PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Untuk yang terakhir kalinya...


__ADS_3

Rona jingga telah berganti dengan langit gelap yang berhiaskan bintang. Ivan duduk di balkon lantai dua cafe Mas bro, ia menunggu kedatangan Elsa yang ingin bertemu dengannya. Ivan masih memakai seragam kerjanya karena se pulang dari Pabrik ia langsung meluncur ke tempat ini.


Sepuluh menit telah berlalu, Elsa berjalan menaiki tangga menuju lantai dua untuk menemui Ivan. Mata sembabnya tidak bisa di sembunyikan lagi.


"Hay...." Elsa menepuk pundak Ivan. Hal itu membuat Ivan mengalihkan pandangannya ke atas.


"Ada apa?Kenapa kamu menangis?" Tanya Ivan sembari menatap Elsa yang sudah duduk di dekatnya.


"Oh, ini bekas aku menangis tadi siang. Aku sedih saja melihat Mama yang masih lemah." Elsa beralasan.


Mereka berdua menikmati waktu bersama di Cafe yang sepi pengunjung itu, karena ini bukanlah weekend. Elsa terus memandang wajah tampan yang ada di sampingnya.


"Van...." ucap Elsa.


"Kenapa? Kamu ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Ivan sembari meraih tangan kanan Elsa. Dikecupnya punggung tangan milik Elsa yang ada di genggamannya.


Air mata Elsa tak terbendung lagi setelah melihat keromantisan yang di lakukan oleh Ivan. Ia tak bisa menghentikan air mata yang terus membanjiri pipinya.


"Van... Maafkan aku." Elsa menundukkan kepalanya.


"Kenapa minta maaf?" Raut wajah Ivan mulai berubah. Perasaannya menjadi tak karuan.


"Aku..." Elsa mengangkat wajahnya untuk menatap wajah tampan yang ada di sebelahnya.


"Aku menerima perjodohan yang Mama inginkan Van." Ucap Elsa dengan menggenggam telapak tangan Ivan.


Terkejut, ya itulah yang di rasakan Ivan saat ini. Hatinya runtuh, bagai di hantam bongkahan batu besar. Ia menatap wajah yang sedang tertunduk di hadapannya itu.


Flashback On


Warna jingga terukir indah di langit yang cerah, menemani sang surya pulang ke peraduannya. Elsa berjalan dikoridor rumah sakit bersama dengan Emran. Sekitar tujuh menit kemudian, mereka berdua telah sampai di ruangan Bu Kana.


Elsa meletakkan beberapa kantong berwarna putih di atas meja. Kemudian Ia berjalan menuju kursi yang ada di samping bed Bu Kana.


"Papa kemana ya kak?" Tanya Elsa ketika menyadari bahwa Pak Roni tidak ada di ruangan Bu Kana.

__ADS_1


"Mungkin masih keluar El, ngerokok." Jawab Emran yang sedang membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang yang ada di dekat jendela.


Elsa kembali menatap Bu Kana yang sedang tertidur pulas itu, hatinya kembali sedih ketika menatap wajah yang masih terlihat pucat dan lemah. Perasaan bersalah kembali memenuhi relung hatinya.


Elsa benar-benar bimbang dengan keputusan yang akan di ambilnya nanti. Ia ingin menebus semua dosa yang pernah di lakukannya kepada Bu Kana, namun wajah Ivan yang tersenyum terus ada dalam pandangannya.


"Elsa... Sejak kapan kamu datang?" Tanya Bu Kana dengan suara lirihnya ketika membuka kelopak matanya. Ia menatap putrinya yang sedang termenung itu.


"Belum lama kok Ma." Jawab Elsa sembari menatap manik hitam yang tengah menatapnya itu.


Bu Kana mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamarnya yang terbuka, beliau melihat Pak Roni masuk dengan membawa beberapa kantong makanan.


"Elsa, kamu mau martabak manis? Papa tadi beli di tempat langganan kita." Ucap Pak Roni sembari duduk di Bed Bu Kana dengan kaki yang menjuntai ke lantai.


"Nanti saja Pa, Elsa masih kenyang." Ucap Elsa tanpa memandang Pak Roni.


