PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Menjemput menantu.


__ADS_3

Siang ini udara di kota Malang terasa panas, membuat siapa saja malas untuk melakukan aktivitas diluar rumah. Seperti yang dilakukan pasangan suami istri yang sedang bersantai di ruang keluarga dengan di temani camilan dan jus apel yang terlihat menggiurkan. Drama korea pun menjadi hiburan untuk mereka.


"Beb, kamu gak percetakan hari ini?" Tanya Dina dengan pandangan yang tak beralih dari layar datar di hadapannya.


"Tidak Bay. Semua sudah di handle Afit." Ucap Emran sambil mengunyah kripik nangka yang sejak tadi ada di pangkuannya.


Suara bel rumah mengalihkan pandangan mereka berdua. Dina pun berdiri dari tempatnya untuk melihat siapa yang datang.


Dina terkesiap ketika melihat wanita paru baya berdiri di hadapannya dengan Papa mertuanya. Tatapan keduanya saling mengunci, entah apa yang sedang mereka berdua pikirkan.


Di ruang keluarga, Emran pun penasaran karena istrinya tak kunjung kembali. Ia memutuskan untuk melihat siapa yang datang.


"Mama!!" Ucap Emran dengan mata yang melebar ketika melihat Bu Kana berdiri di hadapan Dina.


"Kalian tidak menyuruh kami masuk, Nak?" Akhirnya Bu Kana menggerakkan bibirnya.


Emran pun mengajak kedua orangtuanya untuk masuk kedalam ruang tamunya. Ia duduk bersebelahan dengan Dina yang terlihat gusar.


Pikiran buruk terus menghantui pikiran Dina, ia takut Bu Kana akan memisahkan dirinya dengan Emran. Keringat dingin pun terasa di tubuhnya.


"Ada apa Mama kesini?" Tanya Emran. Ia pun sama takutnya dengan Dina. Akhirnya pernikahan yang di sembunyikannya dari Bu Kana selama ini terbongkar sudah.


Pak Roni hanya diam, beliau memberikan ruang untuk istrinya berinteraksi dengan Dina. Beliau hanya menatap Emran dan Dina yang terlihat gugup.


"Tentu saja Mama ingin melihat menantu Mama yang kamu sembunyikan hingga dia hamil sebesar ini." Ucap Bu Kana dengan diiringi sebuah senyum manisnya.


Emran menaikkan satu alisnya setelah mendengar ucapan Bu Kana. Sebuah kalimat panjang yang ambigu di pikiran Emran. Rasa bersalah pun muncul dari dalam dirinya karena selama ini membohongi Bu Kana.


"Ma, maafkan Emran Ma. Emran memang salah Ma karena menyembunyikan pernikahan ini. Tolong Ma jangan salahkan istri Emran. Dia tidak salah disini." Ucap Emran dengan raut wajah paniknya.


"Siapa namamu, Nak?" Tanya Bu Kana sembari menatap Dina.


"Di ... Dina Bu." Ucap Dina yang terbata karena rasa gugup yang menguasai dirinya.


"Kenapa kamu kelihatan takut Nak. Tenanglah!" Ucap Bu Kana sembari menepuk paha Dina.


Bu Kana menghela nafasnya sebelum mengucapkan maksud kedatangannya ke rumah ini.

__ADS_1


Bu Kana mulai menjelaskan tentang keinginannya untuk menjemput Dina pulang ke Mojokerto.


"Kalian mau kan ikut Mama pulang Ke Mojokerto?" Tanya Bu Kana dengan penuh harap.


"Tapi Ma ... disana kan ada Mega." Jawab Emran.


"Ajaklah istrimu ini datang kerumah Mama. Meski nanti kalian tidak tinggal satu rumah dengan Mama, tidak masalah kok, Ran. Mama hanya ingin kalian berada di dekat Mama, agar Mama bisa melihat keadaan kalian kapanpun Mama mau." Ucap Emran dengan sorot mata yang penuh harap.


"Kamu mau kan, Nak?" Kini Bu Kana beralih menatap menantunya yang sejak tadi hanya diam.


Dina benar-benar bingung dengan situasi ini. Ia tahu keberadaannya disana pasti akan menyakitkan untuk Mega. Tapi melihat Bu Kana yang sikapnya menjadi baik, membuatnya tak kuasa untuk menolak permintaan sang mertua.


"Iya Ma, saya mau." Akhirnya Dina menyetujui permintaan Bu Kana.


Senyum tipis terbit dari bibir Emran. Kini ia bisa bernafas lega tanpa harus menyembunyikan pernikahannya dari Bu Kana. Ia juga bahagia melihat perubahan sikap Bu Kana setelah mengalami depresi.


