
Mentari pagi tengah tersenyum hangat di Kota Mojokerto, membuat siapa saja ingin menikmati hangatnya sinar yang di pancarkan olehnya. Seperti saat ini, Elsa tengah duduk berjemur di bangku panjang yang ada di halaman rumah bersama Rafa.
Satu minggu sudah Elsa tinggal di rumah yang di penuhi banyak cinta dan kasih dari sang pemilik, meski tidak ada AC ataupun Busa empuk di kamarnya, Elsa merasa bersyukur bisa merasakan kehangatan keluarga yang selama ini ia rindukan.
"Nak, Kenapa sampai jam delapan pagi suamimu belum pulang? biasanya kalau sift malam jam tujuh pagi kan sudah dirumah." Tanya Bu Nurul ketika keluar dari pintu rumahnya. Beliau berjalan menghampiri Elsa sembari membawa segelas susu rasa coklat untuk menantunya yang tengah berjemur itu.
"Mungkin hari ini Mas Ivan nunggu pengumuman Bund." Jawab Elsa .
"Loh pengumuman apa?" Tanya Bu Nurul dengan raut wajah penasaran.
"Sepertinya Mas Ivan lupa belum bilang ke Bunda kalau hari ini Mas Ivan sedang menunggu keputusan tentang perpanjangan kontrak kerja Bund." Tutur Elsa sembari meletakkan gelas susu yang sudah kosong di sampingnya.
Bu nurul tertegun mendengar penjelasan Elsa, beliau tidak tahu jika Ivan sedang berada di ujung kontrak kerjanya, helaian nafas berat terdengar di samping Elsa.
"Kita berdoa saja ya Nak, semoga kontrak kerja suamimu di perpanjang." Ucap Bu Nurul sembari menepuk pundak Elsa.
Elsa tersenyum simpul sembari menatap wajah wanita paru baya yang mempunyai kelembutan hati bagai kain sutera. Ia sangat bersyukur mempunyai ibu mertua seperti Bu Nurul yang tak pernah sedikitpun bersikap buruk kepadanya.
Cukup dua puluh menit Elsa merasakan hangatnya sinar sang surya yang sudah mulai naik. Ia dan Bu Nurul berjalan masuk ke dalam rumah untuk menidurkan Rafa setelah selesai memberikan asi langsung dari sumbernya.
Sekitar pukul sembilan pagi, Ivan baru sampai di halaman rumahnya. Ia duduk di teras rumahnya sembari melepas sepatu yang ia pakai saat ini.
"Assalamualaikum...." Ucap Ivan ketika masuk kedalam rumah.
"Waalaikumsalam..." Suara Bu Nurul terdengar dari arah belakang.
Elsa keluar dari kamar tatkala mendengar suara Ivan di ruang tamu. Elsa termangu di pintu tengah ketika melihat Ivan yang sedang menengadahkan kepalanya.
"Mas Ivan sudah makan?" Tanya Elsa.
"Sudah, tadi aku sarapan di pabrik." Ivan menegakkan kepalanya, ia menatap istrinya yang masih berdiri di pintu ruang tengah. "Duduklah!" Ucap Ivan sembari menepuk sofa yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Elsa ketika sudah berada di samping Ivan.
Ivan menatap wajah tanpa make up yang ada di sampingnya, ia meraih telapak tangan lembut itu dan di kecupnya beberapa kali punggung tangan berkulit putih itu.
"Kontrakku tidak di perpanjang lagi." Ucap Ivan dengan wajah seriusnya.
"Terus?" Tanya Elsa.
"Apa aku harus melamar pekerjaan di pabrik lain atau kita mencoba saran yang kamu berikan kepadaku minggu lalu?" Tanya Ivan sembari membuka tas kecil yang selalu ia bawa kerja.
"Ini ada uang bonus dan sedikit pesangon dari pabrik." Ivan meletakkan amplop berwarna coklat di meja yang ada di hadapannya.
Elsa meraih amplop yang baru saja diletakkan oleh Ivan. Ia ngintip berapa banyak isi dari amplop tersebut.
