PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Rencana Bu Mala...


__ADS_3

Flashback on.


Dua bulan sebelumnya....


Matahari bersinar terang di langit timur Kota Surabaya. Jalanan masih sepi dari keramaian suara kendaraan yang melintas. Ya, karena hari ini adalah hari minggu, hari dimana semua orang sedang menikmati hari liburnya bersama keluarga di rumah masing-masing.


Tepat pukul setengah sembilan pagi, Bu Kana sudah sampai di halaman luas milik kakak Sulungnya. Hari ini ia akan mengajak Elsa untuk pergi jalan-jalan ke pusat perbelanjaan terbesar yang ada di Kota Surabaya.


Bu Kana berjalan masuk ke dalam rumah megah berwarna putih itu setelah Mak Odah membukakan pintu masuknya. Bu Kana berjalan menuju teras belakang untuk menemui Bu Mala yang sedang bersantai disana.


"Selamat pagi Kak." Sapa Bu Kana sembari duduk di kursi yang ada di samping Bu Mala.


"Tumben sepagi ini kamu sudah sampai disini, Dik?" Tanya Bu Mala setelah menikmati teh hangat buatan Mak Odah.


"Kemana suami mu? dia tidak ikut kesini?" Lanjut Bu Mala setelah menyadari Pak Roni tidak ikut bersama Bu Kana.


"Papanya anak-anak lagi keluar kota Kak. Kemana Elsa? Aku kesini tadi mau ngajakin dia jalan-jalan Kak." Ucap Bu Kana sembari mengedarkan pandangannya ke arah dapur.


Bu Mala menghela nafasnya, Sebenarnya beliau enggan untuk membahas tentang Elsa pagi ini, karena satu jam yang lalu beliau dan Elsa berselisih pendapat.


"Kenapa Kak? Apa Elsa membuat kesalahan?" Tanya Bu Kana setelah menyadari perubahan raut wajah kakak sulungnya itu.


Bu Mala meraih cangkir keramik yang berisi teh, beliau menikmati hangatnya teh hijau sebelum membahas masalah Elsa.


"Elsa pagi-pagi sekali sudah pergi, katanya ada acara di kampusnya." Ucap Bu Mala sembari meletakkan kembali cangkir teh nya di atas meja.


"Tapi aku tidak percaya, tidak mungkin bukan kalau kampus mengadakan acara setiap satu bulan sekali di minggu terakhir?" Bu Mala beralih menatap Bu Kana yang sedang termangu di sampingnya.


Bu Mala menceritakan semua yang di lakukan Elsa akhir-akhir ini. Beliau tidak sanggup lagi untuk mendidik Elsa agar berubah menjadi gadis yang penurut. Beliau juga lelah, karena selama empat tahun ini Elsa selalu berselisih pendapat dengannya.


"Dengarkan saran ku, Dik!" Ucap Bu Mala setelah selesai membahas kesalahan Elsa.


"Kalau kamu ingin Elsa berpisah dengan pria itu, nikahkan saja dia!" Ucap Bu Mala.

__ADS_1


"Menikah Mbak? Lalu siapa yang akan menjadi suami Elsa nanti?" Tanya Bu Kana yang masih menatap Bu Mala dengan sejuta perasaan yang berkecamuk di dadanya.


"Kamu tenang saja, Mbak sudah punya calon suami yang cocok untuk Elsa. Putra Jeng Heni Mbak rasa cocok untuk menjadi suami Elsa, Dik." Ucap Bu Mala dengan seriusnya.


"Dimas pria yang tampan, dia dari keluarga terpandang dan juga kaya raya. Dia juga sarjana Telekomunikasi. Mbak sudah pernah membahas ini dengan Jeng Heni, dan dia setuju saja asal kamu juga setuju." Bu Mala berdiri dari kursinya, beliau berjalan menuju pinggiran kolam renang yang ada di depannya.


"Tapi, Aku belum bicara dengan Papanya Emran, Mbak." Bu Kana menatap tubuh Bu Mala yang membelakanginya.


Bu Mala membalikkan badannya, beliau kembali lagi ke kursi yang ada di samping Bu Kana. Helaian nafas berat terdengar disana.


