PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Di rumah mertua....


__ADS_3

Hari terus berganti, waktu terus berjalan tanpa lelah untuk mengantarkan semua insan pada tujuan masing-masing. Suara adzan subuh terdengar di masjid yang ada di Desa tempat tinggal Ivan. Hari ini adalah hari minggu, hari yang di tunggu oleh semua orang untuk berkumpul bersama keluarga dirumah.


Elsa mengerjapkan matanya pelan, ia meraih ponsel yang ada di atas bantal. Ia segera bangun dan buru-buru keluar dari kamar. Ini untuk pertama kalinya ia bangun di rumah mertua setelah satu minggu ia menyandang status sebagai seorang istri.


Setelah keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri, Elsa terkejut melihat Bu Nurul sudah berada di dapur dengan pakaian kebangsaannya, daster batik berwarna biru.


"Bunda..." Sapa Elsa yang masih berada di depan pintu kamar mandi.


"Ini masih terlalu pagi, kenapa sudah bangun Nak?" Tanya Bu Nurul sembari menatap menantunya.


"Ini sebuah sindiran atau bukan ya?" Elsa bertanya-tanya dalam hatinya setelah mendengar ucapan Bu Nurul.


Elsa berjalan menghampiri Bu Nurul yang sedang memotong wortel dan buncis. Ia melihat bagaimana Bu Nurul melakukan kegiatannya itu.


"Biar Elsa saja bu yang motong wortel dan buncisnya." Ucap Elsa


"Jangan Nak, kamu ke depan saja ya... biar Bunda yang masak." Ucap Bu Nurul sembari menatap Elsa.


"Elsa bisa kok Bund kalau motong wortel sama buncis." Elsa tetap pada pendiriannya.


Akhirnya Bu Nurul memberikan pisau yang ada di tangannya kepada Elsa. Beliau tersenyum bahagia karena Elsa mau membantunya menyiapkan sarapan.


Kegiatan potong memotong wortel telah selesai, kini Elsa beralih mengiris bawang yang sudah di kupas oleh Bu Nurul. Obralan ringan terjadi di antara menantu dan mertua ini. Mereka sama-sama tertawa tatkala Bu Nurul menceritakan masa kecil Ivan.


"Elsa..." Ucap Bu Nurul yang sedang mencuci daging ayam yang sudah di cincang.


"Iya bunda..." Elsa beralih menatap Bu Nurul.

__ADS_1


Bu Nurul tersenyum melihat mata Elsa yang berair. "Kenapa menangis?" Tanya Bu Nurul penasaran.


"Elsa tidak tahu Bund, tiba-tiba mata Elsa perih." Ucap Elsa.


"Kamu tidak pernah mengiris bawang, Nak?" Tanya bu Nurul yang dijawab Elsa dengan gelengan.


Bu Nurul hanya tersenyum melihat wajah polos menantunya itu. Beliau mengambil alih pisau yang ada di tangan Elsa.


Keduanya asyik masak dengan diiringi canda tawa, dapur yang biasa terasa sunyi sepi kini sudah berganti dengan tawa Elsa yang renyah. Obrolan ringan mengiringi kegiatan mereka berdua.


Tiga puluh menit kemudian, Elsa masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir kopi hitam untuk Ivan. Ia duduk di pinggiran ranjang untuk membangunkan Ivan yang masih berkelana di alam mimpi.


Perlahan Ivan membuka kelopak matanya tatkala merasakan tangan Elsa menggelitik pahanya. Rasa geli berhasil membuatnya langsung terbangun dan duduk bersandar di ranjangnya.


"Mas Ivan... ini kopinya." Ucap Elsa malu-malu.


"Kamu memanggilku apa?coba ulangi sekali lagi." Ucap Ivan seraya mendekatkan telinganya kepada Elsa.


"Kenapa manggil aku seperti itu, hmm?" Tanya Ivan penasaran.


"Kata Bunda kalau sudah menikah gak boleh manggil suaminya dengan nama saja. Lebih sopan kalau di kasih kata 'Mas' di depannya." Ujar Elsa dengan polosnya.


"Kamu tidak suka kalau aku manggil kamu Mas Ivan?" Tanya Elsa dengan raut wajah serius.


"Terserah kamu saja, apapun kata yang keluar dari bibirmu aku menyukainya apalagi ketika mendengar erangan manja yang keluar setiap malam di atas ranjang." Ucap Ivan dengan alis yang naik turun.


Elsa memalingkan wajahnya, wajahnya memerah karena malu mendengar ucapan Ivan. Ia beranjak dari ranjang dan berjalan menuju jendela yang masih tertutup.

__ADS_1


"Mandi sana!! biar jernih pikiranmu." Ucap Elsa yang sedang bersandar di jendela kamar yang baru saja di buka olehnya. Ivan melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan segera masuk kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Beberapa menit kemudian Ivan telah menyelesaikan kegiatannya di dalam kamar mandi. Ia kembali ke kamarnya dan melihat Elsa sedang merapikan tempat tidurnya yang berantakan.


"Istriku rajin banget sih!" Ucap Ivan yang sedang memeluk Elsa dari belakang.


"Iya dong, biar suamiku makin sayang sama aku." jawab Elsa yang kini membalikkan tubuhnya menghadap Ivan.


"Sarapan yuk, sudah di tunggu Bunda dan Ayah." Ucap Ivan. Mereka berdua segera keluar dari kamar untuk bergabung dengan Pak Hamid dan Bu Nurul yang sudah berada di ruang tengah.


Mereka berempat menikmati sarapan dalam keheningan, semua sibuk menghabiskan makanan yang ada di piring masing-masing. Bu Nurul tersenyum tatkala melihat kebahagiaan dan cinta yang besar diantara anak dan menantunya.


"Mau nambah Van? Eh salah, maksudnya Mas Ivan." Ucap Elsa sembari menatap Bu Nurul yang ada di depannya. Ia menutup bibirnya karena salah memanggil Ivan di hadapan Bu Nurul.


Ivan tergelak ketika melihat Elsa salah tingkah hanya karena kata 'Mas' Untuknya.


"Terima kasih Elsa, Kamu sudah memperjuangkan hubungan kita. Aku sangat mencintaimu." Gumam Ivan dalam hatinya ketika menatap Elsa ketika kembali menikmati makanannya.


_


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka♥️😘


_

__ADS_1


_


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2