
Gemerlap bintang terbentang di langit gelap Kota Mojokerto, cahaya bulan yang tertutup awan menambah indahnya pemandangan di atas sana. Namun, semua keindahan itu tidak bisa menangkan jiwa seorang gadis yang tengah tergugu di atas ranjangnya.
Semua ucapan Bu Kana terngiang di indera pendengarannya. Ia tak habis fikir dengan keputusan sepihak Bu Kana, terlalu egois untuk memutuskan sebuah pernikahan tanpa adanya persetujuan darinya.
"Aku tidak akan menikah dengan pria manapun! hanya Ivan yang akan menjadi suamiku!" Jerit Elsa sembari mencengkram selimut tebal berwarna putih yang tertata rapi di atas ranjangnya.
Setelah puas melampiaskan semua kekesalannya, Elsa segera bangkit dari ranjangnya. Ia berjalan menuju balkon kamarnya dengan membawa ponselnya.
Elsa menengadahkan kepalanya, menatap ciptaan Tuhan yang terbentang di atas sana. Ia memejamkan matanya untuk menikmati udara segar yang selama ini di rindukannya. Fikirannya berkelana jauh, membayangkan bagaimana jika ia benar-benar berpisah dengan Ivan.
"Tidak... tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak sanggup jika harus berpisah dengan Ivan!" Elsa menggelengkan kepalanya.
Kedua jempolnya sedang menari-nari di atas ponselnya untuk mengirim pesan kepada sang pujaan hati yang sedang bekerja di sift malam.
"Besok aku harus bertemu Ivan." Gumamnya pelan sembari membalikkan badannya dan bersandar di pagar pembatas.
Setelah dirasa tenang, Elsa melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya, tak lupa ia mengunci pintu yang terhubung dengan balkon kamarnya.
*
*
Sinar sang surya telah naik kepermukaan, penunjuk waktu sudah berada di angka sembilan. Dengan langkah cepat, Elsa berjalan menuruni tangga rumahnya menuju ruang makan. Pagi ini ia sengaja menghindar dari Bu Kana, ia masih kecewa dengan wanita paru baya yang selama ini di panggilnya dengan Mama itu.
Sepi, ya itulah yang di rasakan Elsa saat ini. Ia sudah terbiasa dengan situasi yang di rasakannya saat ini, tapi semua ini jauh lebih baik untuk Elsa daripada harus mendengarkan suara radio rusak selama empat tahun ini.
"Uhuk... uhuk... uhuk...." Elsa meraih gelas yang berisi air putih setelah tersedak, ia begitu terkejut tak kala sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Kak Emran!" Teriak Elsa setelah membalikkan tubuhnya dan melihat pria yang sedang memakai kaos oblong dan celana olahraganya.
Emran tersenyum, lalu ia beralih duduk di samping Elsa. Emran menikmati segelas air putih yang baru di tuangnya ke dalam gelas.
"Kamu mau kemana?" Tanya Emran ketika melihat Elsa sudah berpakaian rapi.
__ADS_1
"Aku mau ketemu Ivan. Kakak tidak ke pabrik?" Tanya Elsa.
"Nanti siang El. Mama sepertinya bertengkar dengan Papa. Tadi pagi Papa tidak sarapan dirumah." Ucap Emran dengan suara yang lirih.
"Biarkan saja Kak! itu salah Mama sendiri!" Ucap Elsa tanpa memandang wajah Emran yang di penuhi keringat hasil olahraganya.
"Mama lebih mendengarkan omongan singa betina itu daripada harus membicarakan semua ini dengan Papa! Aku semakin membenci nenek tua itu!" Sungut Elsa yang enggan untuk menyebut nama Komalasari dari mulutnya.
Emran hanya diam, ia tidak ingin menanggapi ucapan Elsa yang di penuhi dengan amarah di dalamnya. Ia termenung, memikirkan nasib cintanya sendiri.
"Apa aku dan Dina akan melewati semua ini? apakah Mama akan menolak Dina, sama seperti Mama menolak Ivan?" Tanya Emran pada dirinya sendiri.
