
Satu bulan kemudian...
Senyum merekah terbit dari bibir berwarna peach, sebuah binar kebahagiaan terlihat dari sorot mata Elsa yang saat ini sedang menatap dirinya di pantulan cermin yang ada di hadapannya. Dua orang perias pengantin tengah memasang sanggul dan aksesoris pernikahan di kepala Elsa.
Hari ini adalah hari ulangtahun paling spesial untuk Elsa, karena di hari ini sosok pria yang di cintainya akan mengucapkan ikrar suci pernikahan di hadapan penghulu dan semua anggota keluarganya.
Cukup satu bulan Ivan mempersiapkan semua keperluan dan perlengkapan yang di butuhkan Elsa untuk seserahan. Ia sangat antusias mempersiapkan pernikahan yang di impikannya selama ini.
Perasaan Elsa menjadi dag dig dug tak karuan tatkala Bu Kana masuk kedalam kamarnya, beliau mengatakan kalau keluarga Ivan sudah datang dan penghulu sudah siap menikahkan mereka berdua. Jantung Elsa berdegup kencang ketika ia menuruni satu persatu anak tangga untuk sampai di ruang tamu yang sudah di dekorasi dengan nuansa putih.
Keringat dingin membasahi telapak tangannya ketika menatap Ivan yang sedang tersenyum ke arahnya. Elsa terlihat gugup dan salah tingkah tatkala ia sudah duduk di samping Ivan yang tak henti menatapnya.
Ruang tamu yang begitu luas telah di penuhi keluarga besar Elsa dan keluarga besar Ivan. Mereka semua sedang menyaksikan dua pasangan pengantin yang tengah tersipu malu saat MC yang bertugas sedang menggoda mereka. Pembukaan acara telah selesai, kini mereka telah sampai di acara yang sejak tadi di tunggu oleh Ivan.
"Saudara Ivan Ardiansyah apakah anda sudah siap mengucapkan ijab kabulnya?" Tanya Pak Penghulu berkaca mata yang sedang menatap Ivan dengan serius.
"Saya sudah siap Pak." Ucap Ivan dengan tenangnya. Pak Roni mewakilkan kepada Pak Penghulu untuk menikahkan putrinya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Elsara Anjani binti Ahmad Syahroni dengan mas kawin tersebut, tunai." Akhirnya Ivan berhasil mengucapkan akad nikahnya.
"Bagaimana saksi?" Tanya penghulu kepada beberapa saksi yang menyaksikan pernikahan Elsa dan Ivan.
"Sahhhh...." Ucap semua orang yang ada di ruang tamu.
Keduanya saling menatap dengan diiringi senyum kebahagiaan yang terus mengembang di wajah masing--masing. Elsa menjabat dan mencium punggung tangan Ivan dengan perasaan yang bercampur aduk dan setelah itu Ivan mengecup kening Elsa dengan penuh cinta dan kasih.
Setelah penghulu membacakan doa untuk kedua pengantin yang kini sah menjadi suami istri, acara di lanjutkan dengan sesi foto bersama. Meski tanpa dekorasi pernikahan yang mewah, Bu Kana memanggil fotografer untuk mengabadikan momen bersejarah untuk putrinya.
Acara berlangsung sampai siang hari, semua rombongan Pak Hamid dan Bu Nurul pulang dari rumah Pak Roni tepat pukul satu siang.
"Ayah pamit pulang Van, jaga diri dan jaga sikap di rumah mertua." Ucap Pak Hamid sembari menepuk bahu Ivan.
"Pasti Yah, Ivan akan mengingat nasehat Ayah." Ucap Ivan.
"Bunda pulang ya Nak. Sesekali menginaplah di rumah." Ucap Bu Nurul sembari menatap Elsa.
"Elsa akan sering menginap disana, Bu." Ucap Elsa dengan raut wajah bahagianya.
Keluarga besar Bu Kana menatap sinis sepasang pengantin yang sedang menikmati makan siangnya di sudut ruang keluarga. Bu Mala terus menatap Ivan yang sedang tersenyum kepada Elsa.
