
Empat bulan kemudian...
Sebuah bangunan besar berdiri dengan gagahnya di sebrang jalan raya. Bangunan yang baru dua minggu di tempati untuk produksi sepatu kulit milik Ivan. Ya, usaha yang di bangun Ivan dari nol kini berkembang pesat di pasaran. Semua sepatu yang di desain Ivan di minati banyak konsumen, selain dari model yang bagus, bahan berkualitas juga di pilih Ivan untuk menambah kualitas produk miliknya.
Pak Roni baru saja sampai di halaman gudang produksi Ivan. Sebuah senyuman terlukis dari bibinya ketika sudah keluar dari mobil. Beliau sangat kagum dengan menantunya itu.
"Ya Tuhan, aku tidak pernah menyangka menantu ku bisa berada di titik ini. Papa bangga padamu Van." Gumam Pak Roni dalam hatinya.
Pak Roni mengalihkan pandangannya ketika pundaknya di tepuk oleh Emran, keduanya masuk untuk melihat bagaimana produksi yang ada di dalam sana. Dari jauh Pak Roni sedang melihat Ivan yang sedang berbicara serius dengan pegawainya.
"Assalamualaikum..." Ucap Pak Roni yang kini sudah berada tak jauh dari Ivan berdiri.
"Waalaikumsalam..." Jawab Ivan, ia memberikan isyarat kepada pegawainya untuk kembali bekerja.
"Papa sendirian saja?" Tanya Ivan.
"Tidak, tadi Papa sama Emran. Mungkin dia sedang melihat barang jadi yang ada di depan." Ucap Pak Roni sembari mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan putra sulungnya.
Ivan mengajak Pak Roni untuk masuk ke dalam ruang khusus untuknya, sebuah ruangan untuk Elsa dan Rafa saat ikut Ivan ke gudang.
"Maaf Pa tempatnya berantakan, Ivan belum sempat membereskan mainan Rafa yang berserakan." Ucap Ivan sembari mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Ia duduk di samping Pak Roni.
"Tidak masalah Van. Rafa tidak kesini?" Tanya Pak Roni.
"Biasanya kesini Pa, tapi mungkin hari ini tidak Pa karena tadi Elsa pamit mau ke posyandu, hari ini jadwal Rafa imunisasi." Ucap Ivan.
Pak Roni menganggukkan kepalanya, sebenarnya beliau sangat rindu dengan Rafa yang semakin menggemaskan itu, saat ini ia sudah bisa duduk dengan sempurna.
"Bagaimana kabar Mama?" tanya Ivan. Meski pernah kecewa, ia selalu menanyakan kabar Bu Kana jika bertemu dengan Pak Roni.
"Mama baik-baik saja. Papa sudah tidak tahu lagi harus bagaimana melunakkan hati Mama mu. Dia masih tetap pada pendiriannya untuk tidak menemui Elsa." Ucap Pak Roni dengan nada penuh sesal.
"Tidak masalah Pa, Ivan tidak mempermasalahkan tentang hal itu." Ucap Ivan dengan santainya.
__ADS_1
Pak Roni mengalihkan pembahasan pagi ini, kini beliau membahas seputar produk milik Ivan. Beliau juga menganggukkan kepalanya ketika Ivan menjelaskan semua pertanyaan darinya.
"Apa kendala dari usahamu ini?" Tanya Pak Roni kemudian.
"Ada beberapa Sales yang tidak mau membayar tagihan Pa, barang Ivan di bawa, mereka membayar pakai giro tapi waktu di cairkan giro nya kosong." Ucap Ivan dengan diiringi senyum masam ketika mengingat saat dirinya sempat terpuruk karena di tipu oleh beberapa Sales.
Pak Roni hanya tersenyum, beliau sama sekali tidak terkejut mendengar penuturan menantunya, karena memang seperti itu dunia bisnis. Beliau memberikan semangat untuk Ivan agar tidak putus asa jika suatu saat menghadapi masalah yang sama.
Pak Roni mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara langkah Emran yang sedang berjalan menghampirinya.
"Pa, Emran ada janji dengan seseorang, mungkin hanya satu jam. Papa disini saja atau kembali ke Pabrik?" Tanya Emran tanpa duduk di sofa yang sama seperti Papanya.
