PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Istri Muda Vs Istri Tua


__ADS_3

Lima bulan kemudian ...


"Bay, kamu jangan terlalu lelah ya. Kemarin kaki mu sampai bengkak begitu." Ucap Emran sembari memakai kemejanya.


Acara tujuh bulan kandungan Dina telah dilaksanakan kemarin malam, beberapa rangkaian acara telah dilakukan di rumahnya. Dan setelah itu kaki Dina menjadi bengkak karena terlalu lelah.


"Udah kempes Baby ... Sarapan yuk!" Ucap Dina ketika melihat Emran sudah rapi dan siap berangkat pulang ke Mojokerto.


Keduanya turun ke lantai satu menuju ruang makan, menikmati nasi goreng teri, sebuah makanan favorit Emran. Beberapa menit kemudian, mereka berdua telah menyelesaikan sarapannya.


"Bay, aku berangkat ya." Ucap Emran yang kini berjalan ke ruang tamu.


"Hati-hati Baby, jangan ngelamun apalagi ngantuk dijalan. Kabari aku setelah sampai di Mojokerto." Ucap Dina seraya mengusap rahang kokoh milik Emran.


"Kamu sudah cocok menjadi Ibu yang cerewet, Bay." Ucap Emran. Ia pun berjongkok di hadapan Dina, tak lupa ia beberapa kali mengecup perut buncit di hadapannya.


"Hey anak Papa, jangan nakal ya selama Papa di Mojokerto. Kamu tidak boleh membuat Mama sakit. Oke!" Gumam Emran yang tak henti mengusap lembut perut buncit Dina.


"Okay Papa. Aku pasti jagain Mama." Ucap Dina dengan suara yang seperti anak kecil.


Emran pun akhirnya masuk kedalam mobilnya untuk melakukan perjalanan panjang ke Mojokerto. Dina pun masuk ke dalam rumahnya, tak lupa ia mengunci pintu rumah.


Baru saja Dina menginjakkan kakinya di anak tangga pertama, suara bel terdengar di luar rumah. Ia pun kembali berjalan menuju ruang tamu.


"Hmmm ... Pasti ada yang ketinggalan nih!" Gumam Dina sembari berjalan untuk membuka pintu rumahnya.


"Bab ... by!" Ucap Dina ketika pintu terbuka. Bibirnya langsung terkunci tatkala ia melihat bukan Emran yang berdiri di depan pintu melainkan seorang wanita dengan rambut panjang berwarna kecoklatan.


Tatapan keduanya saling mengunci. Raut wajah Dina berubah seketika tatkala Mega mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Kamu tidak menyuruhku masuk?" Akhirnya Mega memecah keheningan yang terjadi.


"Emran baru saja pulang ke Mojokerto, tidak ada yang kamu cari di rumah ini." Ucap Dina yang masih mematung di depan pintu. Ia enggan untuk mengajak Mega masuk kedalam rumahnya.


Keduanya kembali terdiam, udara dingin Kota Malang kini hilang sudah karena adanya pertemuan istri tua dengan istri muda.


"Aku jauh-jauh datang kemari hanya untuk bertemu denganmu, aku tahu jika hari ini adalah jadwal Emran pulang ke Mojokerto." Mega mulai menyulut percikan api.


"Sebaiknya kamu pulang saja, tidak ada yang harus kita bicarakan." Ucap Dina dengan wajah datarnya.


Meski ia membiarkan Emran menikah lagi, ia tidak ingin untuk bertemu dengan madunya itu. Wanita mana yang tidak geram jika berhadapan langsung dengan istri kedua dari suaminya.


Sama halnya dengan Mega, ia sebenarnya tengah meredam gejolak emosi dalam dirinya ketika melihat perut buncit Dina. Ia sangat kesal karena sampai saat ini pun ia tidak pernah mendapatkan nafkah batin dari Emran. Mimpi untuk menjadi seorang ibu pun harus ia tepis.