Elsa terus memandang wajah Bu Kana yang terlihat sedih itu. Ia tahu Bu Kana saat ini tengah memikirkan masalah perjodohan yang pernah diinginkannya beberapa waktu minggu yang lalu.


"Apa yang mama pikirkan?" Tanya Elsa.


"Tidak ada El." Ucap Bu Kana.


"Iya.... Kita lupakan masalah itu El. Kamu tidak punya salah kok sama Mama." Ucap Bu Kana sembari mengusap rambut putrinya yang tengah menatapnya itu.


"Kalau Elsa mau menerima permintaan Mama, Apa Mama bahagia?" Tanya Elsa dengan tangan yang menggenggam telapak tangan Bu Kana.


Bu Kana tersenyum, matanya memerah menahan air matanya agar di mengalir deras.


"Ya, tentu. Mama akan sangat bahagia jika kamu mau mengikuti keinginan Mama." Ucap Bu Kana


"Baiklah, kalau begitu Elsa akan mengikuti permintaan Mama. Elsa akan menjadi anak yang penurut." Ucap Elsa dengan suara yang bergetar. Senyum tipis terlukis di wajahnya.


Pak Roni dan Emran melebarkan matanya. Mereka berdua terkejut mendengar keputusan Elsa, Pak Roni hanya diam saja menunggu jawaban Bu Kana.


"Apa kamu serius El?" Mata Bu Kana menjadi berbinar. Raut kebahagiaan terlukis di wajahnya.

__ADS_1


"Iya Ma, Elsa serius. Apapun keputusan Mama, Elsa akan menerimanya. Ini ponsel Mama, segera telfon Bude Mala untuk memberikan kabar yang bahagia ini untuknya." Ucap Elsa seraya memberikan benda pipih milik Bu Kana itu.


Elsa terdiam, ia menatap Pak Roni yang ada di sampingnya. Elsa mengisyaratkan kepada Pak Roni lewat tatapan Matanya bahwa ia baik-baik saja.


"Elsa mau keluar sebentar ya. Elsa mau beli sesuatu untuk Mama." Ucap Elsa tak lama setelah itu.


"Pinjam mobilnya Kak." Ucap Elsa yang sudah berdiri di hadapan Emran.


Dengan langkah cepat, Elsa segera keluar dari ruang inap Bu Kana yang menyesakkan baginya.


Flashback Off


Kedua sejoli ini masih terdiam di tempat duduk masing-masing. Mereka berdua berkelana dalam pikiran masing-masing. Ivan terus menatap Elsa yang sesegukan di sampingnya. Lagu-lagu melow yang terdengar di cafe, berhasil membuat suasana hati mereka semakin menyedihkan.


"Aku terpaksa Van melakukan ini semua." Ucap Elsa dengan suara yang bergetar.


Elsa memberanikan diri untuk menatap wajah tampan di depannya yang tengah memancarkan kesedihan lewat sorot matanya. Elsa menceritakan apa yang di alaminya tadi pagi, apa saja yang di ucapkan Bu Kana pun ia ceritakan kepada Ivan.


"Aku sangat takut Van, aku takut kehilangan Mama. Aku sangat berdosa kepada Mama Van. Katakan Van, apa yang akan kamu lakukan jika ada di posisiku saat ini?" Tanya Elsa sembari menatap wajah Ivan.


"Jika situasinya seperti itu, aku akan melakukan hal yang sama El, aku akan melakukan apapun demi kebahagiaan orangtuaku." Ivan mencoba tegar di hadapan Elsa. Ia tahu Elsa terpaksa melakukan semua ini.


"Maafkan aku Van. Maaf... Maaf." Berkali-kali Elsa mengecup punggung tangan milik kekasihnya itu dengan derai air mata yang tak bisa berhenti.


"Kamu tidak salah El, sudah seharusnya kita untuk berbakti kepada orangtua kita." Ucap Ivan untuk menguatkan Elsa yang diliputi rasa bersalah terhadapnya.


"Ayo kita keluar dari tempat ini Van. Biarkan mobilku disini. Aku ingin duduk di atas motormu untuk yang terakhir kalinya." Ucap Elsa dengan suara yang bergetar.


_


_


Happy Reading kak, semoga suka♥️😍


_

__ADS_1


_


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2