"Kalau menurutku lebih baik kita mulai membangun usaha sendiri saja Mas. Kira-kira kita harus mempunyai berapa banyak uang untuk bisa memproduksi sepatu?" tanya Elsa.
"Uang ini cukup untuk modal awal kita. Ya, kita tidak usah memproduksi terlalu banyak, kita lihat pasaran produk mana saja yang laku." Ucap Ivan yang kini menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Jangan menjual apapun, Nak!" Terdengar suara Bu Nurul dari ruang tengah. Sejak tadi beliau sedang mendengarkan pembicaraan putranya.
Bu Nurul menghampiri mereka berdua, beliau duduk di sofa yang berhadapan dengan Ivan.
"Jangan menjual apapun Nak, kalau modal kalian kurang, Bunda ada uang tabungan yang bisa kalian pakai." Ucap Bu Nurul.
"Sekarang tidurlah! kamu pasti lelah Van. Nanti sore kita bahas ini lagi setelah Ayahmu pulang." Ucap Bu Nurul yang sejak tadi menatap Ivan.
Tangisan Rafa terdengar dari kamar, hal itu membuat Elsa segera beranjak dari tempat duduknya. Tanpa berpamitan ia berjalan meninggalkan ruang tamu.
Sesampainya di kamar, Elsa melihat Rafa yang mengeliatkan tubuh mungilnya. Elsa tersenyum simpul melihat putranya yang semakin hari semakin menggemaskan.
"Rafa udah bangun ya... Pasti lapar lagi ya, Nak?" Ucap Elsa sambil mengangkat tubuh Rafa dalam pangkuannya. Ia membuka kancing bajunya untuk mengeluarkan sumber asi untuk Rafa.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka. Ivan masuk ke dalam kamarnya untuk melihat putranya yang sudah tenang di pangkuan Elsa.
"Sayang, kapan ya Rafa bisa melihat kita dan di ajak bercanda seperti balita yang lain?" Tanya Ivan yang kini berdiri di samping Elsa.
"Usia Rafa kan belum genap satu bulan Mas. Biasanya sekitar dua bulan bayi baru bisa melihat dengan sempurna." Ucap Elsa tanpa memandang ayah dari putranya.
Ivan duduk di samping Elsa, ia melingkarkan tangan kanannya di pinggang Elsa, kepalanya bersandar di pundak milik Elsa.
"Sayang, terima kasih ya sudah menerima kesederhanaanku. Terima kasih atas semua cinta kamu selama ini dan terima kasih sudah bersedia menjadi ibu dari anakku." Lirih Ivan yang berhasil membuat Elsa menjadi terharu setelah mendengarnya.
"Justru aku yang berterima kasih kepadamu, kamu terus bertahan meski jalan kita penuh dengan rintangan. Semoga kita bisa seperti ini sampai kapanpun ya Mas." Ucap Elsa yang tangannya kini mengusap rambut hitam Ivan.
Keduanya saling memandang untuk menyelami perasaan masing-masing. Ivan terhanyut dalam suasana yang terasa dalam kamar sederhana miliknya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya untuk mencapai bibir ranum yang menggiurkan itu, baru saja beberapa detik bibirnya bersatu dengan Elsa, tangisan Rafa tiba--tiba menggema dikamarnya.
"Rafa masih bayi sudah bisa gangguin Ayah ya ternyata, cuma cium bibir Mama doang Fa, masak iya gak boleh." Gerutu Ivan sembari menatap Rafa yang ada di pangkuan Elsa.
Elsa tergelak melihat wajah masam suaminya, ia tidak menyangka Ivan akan mengucapkan kalimat konyol di hadapan putranya.
"Bersiaplah Mas, setelah ini kamu tidak akan bisa leluasa bermesraan denganku. Rafa pasti akan mengganggumu." Kelakar Elsa yang di iringi gelak tawa setelahnya.
_
_
Hallo kakak semua, maaf ya jika komentar kalian tidak sempat othor balas, karena di RL othor sedang sibuk nih🙏tapi tenang saja othor pasti membaca komentar kalian semua😍 terima kasih yah sudah mengikuti othor sampai di episode ini😀 Lope lope sekebon duren untuk kalian♥️♥️♥️♥️♥️♥️
_
_
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1