihat pucat di hadapannya. Ia berharap mertuanya ini segera sembuh dari penyakitnya.
__ADS_1
"Bapak tidak usah khawatir. Saya akan menjaga Dina seperti yang Bapak inginkan. Saya akan mencintai Dina sampai kapanpun, Pak." Ucap Emran dengan wajah yang serius.
"Terima kasih, Nak. Kalau begitu ayo masuk, makanlah dulu sebelum kamu pulang." Pak Rusdi menarik Emran untuk masuk ke dalam rumah.
Pak Rusdi tersenyum bahagia, melihat Emran dan Dina yang sedang makan di dapur. Beliau menyaksikan pemandangan indah itu dari sofa yang ada di ruang tengah. Meski hanya sebuah pernikahan siri, Pak Rusdi merasa lega karena ada ikatan diantara mereka berdua.
"Bu ... putri kecilmu kini sudah menikah. Sudah ada pria yang sudah menggantikan tanggung jawab Bapak. Semoga Ibu bahagia disana, Bapak merindukan Ibu." Gumam Pak Rusdi dalam hatinya. Matanya terpejam untuk mengingat istrinya yang lebih dulu pulang kepangkuan Tuhan.
...💠💠💠💠...
Dinginnya angin malam menyeruak masuk kedalam kamar bernuansa abu-abu. Laptop yang masih menyala, minuman kaleng dan makanan yang berserakan di atas meja menemani Emran yang terlelap di depan laptopnya.
"Dina!!" Teriak Emran ketika membuka matanya. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul empat pagi.
"Alhamdulillah!! hanya sebuah mimpi." Gumam Emran sembari mengusap wajahnya kasar. Dalam mimpinya, ia melihat Dina terperosok ke dalam sungai, ia melihat Dina yang menangis minta tolong karena takut tenggelam ke dasar sungai.
Emran bangkit dari kursi kerjanya, ia berjalan menuju ranjang untuk mencari ponselnya yang ia letakkan di atas nakas. Matanya membulat sempurna ketika melihat Banyaknya panggilan tak terjawab dari Dina.
Jalanan kota Malang masih gelap, karena adzan subuh baru berkumandang. Ia menambah kecepatan mobilnya untuk segera sampai di rumah Dina. Sepuluh menit kemudian, Emran menghentikan mobilnya di depan rumah Dina, ia melihat banyak tetangga ada di rumah mertuanya.
"Innalillahiwainnailaihirojiun ..." Ucap Emran ketika melihat jasad mertuanya tertutup kain jarik berwarna coklat di ruang tamu. Ia segera masuk untuk mencari keberadaan Dina.
Emran menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Dina, ia melihat ada dua ibu-ibu yang mencoba menyadarkan Dina yang sedang terbaring di atas ranjang.
"Dina!!" Ucap Emran. Kedua tetangga Dina pun keluar dari kamar untuk memberikan ruang kepada Emran.
"Bay ... bangunlah! Bay... aku ada disini." Emran menepuk pipi Dina. Ia juga meraih minyak kayu putih yang ada di meja.
Perlahan Dina mengerjapkan matanya, karena merasakan panas di sekitar hidungnya. Ia menatap Emran yang sedang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Baby ... Bapak beb ... " Tangis Dina pecah seketika melihat kehadiran Emran disisinya. Ia terperanjat dan memeluk Emran, ia menangis sejadi jadinya di dalam pelukan sang suami.
"Sabar ya bay ... mari kita kedepan untuk menemani Bapak, kita harus mengurus Bapak untuk yang terakhir kalinya." Ucap Emran, bulir air matanya pun ikut turun karena sedih mendengar tangisan wanita yang dicintainya selama ini.
Emran membawa Dina ke ruang tamu, tangisnya semakin tak terkendali lagi ketika melihat jasad orangtuanya yang diangkat untuk segera di mandikan.
"Bay ... sudah Bay ... Jangan seperti ini, Kasian Bapak bay! " Ucap Emran yang merengkuh tubuh Dina kembali ke pelukannya.
"Bapak sudah pergi baby ... Bapak meninggalkan aku sendirian disini." Ucap Dina dengan nafas yang tersengal. Para tetangga yang mendengar ucapan Dina pun ikut menangis karena melihat kesedihan Dina.
Satu persatu kegiatan telah diselesaikan, tepat pukul tujuh pagi, jasad Pak Rusdi sudah siap di berangkatkan ke peristirahatan terakhirnya yang tak jauh dari tempat tinggalnya selama ini. Lagi dan lagi Dina harus jatuh pingsan ketika kereta beroda empat manusia ini berangkat menuju tempat terakhir semua manusia kelak.
"Saya titip istri saya dulu ya Bu." Ucap Emran kepada salah satu tetangga Dina. Ia harus mengantarkan mertuanya ke tempat yang di sebut Pemakaman Umum.
Satu persatu warga mulai meninggalkan makam ketika Pak Ustad selesai membacakan doa. Emran masih bersimpuh di samping makam mertuanya, ia menatap nisan berwarna putih yang bertuliskan nama 'Rusdiantoro'.
"Bapak, Emran janji akan menjaga dan mencintai Dina. Bagaimanapun keadaannya nanti, saya akan mempertahankan Dina. Bapak yang tenang disana ya Pak." Lirih Emran dengan tangan yang mengusap nisan dihadapannya.
Sebelum beranjak dari tempatnya ia sempat termenung, ia mengingat semua obralan terkahir tadi malam bersama Pak Rusdi, ia tidak menyangka kata-kata yang di ucapkan Pak Rusdi adalah sebuah pesan terakhirnya. Emran bersyukur ia telah melaksanakan keiinginan terakhir Pak Rusdi, meski ia sendiri belum mendapat restu dari kedua orangtuanya.
_
_
Selamat membaca, semoga suka ♥️😍
_
_
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️