PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Keresahan Ivan...


__ADS_3

"Emran, kalau ada waktu pulang lah sebentar. Elsa sedang membutuhkanmu!!" Ucap Pak Roni ketika sambungan telfonnya terhubung dengan Emran.


Pak Roni mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang ada di balkon lantai dua rumahnya. Beliau mengambil rokok yang ada di saku celana nya. Sambil bersandar Pak Roni menyalakan satu batang rokok yang baru saja di ambil dari bungkusnya.


Saat ini kehadiran Emran sangat di butuhkan oleh Pak Roni, karena hanya dengan Emran putri bungsu nya itu akan terhibur. Suasana seperti ini akan berlangsung lama karena Pak Roni sangat mengenal bagaimana karakter sang istri jika sudah marah seperti yang beliau saksikan tadi.


Setelah membuang putung rokoknya, Pak Roni berjalan masuk menuju kamar Elsa. Di buka nya pintu kamar dengan pelan untuk melihat keadaan putrinya saat ini.


Di lihatnya tubuh Elsa bergetar dalam dekapan Mak Tina, sang pengasuh Elsa sejak ia masih bayi. Pak Roni termangu di ambang pintu, hatinya terasa nyeri melihat Elsa bersedih seperti itu. Pak Roni kembali menutup pintu kamar Elsa. Beliau tidak mau mengganggu waktu Elsa bersama Mak Tina saat ini.


Sementara itu, Ivan sejak tadi mondar mandir di dalam kamarnya. Ia terlihat resah karena sejak tadi siang tidak ada kabar dari Elsa. Semua pesan yang di kirim oleh Ivan tidak ada satu pun yang di balas. Ivan juga sudah mencoba menelfon Elsa namum tak ada jawaban.


"Elsa kemana ya??" Ivan bertanya pada dirinya sendiri.


"Kenapa Nomor nya tidak aktif??" Gumam Ivan yang baru saja mencoba menelfon nomor ponsel Elsa.


Untuk mengusir rasa gelisah yang sejak tadi menyelimuti dirinya, Ivan memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia berjalan menuju teras rumahnya untuk mencari angin malam yang tengah berhembus dengan syahdunya.


Ivan menatap langit yang berhiaskan bulan dan bintang. Meski ia duduk tenang di lantai teras rumahnya, namun hati dan fikirannya berkelana jauh memikirkan gadis berisik yang selama ini mengisi hatinya.


"Van, kenapa tidak masuk?" Terdengar suara Bu Nurul yang sedang berdiri di depan pintu.


"Nanti saja Bund, Ivan masih gerah." Jawab Ivan asal karena ia masih enggan untuk beranjak dari sana.


"Sepertinya Ivan sedang gelisah, apa terjadi sesuatu dengan dia dan Elsa." Bu Nurul bergumam dalam hatinya untuk menerka apa yang sedang terjadi.


"Ya sudah, Bunda tidur dulu. Jangan lupa kunci pintunya nanti!!" Ucap Bu Nurul sebelum kembali masuk ke dalam rumah.


Setelah kepergian sang Bunda, Ivan kembali menatap langit yang memancarkan sinar bulan yang redup. Ia kembali menerka apa yang sedang terjadi dengan Elsa.

__ADS_1


Cukup lama Ivan duduk di teras rumahnya namun ia belum juga menemukan jawaban dari rasa penasaran yang sejak tadi meresahkan dirinya. Tepat pukul sebelas malam Ivan beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan masuk ke dalam rumahnya karena rasa kantuk sudah menyerangnya.


...💠💠💠💠...


Elsa mengerjapkan matanya pelan ketika sebuah tangan menimpa wajahnya. Elsa terkejut bukan main setelah melihat siapa yang tidur di sampingnya. Terlihat Emran sedang tidur nyenyak di samping Elsa dengan jaket kulit yang yang masih terpakai di tubuhnya. Elsa menatap jam yang ada di nakasnya, ternyata masih pukul empat pagi.