Sejenak Pak Roni berpikir sebelum menjawab pertanyaan Emran. "Papa disini saja lah, Papa mau nunggu Rafa. Nanti setelah urusanmu selesai, jemput Papa disini." Ucap Pak Roni.
"Kalau begitu Emran berangkat dulu." Ucap Emran sebelum berlalu dari tempat ruangan khusus milik Ivan.
Lima belas menit telah berlalu, Emran menghentikan mobilnya di halaman luas Cafe yang terletak di kawasan jalan majapahit. Ia masuk ke dalam cafe untuk menunggu seseorang yang tadi malam ia hubungi.
Secangkir capuccino telah tersaji di mejanya. Emran mengeluarkan ponselnya, ia melihat nama wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama ini. Emran mengangguk-anggukkan kepalanya ketika berbicara dengan Dina lewat sambungan telfonnya.
Emran telah membuka percetakan besar di Malang, sesuai rencananya dulu. Pak Roni telah membeli gudang yang pernah di rekomendasikan oleh Dina.
"Hay Ran..." Terdengar suara seorang gadis yang ada di hadapan Emran, hal itu berhasil membuat Emran meletakkan ponselnya. Ia tengah menatap wanita berambut pirang yang tengah tersenyum manis kepadanya.
"Silahkan duduk!" Perintah Emran dengan wajah datarnya.
"Masih ingat denganku, kan?" Tanya wanita di hadapan Emran yang terlihat sangat bahagia.
"Ya, Mega Puspita." Ucap Emran.
Emran menghela nafasnya ketika melihat Mega tersenyum ke arahnya, sejujurnya saja ia begitu muak dengan wanita yang ada di hadapannya ini, karena akhir-akhir ini Bu Kana semakin gencar menceritakan kelebihan Mega.
"Apa yang kamu inginkan?" Tidak ada basa basi lagi yang di tunjukkan oleh Emran.
__ADS_1
"Maksudnya bagaimana?" Tanya Mega yang tengah memasang wajah pura-pura bingung.
"Apa saja yang sudah kamu katakan ke Mama ku?" Tanya Emran.
"Aku tidak mengatakan apapun, Ran." Kilah Mega dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
Emran berdecak, ia mengalihkan pandangannya dari wajah Mega. Ia tidak habis pikir, ternyata Mega tetaplah seperti yang dulu.
"Menjauhlah dari kehidupan kami. Jangan mendekati Mama ku lagi!" Ucap Emran dengan wajah seriusnya.
Raut wajah Mega seketika berubah ketika mendengar ucapan Emran, ia tidak menyangka jika Emran akan mengatakan hal itu.
"Kenapa Ran? Bukankah kamu tahu kalau aku sejak dulu sangat mencintaimu? bahkan sampai sekarang aku tidak pernah dekat dengan pria lain, aku selalu menunggumu, Ran!" Ucap Mega yang kini sedang menatap manik hitam di hadapannya.
"Tapi aku tidak pernah mencintaimu, Mega! Kita tidak pernah menjalin hubungan apapun, tapi kenapa kamu mengatakan kepada Mamaku kalau aku tidak bisa move on darimu?" Emran mulai kesal dengan Mega, suaranya sudah mulai meninggi.
"Itu karena aku menginginkan kamu, Emran! Tuhan sudah mengatur semuanya, aku di pertemukan secara tidak sengaja dengan Mamamu. Bukan kah ini sebuah pertanda bahwa kita memang berjodoh?" Ucap Mega dengan percaya dirinya.
Emran sudah tidak tahan lagi untuk terus berbicara dengan Mega yang menurutnya tidak tahu malu. Ia meraih ponselnya untuk kembali di simpandi balik jas hitam yang di pakainya.
"Dengarkan aku baik-baik! aku tidak pernah mencintaimu. Aku sudah punya kekasih yang akan aku jadikan istriku nanti! jadi, berhentilah dari rencana konyolmu itu! Pergilah dari kehidupan kami jika kamu tidak ingin sakit hati!" Ucap Emran sebelum beranjak berdiri.
Mega termangu di tempatnya, ia benar-benar tidak menyangka jika Emran tega mengatakan hal itu. Ia tidak rela jika Emran menikah dengan wanita lain. Mega meremas span pendek yang dipakainya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu bersama wanita lain Ran! kamu harus menjadi milikku! aku harus melakukan sesuatu!"
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka 😍 ♥️
_
__ADS_1
_
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️