PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Guling Bernyawa ...


__ADS_3


Elsa memandang sebuah foto yang terbingkai di dalam figura berukuran besar berwarna putih yang tertempel di dinding kamarnya. Ia tersenyum memandang potret dirinya bersama Ivan beberapa waktu setelah pernikahan Emran.


Sebuah senyuman khas terbit dari bibir Elsa tatkala mengingat kala itu, saat Ivan tiba-tiba mengajaknya kesebuah tempat yang ada di sudut kota Mojokerto tanpa Rafa.


"Maafkan aku karena tidak bisa mengajakmu duduk diatas pelaminan yang megah seperti Kak Emran. Hanya ini yang dapat aku lakukan untuk membahagiakanmu."


Ya, itulah kalimat panjang yang di ucapkan Ivan saat sampai di dalam sebuah studio photo yang tempatnya tak jauh dari lokasi pemotretan. Setelah dari pernikahan kakak iparnya, Ivan merencanakan sebuah kejutan kecil kepada istrinya dengan mengajaknya foto berdua, layaknya sepasang calon pengantin yang akan melakukan sesi foto prewedding. MUA dan Fotografer profesional pun di sewanya untuk membuat Elsa bahagia.


Hilang sudah lamunan Elsa tatkala sepasang tangan melingkar di perutnya. Aroma maskulin menyeruak ke dalam indera penciumannya. Ia mengalihkan pandangannya ke samping untuk menatap wajah yang berada di pundaknya.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Ivan


"Aku menunggumu pulang Mas." Jawab Elsa. Ia menatap jam dinding yang menunjukkan angka sebelas.


"Jangan menungguku jika sudah larut malam begini. Kamu pasti lelah hari ini karena Rafa." Ivan mengurai pelukannya. Ia membalikkan tubuh Elsa agar berhadapan dengannya.


Helaian nafas berat terdengar dari diri Elsa, "Iya, benar sekali Mas. Aku hari ini lelah sekali karena ulah putramu itu. Dia sekarang suka kabur ke rumah tetangga, dia nakal sama sepertimu. Banyak anak tetangga yang menangis karena mainannya di rebut Rafa." Elsa menceritakan bagaimana kegiatan putranya.


Ivan terkekeh melihat ekspresi Elsa ketika mengadu kepadanya.


"Sayang, Rafa anak kita berdua. Kenapa hanya aku saja yang disalahkan?" Ivan mencoba protes kepada Elsa yang kini beralih duduk di ranjang.


"Lihatlah Mas, Wajah Rafa itu sama seperti kamu, tidak ada tuh yang mirip sama aku. Dia itu Ivan junior!" Ivan memanyunkan bibirnya. Ia kesal setiap membahas wajah Rafa yang hampir sama dengan Ivan, sedikitpun tidak ada yang mirip dengannya.


Lagi dan lagi Ivan tergelak melihat wajah tertekuk istrinya. Ia pun duduk di sebelah Elsa dan mulai merengkuh tubuh Elsa kedalam dekapannya.


"Kamu demam lagi Mas?" Tanya Elsa ketika merasakan kulit Ivan yang panas.


"Tidak, aku baik-baik saja Sayang." Ucap Ivan sambil meraba lehernya.


"Iya, badanku rasanya sakit semua. Aku lemes Sayang." Ucap Ivan dalam hatinya.


Memanglah benar, akhir-akhir ini kondisi Ivan sebenarnya tidak baik-baik saja. Ia sengaja menyembunyikan semua ini dari orang-orang yang ada di rumahnya termasuk Elsa. Ia tidak mau mereka semua khawatir dengan kondisinya.

__ADS_1


"Serius? Aku ambilkan obat ya?" Elsa berdiri dari tempatnya, namun tangannya di tarik oleh Ivan, membuatnya kembali duduk di posisi awal.


"Aku baik-baik saja Sayang, kita sebaiknya tidur saja ya ..." Ucap Ivan yang sedang mendorong tubuh Elsa agar terbaring di samping Rafa.


Elsa berdecak, ia kesal melihat Ivan yang susah sekali jika di suruh minum obat. Elsa tahu jika tubuh suaminya tengah di landa demam tinggi.


"Kamu selalu seperti itu Mas! kenapa sih susah banget di ajak sembuh! Minum obat doang masa gak mau! selalu ngajak perang deh kalau disuruh minum obat!" Gerutu Elsa yang kini membelakangi Ivan.