"Perasaan jam dua tadi belum ada kak Emran deh, ini kan masih hari jumat kenapa kak Emran sudah pulang ya??" Ucap Elsa sembari menyandarkan tubuhnya di bantalan ranjang.


Elsa berfikir bagaimana ia bisa berangkat ke sekolah jika kunci mobilnya di sita oleh Bu Kana. Ia juga tidak bisa menghubungi Ivan untuk menjemputnya lagi. Sebuah Ide muncul ketika Ia melihat wajah Emran yang sedang tertidur pulas.


"Kak... Kak Emran..." Elsa mencoba membangunkan Emran yang masih terlelap. Karena tak kunjung bangun, akhirnya Elsa menarik hidung Emran agar ia susah untuk bernafas.


"Elsa!!! apa sih!!" Akhirnya Emran membuka matanya. Ia sedikit kesal melihat Elsa yang mengganggu tidurnya, namun rasa itu hilang ketika ia melihat mata sembab Elsa.


"Kak Emran nyampek sini jam berapa? Kenapa sudah pulang, kan sekarang masih hari jumat kak??" tanya Elsa sambil menatap Emran.


"Sudah gak ada kelas hari ini. Tadi nyampek rumah sekitar jam tiga El." Ucap Emran sambil melepas jaket kulitnya.


"Kak Emran mau nganterin Elsa ke sekolah gak? Kunci mobil Elsa di sita mama." Ucap Elsa kepada Emran.


"Ayo kakak anterin, tapi kakak mau tidur sebentar ya, kan sekarang masih subuh." Jawab Emran sambil menguap dengan lebarnya.


"Kita berangkat lebih pagi ya kak, nanti kita sarapan diluar aja ya..." Ucap Elsa.


"Jam lima nanti kita berangkat ya kak..." Lanjut Elsa sembari menatap Emran dengan lekat.


"Ya sudah terserah kamu. Kalau begitu kakak ke kamar dulu." Ucap Emran sambil beranjak dari ranjang Elsa.


"Tinggalkan ponsel kakak disini. Elsa pinjam sebentar saja ya..." Ucap Elsa dengan suara lirihnya yang di jawab emran dengan anggukan.

__ADS_1


Setelah Emran keluar dari kamarnya, Elsa segera menghubungi Ivan. Ia sangat lah hafal berapa nomor ponsel kekasihnya itu.


Elsa beranjak dari ranjangnya setelah selesai mengirim pesan kepada Ivan. Dengan buru-buru ia bersiap berangkat sekolah tanpa harus bertemu Bu Kana di meja makan.


Tepat pukul lima pagi Elsa sudah siap untuk berangkat sekolah, ia berjalan menuju ruang tamu dimana Emran menunggunya saat ini.


"Ayo kak!!" Ucap Elsa ketika sudah berada di ruang tamu.


Mobil Emran perlahan meninggalkan halaman luas rumahnya. Di dalam mobil Elsa hanya diam sambil menatap lurus ke depan. Ia berfikir apa Ivan harus tau masalah yang saat ini sedang di hadapinya.


"Elsa, sebenarnya apa yang terjadi?" Akhirnya Emran memberanikan diri untuk bertanya kepada Elsa.


"Kita berhenti di depan Kak, nanti akan Elsa ceritakan sambil sarapan di sana." Ucap Elsa sembari menunjuk gerobak penjual bubur ayam.


Emran menghentikan mobilnya tak jauh dari tukang bubur ayam. Ia memesan dua porsi bubur ayam untuk di nikmati di dalam mobilnya karena semua kursi sudah diisi oleh pembeli.


Sambil menunggu pesanan bubur ayamnya, Elsa menceritakan semua yang terjadi kemarin malam. Emran menghela nafasnya berat ketika membayangkan kemarahan Bu Kana yang tidak bisa di tahan lagi. Emran semakin iba melihat Elsa yang terlihat begitu sedih.


"Jangan sedih El, pertahankan terus cintamu itu walaupun banyak halangan yang kamu hadapi." Ucap Emran untuk menguatkan Elsa.


_


_


Happy Reading kak, semoga suka😍♥️


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2