"Roni pasti setuju dengan rencana Mbak kali ini. Dia tidak mungkin bukan membiarkan anak gadisnya menikah dengan pria yang tidak tepat?" Ujar Bu Mala sembari menatap adik bungsunya yang tengah berselancar dalam pikirannya.


"Ya sudah, kalau begitu kita harus bertemu dengan teman nya Mbak sekarang. Aku juga ingin bertemu dengan putranya." Tanpa berfikir panjang dan berunding dengan Pak Roni, akhirnya Bu Kana mengikuti saran Bu Mala.


"Akan aku telfon sekarang Jeng Heni, agar dia dan putranya segera kemari. Tapi ikutlah denganku, aku akan menunjukkan rekaman CCTV padamu." Ucap Bu Mala sebelum beranjak dari tempat duduknya.


Bu Kana berjalan mengikuti langkah Bu Mala. Mereka berdua pergi menuju lantai dua, lebih tepatnya menuju sebuah ruangan yang di dalamnya berisi beberapa rak buku, monitor CCTV dan lain sebagainya. Ruangan ini biasa di gunakan sebagai ruang baca untuk Hesta dan ketiga Kakaknya yang saat ini berada di tempat tinggalnya masing-masing.


"Elsa menyebut dia Tukang Ojek, apa kamu percaya?" Tanya Bu Mala setelah selesai memutar hasil rekaman CCTV.


"Dia bukan Tukang Ojek Mbak. Dia lah pria yang selama ini berhubungan dengan Elsa." Sungut Bu Kana.


Lagi dan lagi Bu Mala menghela nafasnya, beliau tidak habis fikir kenapa Elsa bisa menyukai pria yang tidak sepadan dengannya.


"Setelah melihat rekaman ini, aku memutuskan untuk mengikuti saran Mbak saja." Ucap Bu Kana dengan hati uang terluka, karena Elsa sudah membohonginya lagi.


Satu jam kemudian, terdengar suara ketukan dari luar pintu. Bu Mala beranjak dari sofa yang ada di ruang bacanya.


"Maaf Bu, dibawah ada tamu yang mencari ibu." Ucap Mak Odah setelah pintu terbuka.


"Tolong buatkan minuman untuk mereka, Mak!" Perintah Bu Mala.


"Ayo Dik, Mereka sudah ada di ruang tamu!" Ucap Bu Mala sembari menatap Bu Kana yang sedang membaca buku tentang kesehatan.

__ADS_1


***


Suasana di dalam ruang tamu terasa menyenangkan untuk Bu Kana, karena beliau sudah bertemu langsung dengan pria pilihan Bu Mala yang bernama Dimas. Dalam pandangan Bu Kana, Dimas begitu sempurna untuk menjadi calon suami Elsa.


"Jadi kapan Jeng, pernikahan ini akan di langsungkan?" Tanya Bu Heni setelah beberapa saat berbincang dengan Bu Kana.


"Ya, secepatnya saja. Mungkin setelah Elsa lulus kuliah. Mungkin dua bulan lagi dia sudah wisuda." Ucap Bu Kana dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Tante, Saya sudah tidak sabar untuk menikah dengan Elsa. Dia sangat cantik, hingga membuat saya jatuh hati hanya dengan melihat fotonya saja." Sahut Dimas dengan suara baritonnya.


"Elsa memang cantik, tapi kamu harus sedikit bersabar jika bersama dia. Dia sedikit cerewet." Ucap Bu Kana dengan senyum manisnya.


"Tidak masalah Tan..." Dimas tersenyum simpul sembari menatap Bu Kana.


Setelah membahas tentang perjodohan antara anaknya dan Elsa, Bu Heni dan Dimas pamit untuk pulang, karena penunjuk waktu sudah berada di angka dua belas.


Bu Kana menghela nafasnya, ada kelegaan yang terdengar dari sana. Beliau tersenyum sembari membayangkan betapa bahagianya Elsa nanti jika memilik suami seperti Dimas.


"Mama hanya ingin kamu bahagia El, bersama orang yang tepat." Gumam Bu Kana dalam hatinya.


Flashback Off.


_


_


Happy reading kak, semoga suka😍♥️


_


_


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2