"Sayang, jangan berisik! nanti Rafa bangun." Lirih Ivan yang memposisikan diri untuk memeluk tubuh istrinya layaknya sebuah guling, guling yang bisa bernafas dan membuatnya terbang ke surga dunia.


...💠💠💠💠...


Suara ketukan pintu terdengar di pintu kamar Dina, ia pun membuka kelopak matanya, jam diatas nakas menunjukkan pukul dua belas malam. Dina mengumpulkan separuh nyawa yang masih berada di alam mimpi.


"Siapa yang mengetuk pintu kamarku? kan tidak ada orang dirumah ini?" Dina pun turun dari ranjangnya. Suara Emran terdengar dari luar kamar.


Dina segera membuka pintu kamar tatkala ia mengenal suara yang sangat familiar di indera pendengarannya.


"Baby ..." Ucap Dina ketika melihat Emran berdiri di hadapannya dengan senyum manisnya.


"Tunggu, bagaimana kamu bisa masuk Baby? " Tanya Dina dengan penuh tanda tanya.


"Aku kan selalu membawa kunci cadangan. Ayo ke dapur!" Ucap Emran sembari menarik tangan Dina untuk turun ke lantai satu.


Dina pun akhirnya mengikuti langkah Emran menuruni satu persatu anak tangga untuk sampai ke dapur. Ia masih dilanda rasa penasaran, karena hari ini bukan jadwal Emran berada di Malang.


Dua piring telah disiapkan Dina di atas meja makan, ia memindahkan makanan yang di bawa oleh Emran. Tak ada satu katapun yang terucap untuk mengiringi makan di tengah malam ini.


Beberapa menit kemudian, semua makanan pun telah berpindah ke perut masing-masing. Dina terus menatap wajah tenang suaminya.


"Baby, kenapa kamu ada disini?" Tanya Dina yang masih menatap wajah Emran.


"Kerjaan di Mojokerto udah selesai, Bay. Jadi aku pulang lah, aku kan kangen sama kamu." Ucap Emran dengan tenangnya.


"Baby!! Jangan seperti itu, ini jadwal kamu dengan dia. Tidak seharusnya kamu pulang kesini Beb." Ucap Dina dengan raut wajah yang berubah seketika.

__ADS_1


Meski terkadang ia berat untuk melepas kepulangan Emran ke Mojokerto, namun ia tak mau jika Emran berlaku tidak adil dengan istri keduanya.


"Bay, Sudah aku katakan bukan, hanya kamu tempat ku pulang. Biarlah dia menikmati apa yang diinginkannya selama ini, dia sering menghabiskan waktu bersama Mama dengan belanja sesuka hati. Aku tidak pernah mencintainya, Bay. Sampai kapan pun aku juga tidak akan pernah mau tidur dengan dia. Tolong jangan bahas ini lagi, aku hanya ingin menikmati waktu ku bersama kamu." Emran menghela nafasnya setelah berpidato di hadapan istri pertamanya.


Emran beranjak dari tempat duduknya tatkala melihat Dina menitikkan air matanya, entah air mata apa yang sedang di bendung oleh istrinya itu.


"Kamu harus di hukum Bay, kamu sudah memarahi suamimu yang baru pulang." Ucap Emran yang kini berada di samping Dina. Ia menyandarkan panggulnya di meja makan.


Dina tersenyum simpul setelah mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Emran, ia pun mengusap bulir air matanya.


"Berapa menit kamu akan menghukumku?" Tanya Dina yang menengadahkan kepalanya untuk menatap Emran.


"Tentunya sampai kamu minta ampun!" Emran menyeringai.


Dina beranjak dari tempatnya, kini ia berdiri dihadapan Emran dengan tangan yang bermain di kancing kemeja milik Emran.


"Kalau aku tidak minta ampun bagaimana?" Tanya Dina dengan tatapan yang menggoda. Satu persatu kancing Emranpun terlepas.


Bulu dada halus terpampang di dada bidang Emran. Membuatnya semakin menggoda di mata Dina. Tangannya kini mulai bermain di dada berkulit putih itu.


"Kita buktikan saja, seberapa kuat kamu bertahan." Ucap Emran sebelum memangsa bibir lembut di hadapannya.


Tanpa melepas tautan bibirnya, Emran mengangkat tubuh Dina ke atas Meja makan. Tangannya pun mulai bergerak menyusuri jalan menuju gua licin yang berhiaskan satu batu permata diatasnya.


"Kita lakukan disini saja." Lirih Emran di sela-sela cumb*annya.


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka ♥️ 😍


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2