Elsa telah selesai menikmati sarapannya, kini ia beralih menatap Emran yang sedang asyik dalam lamunannya.
"Aku berangkat dulu kak!" Ucap Elsa sembari menepuk punggung tangan Emran yang ada di atas meja.
"Hati-hati El." Ucap Emran sembari menatap Elsa yang perlahan hilang dari pandangannya.
...💠💠💠💠💠...
"Assalamualaikum...." Ucap Elsa seraya melangkahkan kakinya menuju teras rumah Pak Hamid yang tidak berubah selama empat tahun ini, hanya warna cat nya saja yang berubah menjadi warna terang.
"Waalaikumsalam...." Jawab Pak Hamid dan Bu Nurul bebarengan.
Bu Nurul berjalan menghampiri Elsa, dan langsung saja di sambut pelukan hangat dari Elsa. Beliau begitu merindukan gadis yang selama ini mengisi hati Sang putra. Netra teduh Bu Nurul sedikit berembun ketika melihat perubahan Elsa saat ini. Ia semakin cantik setelah empat tahun lama nya tidak bertemu.
"Apa kabar, Nak?" tanya Bu Nurul sembari mengurai pelukan gadis yang ada di depannya.
"Baik Bu, sangat baik." Ucap Elsa dengan di iringi senyum manisnya.
"Bund, Elsa di ajak masuk dulu, baru ngobrol di dalam." Ucap Pak Hamid yang sejak tadi berdiri di samping Bu Nurul.
"Bapak..." Sapa Elsa seraya berjabat tangan dengan Ayah kekasihnya itu.
__ADS_1
Bu Nurul mengajak Elsa masuk, beliau sedikit berbincang dengan Elsa mengenai kuliahnya selama ini.
"Bu, Ivan kemana?" Tanya Elsa ketika ia tak kunjung melihat batang hidung pria yang selama ini di rindukannya.
"Oh iya, Ibu sampai lupa kalau Ivan masih tidur!" Ucap Bu Nurul sembari menepuk keningnya.
"Biar Ayah saja yang membangunkan dia." Sahut Pak Hamid yang sudah berjalan menuju kamar Ivan.
"Minggu ini dia bekerja sift malam El, jadi tadi pagi sepulang dari pabrik, Ivan langsung tidur." Ucap Bu Nurul.
Elsa hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum manis dan beberapa menit kemudian, Pak Hamid keluar dari ruang tengah rumahnya.
"Ivan masih mandi El." Ucap Pak Hamid.
"Oh ya Elsa. Ibu dan Bapak mau berangkat dulu ya... Karena Ibu sudah di tunggu sama Juragannya bapak." Ucap Bu Nurul sembari menatap Elsa.
"Ibu mau kemana?" Tanya Elsa.
"Ibu dan Bapak mau takziah ke Jombang El, teman kerjanya Bapak meninggal tadi pagi. Dan kami nanti berangkat bersama Juragannya bapak." Ucap Bu Nurul.
Dulu, setelah Pak Hamid sembuh dari cidera pasca kecelakaan, beliau bekerja di tempat peternakan ayam petarung. Disana beliau bertugas merawat ayam-ayam impor yang di siapkan Juragannya untuk mengikuti kompetisi di beberapa daerah yang ada di sekitar Kota Mojokerto. Gaji nya memang tidak sebesar saat di pabrik dahulu, tapi hanya di peternakan itu yang menerima kerja Pak Hamid.
Setelah beberapa saat menunggu Ivan yang masih sibuk di kamar mandi, Bu Nurul dan Pak Hamid memutuskan untuk segera berangkat dan meninggalkan Elsa di ruang tamu seorang diri.
"Elsa, maaf ya Ibu dan Bapak harus segera berangkat. Ivan sebentar lagi juga akan selesai mandi kok." Ucap Bu Nurul sebelum keluar dari rumahnya.
_
_
Happy Reading kak, semoga suka♥️😍
_
__ADS_1
_
❤️❤️❤️❤️❤️