
Matahari bersembunyi di balik awan putih yang menghiasi hamparan biru di atas sana. Hari minggu dengan suasana syahdu untuk mereka yang memadu kasih bersama pasangannya.
Penunjuk waktu masih berada di angka sepuluh, namun Elsa sudah rapi dengan celana jeans putih yang di padukan dengan sebuah kaos polos dan blazer motif bunga. Buru-buru ia menuruni satu persatu anak tangga yang ada di rumahnya.
"Aku harus segera pergi, sebelum Mama pulang dari Supermarket." Gumam Elsa ketika sudah masuk ke dalam mobilnya.
Setelah menempuh waktu selama beberapa menit, mobil Elsa sudah berhenti di halaman rumah milik Bu Nurul, ia segera keluar dari mobilnya sembari menenteng satu kantong yang berisi makanan kesukaan Ivan.
Tok... tok... tok....
"Assalamualaikum...." Ucap Elsa dengan tangan yang beberapa kali mengetuk pintu rumah Pak Hamid.
Cukup lama Elsa mengetuk pintu rumah yang tertutup rapat itu, namun belum ada jawaban dari Sang pemilik rumah, membuat Elsa memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di teras.
Elsa mengalihkan pandangannya tatkala mendengar suara motor yang sangat familiar di indera pendengarannya. Ia menatap dua orang paru baya yang baru sampai di halaman rumah.
"Elsa... Sudah lama Nak?" Tanya Bu Nurul.
"Belum Bu." Ucap Elsa seraya menjabat tangan Bu Nurul dan Pak Hamid bergantian.
"Silahkan masuk El." Ucap Pak Hamid setelah membuka pintu rumahnya.
Pak Hamid dan Bu Nurul masuk ke dalam rumahnya untuk meletakkan barang belanjaannya, sedangkan Elsa duduk di ruang tamu sembari menatap pintu kamar yang tertutup rapat itu.
"Ingin rasanya aku masuk ke kamar itu dan memelukmu Van. Aku sangat merindukanmu Van." Gumam Elsa dalam hatinya dengan mata indah yang mulai berembun.
Bu Nurul kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan yang berisi minuman untuk Elsa. Beliau menatap gadis yang sedang berkenalan dalam tatapan kosongnya.
"Elsa, ada apa?" Ucap Bu Nurul ketika melihat bulir bening keluar dari sudut mata Elsa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Bu." Elsa menggeleng pelan.
"Ivan masih tidur, El." Ucap Bu Nurul.
Dua hari setelah kejadian saat itu, Ivan menceritakan apa yang terjadi dengan kisah cintanya kepada Bu Nurul. Sedih, itulah yang di rasakan Bu Nurul ketika melihat wajah frustasi Ivan saat itu.
"Bu, Elsa kesini ingin minta maaf sama Ibu. Elsa terpaksa menerima perjodohan ini Bu." Elsa menundukkan kepalanya.
"Iya ibu tau. Semua ini bukan salahmu, Nak." Ucap Bu Nurul sembari mengusap punggung Elsa.
"Tapi Elsa sudah meninggalkan Ivan Bu, Elsa minta maaf ya Bu..." Ucap Elsa dengan suara yang bergetar.
Tangis Elsa pecah begitu saja dalam pelukan Bu Nurul. Rasa bersalah yang besar tengah menyelimuti dirinya. Berat, ya itulah yang dirasakan Elsa saat ini, hampir enam tahun ia merajut cinta dengan Ivan namun pada akhirnya ia melepaskan cinta dan mimpinya karena Bu Kana.
Sementara itu, di dalam kamar yang berwarna putih, seorang pria tampan tengah menyandarkan tubuhnya di pintu yang masih terkunci rapat. Sebenarnya Ivan sudah bangun sebelum Elsa datang ke rumahnya dan ketika mendengar suara Elsa mengetuk pintu, saat itu pula Ivan keluar dari kamar mandi.
"Elsa... tak seharusnya kamu datang ke rumahku! Bagaimana aku bisa melupakanmu kalau kamu masih menyimpan cinta untukku." Gumam Ivan sembari mengusap kasar wajahnya.
Ivan termangu di balik pintu kamarnya, tatkala terdengar suara Pak Hamid mengetuk pintunya. Bimbang, itulah yang di rasakan Ivan saat ini. Haruskah ia bertemu dengan Elsa?
Perlahan Ivan membuka kunci kamarnya, ia mengikuti kata hatinya untuk menemui gadis yang sedang menangis di ruang tamunya. Pintu kamar Ivan terbuka lebar, Ivan keluar dari kamarnya dengan wajah resahnya.
"Ivan..." Lirih Elsa ketika melihat Ivan berdiri di ambang pintu ruang tengah.
"Sini Van, duduklah!" Ucap Bu Nurul dengan wajah yang memerah.
Setelah beberapa saat terdiam di tempatnya, kini Ivan mendaratkan tubuhnya di sofa yang ada di hadapan Elsa. Ia menatap Gadis berambut panjang itu dengan tatapan sendunya.
"Jangan menangis Elsa! aku tidak sanggup melihat air mata itu turun dari mata indahmu!" Gumam Ivan dalam hatinya.
__ADS_1
Kedua sejoli ini saling memandang satu sama lain, menyelami tatapan yang mengisyaratkan sebuah luka dalam diri masing-masing. Ya, mereka sama-sama terluka dalam situasi yang sulit ini.
"Ada apa kamu kesini? sudah pamit ke orangtua mu?" Akhirnya Ivan memutuskan untuk bertanya kepada Elsa.
"Aku hanya menemui Bu Nurul dan Pak Hamid, aku ingin pamit dan minta maaf karena aku... aku..." Elsa tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Kepalanya tertunduk beriringan dengan bulir bening yang berjatuhan.
"Elsa, jangan merasa bersalah seperti ini. Apa yang kamu lakukan sudah benar, Nak. Berbakti kepada orangtua memang kewajiban seorang anak meski kita tidak bahagia dengan semua itu." Tutur Pak Hamid dengan bijaknya.
Suasana di ruang tamu terasa menyesakkan untuk Bu Nurul, apalagi ketika menatap wajah sendu putranya itu. Beliau tidak sanggup melihat kehancuran hati yang terlihat jelas dari sorot mata Ivan.
"Bu... Elsa benar-benar minta maaf ya Bu." Ucap Elsa yang kembali memeluk Bu Nurul. Sekali lagi ia menumpahkan segala rasa yang ada dalam hatinya.
"Tidak seharusnya kamu minta maaf seperti itu, Elsa!!!" Tiba-tiba terdengar suara Bu Kana dari pintu rumah Bu Nurul.
"Pulang Elsa!!" Ucap Bu Kana dengan tatapan nyalangnya.
Semua yang ada di ruang tamu berdiri, mereka menatap raut wajah yang di penuhi amarah yang begitu besar itu.
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka♥️😍
_
_
❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1