
Dua bulan kemudian ...
Mentari pagi telah bersinar dengan semangatnya, sinarnya menemani semua insan dalam melakukan semua aktifitasnya di hari minggu ini. Sebuah dekorasi indah menghiasi ruang tamu di rumah Emran yang ada di Malang karena hari ini telah dipilih Emran untuk meresmikan pernikahannya bersama Dina.
Pak Roni sudah sampai sejak satu jam yang lalu. Beliau duduk di ruang tamu bersama beberapa tetangga Pak Rusdi yang di undang Dina untuk menghadiri pernikahannya.
"Bay, Maafkan aku. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu. Aku tidak bisa memberikan pesta yang megah seperti mimpi kita dahulu." Ucap Emran dengan manik hitam yang menatap wajah cantik yang sudah berhiaskan make up tebal di hadapannya.
Dina membalas tatapan mata yang di penuhi banyak cinta itu. Sejenak ia mengecup bibir milik Emran sebelum membalas ucapan Emran.
"Aku tidak menginginkan sebuah pesta Baby. Untuk apa aku duduk di atas pelaminan yang megah, jika kedua orangtuaku tidak bisa menemaniku. Aku sangat bahagia karena kita benar-benar sah menjadi suami istri. Terima kasih telah mempertahankan aku." Ucap Dina dengan bulir bening yang terkumpul di mata sipit miliknya.
"Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan kamu Bay, kamu satu-satunya wanita yang aku cintai Bay." Ucap Emran yang kini menyatukan keningnya dengan kening Dina.
"Ayo turun Baby, semua sudah menunggu kita." Ucap Dina untuk mengakhiri suasana yang menghanyutkan di dalam kamarnya.
Senyum manis dari keduanya mengembang dengan sempurna, membuat siapapun yang melihat menjadi iri karena keduanya memancarkan sebuah cinta yang besar. Emran terus menggandeng tangan Dina sampai mereka berdua berada di ruang tamu.
Akad nikah akan segera di mulai. Emran menjabat tangan Pak Penghulu sebelum mengucapkan Akad nikahnya, sebuah pernikahan yang sah di mata agama dan negara. Meski tanpa kehadiran wanita yang telah melahirkannya.
"Sahh!!!" Ucap Semua orang yang berada diruang tamu. Sebuah tanda jika Emran berhasil mengucapkan akad nikahnya.
Perlahan tapi pasti, bulir bening telah mengalir dari pelupuk mata Dina, ia bahagia akhirnya bisa meresmikan hubungannya selama ini dengan Emran, namun di bagian hati yang lain ia terus mengingat mendiang Pak Rusdi yang belum setahun pulang ke pangkuan Tuhan.
Semua rangkaian acara telah selesai dilaksanakan. Satu persatu tamu undangan telah pamit untuk pulang ke rumah masing-masing, menyisakan tiga orang yang kini berkumpul di ruang tamu.
"Jadi, ini menantu Papa, Ran?" Tanya Pak Roni sembari menatap Dina. Ini adalah pertemuan pertama antara Pak Roni dan Dina.
"Iya Pa, dia wanita yang selama ini mengisi hati Emran." Senyum tipis terbit dari bibir Emran. Ia menatap Dina yang tengah tersipu setelah mendengar apa yang di ucapkan olehnya.
"Nak, maafkan Emran dan Papa. Karena kami, kamu harus berada di posisi seperti ini. Maaf, ibu mertuamu juga belum mengetahui semua ini." Ucap Pak Roni.
__ADS_1
Sebuah rasa yang bercampur aduk kini telah memenuhi relung hati milik Dina. Ya, tentu saja ia sedih karena sampai sekarang Bu Kana belum mengetahui siapa dirinya.
"Tidak ada yang salah disini, Pak. Tidak seharusnya Bapak meminta maaf kepada saya. Seharusnya saya yang meminta maaf kepada Bapak." Ucap Dina dengan suara lembutnya.
"Papa harap kalian akan selalu bahagia dan rukun. Walau setelah ini sebuah jalan terjal akan kalian lalui. Kuatkan hatimu, Nak!" Ucap Roni dengan tatapan penuh harap kepada Dina dan Emran.
"Iya pa, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk melawan sebuah pertengkaran yang membuat pernikahan kami retak. Terima kasih Papa sudah merestui dan hadir di pernikahan Emran." Ucap Emran yang tak mengalihkan pandangannya dari Pak Roni.