"Baiklah, kalau kamu tidak ingin aku masuk, kita bicara saja disini." Ucap Mega dengan tangan yang bersekedap.


"Aku juga istri sah Emran, aku juga ingin mendapatkan kasih sayang sama seperti dirimu. Jangan mengikat Emran dengan dirimu saja, biarkan dia juga memberikan nafkah batin untuk ku." Ucap Mega dengan tatapan tajamnya yang tak beralih dari wajah cantik di hadapannya.


Sungguh, hati Dina rasanya seperti di tusuk sebuah belati, ia tak habis pikir jika Mega jauh--jauh ke Malang hanya untuk mengatakan ini.


"Aku sudah pernah meminta Emran untuk adil denganmu. Aku tidak pernah mengikat Emran hanya untuk diriku saja, tapi sebuah perasaan tak bisa di paksakan. Jika Emran tidak menginginkan dirimu, itu semua bukan salahku, karena setiap Emran ada disini, dia tidak pernah membahas apapun selain hubungan kami berdua." Ucap Dina panjang lebar.


"Kalau begitu, bisakah kamu melepaskan Emran hanya untukku. Biarkan dia bersama ku dan keluarganya di Mojokerto." Oh sungguh ucapan Mega kali ini berhasil membuat Dina emosi.


"Aku tidak akan pernah melepaskan Emran! apalagi aku sedang mengandung darah dagingnya. Seharusnya kamu sadar siapa dirimu dalam hubungan ini. Seharusnya kamulah yang pergi dari hidup Emran!" Wajah Dina memerah seketika karena menahan gejolak dalam dirinya.


"Jika kamu mencintainya, lepaskan Emran. Karena cinta tidak bisa dipaksakan. Biarkan Emran bahagia dengan pilihannya sendiri." Lanjut Dina dengan manik hitam yang membulat sempurna.


Keheningan kembali terasa di teras rumah ini. Entah apa yang dipikirkan Mega saat ini, tangannya terkepal karena kesal mendengar kalimat panjang yang baru saja di ucapkan Dina. Perjalanan jauh sudah di tempuhnya, namun tidak ada hasilnya.

__ADS_1


Beberapa hari yang lalu, Mega mencoba bertanya kepada Bu Kana dimana tempat tinggal Emran yang ada di Malang. Ia mengatakan jika ingin menyusul Emran Ke Malang untuk memberi sebuah kejutan. Tentu saja, hal itu membuat Bu Kana bahagia.


Rasa lelah mulai menghampiri kaki Dina, Rasanya ia tidak kuat lagi menopang tubuhnya yang semakin naik berat badannya. Ia harus bertahan agar Mega tidak masuk kedalam rumahnya. Entah mengapa ia menjadi jahat hari ini.


"Pulanglah! Tidak ada yang kamu harapkan disini. Kamu wanita terpandang, jangan buat dirimu menjadi tak berharga di hadapan Emran. Sudah jelas sejak awal kalau Emran tidak pernah menginginkan dirimu, tapi kamu memaksakan diri untuk masuk dalam rumah tanggaku." Ucap Dina yang berhasil membuat Mega melebarkan matanya.


Tanpa mengatakan sepatah katapun, Mega berlalu begitu saja dari hadapan Dina. Ia masuk kedalam mobilnya untuk segera pergi dari kota ini.


"Astagfirullohhaladzim ..." Dina mengelus dadanya setelah Mega pergi dari rumahnya. Ia masuk ke dalam rumahnya untuk beristirahat.


"Bisa-bisanya dia datang kerumah ini untuk memintaku meninggalkan Emran." Gerutu Dina ketika menaiki satu persatu anak tangga yang terhubung dengan lantai dua.


Ia masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat di atas sofa panjang yang ada di dekat pintu. Ia duduk berselonjor dengan tangan yang terus mengusap perut buncit nya.


"Semoga kamu tadi tidak mendengar apa yang baru saja terjadi, Nak."


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka 😍♥️


Maaf ya baru bisa up malam ini 😀


_


_


❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2