PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Sebuah keputusan...


__ADS_3

Matahari telah menampakkan sinarnya di langit timur Kota Mojokerto. Langit gelap kini telah berubah menjadi biru dengan awan putih yang menghiasinya.


Hari ini Ivan memutuskan untuk pergi ke Alamat yang di berikan oleh Pak Hamid untuk membayar hutang pembayaran administrasi rumah sakit kemarin malam. Ia juga sudah menyiapkan beberapa surat lamaran kerja yang ia tulis semalam.


Ya, tadi malam Ivan harus begadang untuk menyelesaikan beberapa surat lamaran pekerjaan yang akan ia kirim ke Ngoro Industri nanti setelah pulang dari rumah Perawat yang menolong Ayahnya. Ia akan mendatangi Pabrik gitar, Pabrik minuman prebiotik dan Pabrik sosis.


Setelah berpikir panjang, Ivan memutuskan untuk berhenti kuliah. Ia tidak bisa membiarkan keadaan ekonomi keluarganya terpuruk karena kondisi fisik Pak Hamid yang tidak memungkinkan lagi untuk menjadi tukang ojek.


"Nanti aku bisa melanjutkan kuliah lagi kalau keadaannya sudah stabil." Ucap Ivan pada dirinya sendiri sembari memasukkan tiga surat yang ada di amplop coklat ke dalam ranselnya.


Wajah yang biasa terlihat tampan dan segar, kini hilang sudah. Mata yang biasa terlihat indah kini berganti dengan mata panda, karena kurangnya waktu istirahat semalam.


"Kamu mau berangkat sekarang, Van?" Tanya Bu Nurul ketika melihat Ivan keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi.


Ivan hanya tersenyum sembari menatap sang Bunda yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kamu mau kemana? Kenapa bawa ransel Van?" Tanya Bu Nurul sambil berjalan ke ruang tamu untuk menghampiri Ivan yang sudah duduk disana.


Sejenak Ivan terdiam, ia sedang merangkai kata untuk menyampaikan keputusannya kepada Bu Nurul yang ada di sampingnya.


"Bunda... Setelah menyelesaikan urusan Ayah, Ivan akan pergi ke Ngoro Industri." Ucap Ivan dengan suara yang berat. Ngoro Industri adalah sebuah tempat dimana banyak pabrik berdiri disana.


"Untuk apa kesana Van? tempatnya lumayan jauh dari rumah kita Van." Bu Nurul tertegun mendengar ucapan Sang putra.

__ADS_1


"Ivan akan melamar kerja disana. Banyak pabrik bonafit yang membuka lowongan pekerjaan Bund." Ucap Ivan yang beralih menghadap sang Bunda.


"Ivan sudah memutuskan untuk berhenti kuliah Bund. Ivan ingin bekerja dulu, kalau nanti tabungan Ivan sudah terkumpul, Ivan akan melanjutkan kuliah lagi." Dengan hati-hati Ivan menjelaskan keputusannya kepada Bu Nurul.


"Tolong izinkan Ivan untuk melamar kerja disana Bund. Tolong berikan restu Bunda di setiap langkah Ivan nantinya." Ivan menatap manik hitam sang Bunda yang mulai berembun karena nya. di genggamnya kedua telapak tangan yang terasa lembut itu.


Lidah Bu Nurul terasa keluh. Beliau tak dapat membendung air matanya lagi. Bu Nurul berhambur ke dalam pelukan Ivan, beliau terisak di pundak kokoh Ivan.


"Jangan berhenti kuliah, Nak! Bunda dan Ayah masih bisa membiayai kuliah kamu." Ucap Bu Nurul yang sesegukan di bahu Ivan.


Ivan memejamkan matanya, ia tak tega melihat Bu Nurul menangis. Namun semua itu tidak mengubah keputusannya yang sudah bulat. Ia mengurai tubuh Bu Nurul untuk menatapnya.


"Tolong Bunda hargai keputusan Ivan kali ini. Ivan hanya menundanya saja Bund. Nanti kalau keadaannya sudah stabil, Ivan akan kuliah lagi." Ivan mencoba memberi pengertian kepada sang Bunda.


"Ivan berangkat dulu ya Bund, tolong sampaikan keputusan Ivan kepada Ayah." Ucap Ivan sebelum melajukan motornya untuk berangkat menuju alamat yang tertera di kartu nama yang ia bawa.


Setelah Ivan berlalu pergi meninggalkan rumah, Bu Nurul masuk ke dalam ruang tamu. Disana beliau menangis sesegukan karena memikirkan nasib putra semata wayangnya di masa depan.


Bu Nurul segera menghapus air matanya tak kala mendengar suara Pak Roni menyebut namanya beberapa kali. Beliau tidak ingin menangis di hadapan Suaminya yang masih dalam keadaan lemah.


"Iya Yah, ada apa?" Tanya Bu Nurul ketika duduk di pinggiran ranjang.


"Bunda kenapa menangis?" Pak Hamid penasaran.

__ADS_1


"Bunda hanya khawatir dengan kondisi Ayah. Kita ke rumah sakit saja ya Yah! Biar Ayah di rawat disana." Bu Nurul terpaksa berbohong karena saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas masalah Ivan.


Pak Hamid tersenyum tipis melihat raut kekhawatiran terlukis di wajah cantik istrinya.


"Bunda tidak usah khawatir. Ayah baik-baik saja kok. Mungkin tiga hari lagi kita harus ke rumah sakit untuk kontrol Bund." Ucap Hamid dengan diiringi senyum tipisnya.


Bu Nurul menatap Sang Suami yang tengah terdiam sembari menatap langit-langit kamarnya. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena tidak menyampaikan pesan dari Ivan tadi.


"Ya Allah... apa yang harus hamba lakukan. Semuanya terjadi begitu saja. Kuatkan Hamba untuk bisa menjalani semua ujian yang Engkau berikan." Jerit Bu Nurul dalam hatinya.


Sebagai seorang Ibu, tentu saja Bu Nurul sangat sedih melihat putranya berhenti menempuh pendidikannya, namun keadaan di dalam rumah tangganya saat ini tidak memungkinkan untuk ivan terus melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Kesehatan Pak Hamid lah yang menjadi prioritas utama saat ini.


_


_


_


Happy Reading kak, semoga suka♥️😍


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2