Pak Roni tersenyum simpul untuk menanggapi ucapan Emran, beliau merasa lega melihat kedua anaknya bersama dengan pilihannya sendiri untuk membangun sebuah rumah tangga yang membahagiakan.
"Mama. Lihatlah, putramu sudah menemukan kebahagiaannya sendiri sama seperti Elsa. Setelah ini terimalah konsekuensinya, jika kamu terus mendesak Emran untuk menikahi wanita lain." Gumam Pak Roni dalam hatinya dengan tatapan yang menerawang jauh entah kemana.
...💠💠💠💠...
Di depan sebuah ruangan rumah sakit yang biasa disebut IGD, Elsa mondar mandir dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia sedang menunggu dokter yang menangani Ivan, raut kecemasan terlukis diwajah cantiknya.
"Nak, duduklah! tenangkan dirimu. Ivan pasti baik-baik saja." Ucap Pak Hamid yang sedang duduk di bangku panjang yang terletak di depan IGD.
"Elsa tidak bisa tenang Yah. Elsa sangat khawatir dengan kondisi Mas Ivan." Ucap Elsa yang masih berdiri di dekat pintu IGD.
Ivan dan Rafa, keduanya tengah memenuhi pikirannya. Bagaimana tidak, saat ini Rafa berada dirumah bersama Bu Nurul, Elsa khawatir jika Rafa menangis karena membutuhkan asi darinya.
Pandangan keduanya beralih kesebuah pintu yang terbuka. Seorang perawat memanggil Elsa untuk menemui dokter di dalam, meninggalkan Pak Hamid sendiri di luar.
"Maaf Bu, Pasien harus di rawat disini agar kami bisa memastikan kondisi Pasien saat ini." Ucap seorang dokter wanita bernama Ida setelah duduk berhadapan dengan Elsa.
"Iya Dok, tolong lakukan apa saja agar suami saya sembuh." Ucap Elsa dengan wajah gusarnya.
"Kalau begitu silahkan Ibu mendaftarkan pasien ke bagian administrasi rawat inap, ruangannya ada disamping kanan IGD." Ucap Dokter Ida dengan suara lembutnya.
"Baik dok, terima kasih." Ucap Elsa sebelum berlalu dari hadapan Dokter Ida.
__ADS_1
Elsa kembali keluar dari IGD, ia mengatakan apa saja yang di ucapkan Dokter Ida kepada Pak Hamid.
"Biar Ayah saja yang mengurusnya, kamu lebih baik melihat kondisi Ivan di dalam." Ucap Pak Hamid.
Elsa pun mengikuti saran Pak Hamid, ia masuk lagi kedalam IGD untuk melihat kondisi Ivan saat ini. Dicarinya tubuh sang suami di balik bilik yang tertutup tirai.
Elsa meneteskan air matanya tatkala melihat tubuh lemah yang terbaring di atas bed rumah sakit. Ia melihat Ivan dengan tatapan kosongnya. Entah apa yang sedang di rasakannya saat ini.
"Mas Ivan ..." Lirih Elsa ketika berada di samping Ivan.
Mendengar namanya di sebut, membuat Ivan mengalihkan pandangannya. Di tatapnya wajah wanita yang sedang gusar di sampingnya. Ia seolah mengerti apa yang ada di pikiran Elsa saat ini.
"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja." Ucap Ivan dengan suara yang lemah.
Elsa membungkukkan tubuhnya, ia meraih tangan dingin Ivan, di kecupnya berkali-kali punggung tangan yang ada di genggamannya.
"Katakan padaku, apa yang kamu rasakan saat ini? Dibagian tubuh mana yang sakit, Mas?" Cecar Elsa dengan mata yang mulai berembun.
"Aku hanya merasakan punggungku yang sakit. Sudahlah, jangan terlalu khawatir. Aku akan sembuh Sayang." Ucap Ivan untuk menenangkan Elsa yang sudah berlinang air mata.
Rasa takut telah menguasai diri Elsa, sungguh ia takut terjadi sesuatu kepada suaminya ini. Wajah yang terlihat pucat membuatnya terus berpikir buruk dan membayangkan hal yang tidak diinginkan.
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka 😍♥️
_
_
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️