***


Langit biru telah berubah menjadi gelap. Sinar matahari telah pulang ke singgasananya dan berganti menjadi sinar rembulan. Tepat pukul tujuh malam, mobil yang di kendarai Pak Roni berhenti di halaman, diikuti dengan mobil Emran di belakangnya.


Dina masih termenung di dalam mobil. Ia menatap kemegahan istana yang ada di hadapannya. Ia ragu untuk turun dan masuk ke dalam rumah itu, dimana ada madunya yang berada disana.


"Ayo Nak kita masuk!" Bu Kana meraih tangan Dina sebelum berjalan menuju teras rumahnya.


Mereka berempat masuk ke dalam rumah dengan senyum yang terus mengembang di wajah masing-masing, namun langkah mereka harus terhenti di ruang keluarga tatkala melihat Mega menuruni tangga dengan membawa kopernya.


"Mega ..." Ucap Bu Kana. Ia melepaskan tangan Dina dan berjalan menghampiri Mega.


Mega tersenyum kecut ketika melihat Dina dan Emran yang berdiri di samping Pak Roni. Ia pun akhirnya sampai di hadapan Bu kana.


"Mau kemana, Nak?" Tanya Bu Kana sembari menatap Mega penuh dengan tanda tanya.


"Mega mau pergi dari rumah ini, Ma. Mega sudah menyerah dengan semua ini." Ucap Mega penuh sesal.


Bibir Bu Kana terkunci seketika, beliau bingung harus mengatakan apa kepada Mega. Haruskah beliau menahan Mega sedangkan Emran tak pernah menginginkan dokter kecantikan ini.


"Mama tidak usah merasa bersalah. Ini semua salah Mega, maaf Mega sudah pernah mempengaruhi Mama untuk menikahkan Emran dengan Mega." Ucap Mega. Ia pun memeluk tubuh Bu Kana untuk yang terakhir kalinya.

__ADS_1


"Mama minta maaf, karena selama ini Mama tidak tahu dengan semua yang terjadi di antara kalian." Ucap Bu Kana sembari mengurai tubuh Mega dari pelukannya.


Air mata keduanya sama-sama berjatuhan. Tidak bisa di pungkiri lagi, jika Bu Kana sangat menyayangi Mega selama ini.


"Emran, maafkan aku. Aku sudah menyeretmu kedalam situasi ini. Aku menyerah dengan semua ini, aku tidak sanggup lagi bertahan dalam pernikahan kita ini." Ucap Mega yang kini berada di hadapan Emran.


Dina hanya diam mengamati apa yang ada di hadapannya. Jujur saja sebagai sesama wanita ia kasihan kepada Mega, dia menikah tapi tidak pernah mendapatkan cinta dan kasih dari suaminya.


"Aku akan mengurus surat perceraian kita. Kamu tidak usah datang. Jagalah istrimu dengan baik." Ucap Mega sembari menatap Dina.


"Maaf selama ini sudah membuatmu menderita, Ga." Ucap Emran dengan manik hitam yang terus menatap Mega.


"Ceraikan aku Ran. Aku janji setelah ini, aku tidak akan muncul dihadapan kalian." Ucap Mega dengan sorot mata penuh kesedihan.


"Baiklah. Aku menceraikanmu Mega. Mulai detik ini kamu bukanlah istriku lagi." Ucap Emran dengan suara tegasnya.


Mega memejamkan matanya setelah mendengar ucapan Emran. Hatinya terluka seperti tersayat ribuan belati. Sebuah ambisi yang selama ini berkobar dalam diri, harus berakhir malam ini.


"Maaf, aku pernah jahat kepadamu. Aku sadar, semua ucapanmu saat itu adalah benar. Cinta memang tidak bisa di paksakan. Terima kasih telah membuatku sadar dari obsesi bodoh ini." Ucap Mega yang kini mengalihkan pandangannya ke arah Dina.


"Aku juga minta maaf karena aku tidak bisa membuat Emran menaruh hati padamu. Maaf jika selama ini Emran menjadi tidak adil karena aku." Ucap Dina dengan wajah datarnya.


Mega menyunggingkan senyumnya, ia beralih menatap Pak Roni dan mengucapkan salam perpisahan kepada Papa mertuanya sebelum pergi.


Semua orang mengantarkan Mega sampai di teras rumah. Mega terus menatap Emran meski ia sudah berada di kursi kemudinya. Ia harus membuang jauh semua perasaannya kepada Emran yang sudah bahagia bersama istri pertamanya.


"Emran, aku mencintaimu. Aku tidak yakin setelah ini bisa mencintai pria lain. Aku harus pergi jauh dari kota ini untuk bisa melupakanmu yang pernah ada dalam hatiku sejak pertama kali kita bertemu dulu." Ucap Mega dalam hatinya sebelum mobilnya melesat jauh dari rumah megah Bu Kana.


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka 😍♥️


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2