__ADS_1
"Apa-apaan Kana ini! Bagaimana bisa dia membiarkan putrinya menikahi pria itu! Meski Dimas bukan pilihan yang tepat, bukan berarti pria itu juga yang harus menikahi Elsa." Gumam Bu Mala yang tak mengalihkan pandangannya dari Ivan.
Tak menghiraukan keluarga besar Bu Kana, Elsa mengajak Ivan untuk beristirahat di kamarnya yang sudah di ubah menjadi kamar pengantin yang di penuhi bunga-bunga di dalam nya.
Keduanya menjadi gugup ketika sudah berada di dalam kamar yang terkunci rapat itu. Elsa bingung harus bersikap bagaimana kepada Ivan yang sudah sah menjadi suaminya.
Elsa menatap Ivan yang sedang melepas pakaian putih yang di pakainya akad nikah tadi lewat pantulan cermin di hadapannya. Elsa berdecak kagum ketika melihat tubuh bergelombang Ivan yang sangat menawan itu.
"Mau aku bantuin melepas sanggulnya El?" Tanya Ivan yang sudah berdiri di belakang Elsa.
"Boleh." Ucap Elsa dengan senyum manisnya.
Keduanya sibuk melepas aksesoris yang melekat di kepala Elsa, bunga melati putih di letakkan Ivan di atas meja, dan beberapa puluh menit kemudian mereka berdua telah selesai.
"Aku mandi dulu El." Ucap Ivan sembari menatap Elsa lewat cermin di hadapannya.
"Handuknya ada di depan kamar mandi Van." Ucap Elsa yang membalikkan tubuhnya.
Ivan segera berlalu dari hadapan Elsa, ia segera membersihkan diri di kamar mandi sebelum beristirahat.
Setelah beberapa menit, Ivan sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggulnya, hal itu berhasil membuat Elsa menelan saliva nya ketika menatap bentuk tubuh Ivan yang masih basah.
"Aku... aku mandi dulu Van." Ucap Elsa dengan gugup.
Cukup lama Ivan menunggu Elsa yang berada di kamar mandi dan setelah tiga puluh menit Elsa keluar dengan handuk kimono berwarna putih dan handuk kecil yang melilit rambutnya.
Ivan bangun dari ranjang Elsa, Ia berjalan menuju meja rias Elsa. "Mana sisirnya, aku bantu." Ucap Ivan untuk mengurangi perasaan gugupnya. Dengan sangat hati-hati ia menyisir rambut panjang yang menjuntai ke bawah.
"Harum." Satu kata keluar dari bibir Ivan ketika ia mencium puncak rambut Elsa.
Rona merah tergambar di wajah polos Elsa, ia tersipu malu setelah mendengar ucapan Ivan. Ia juga menjadi salah tingkah ketika Ivan menatapnya dengan penuh arti.
"Mau mencobanya sekarang?" Tanya Ivan sembari mengangkat tubuh Elsa agar duduk di atas meja riasnya. Elsa hanya menganggukkan kepalanya. Lidahnya terasa keluh untuk menjawab pertanyaan Ivan.
Mata Elsa terpejam ketika tangan Ivan menerobos rambut basahnya untuk mengusap leher jenjangnya. Getaran aneh terasa dalam dirinya apalagi ketika Ivan mulai menyapu lembut bibir polos tanpa lipstik miliknya.
Sebuah tarian lidah mengawali pembukaan segel seorang istri yang tengah menikmati lum*tan lembut dari suaminya. Elsa melenguh tatkala tangan Ivan menerobos masuk ke dalam handuk yang di kenakan oleh Elsa. Tangannya menjelajah di dalam sana untuk menemukan dua benda kenyal yang selama ini membuatnya penasaran.
"Ivan..." Elsa merintih ketika Ivan menemukan puncak bukit teletubis miliknya. Tubuhnya menegang seperti tersengat aliran listrik yang cukup besar.
__ADS_1
Tanpa melepas pagutan nya, Ivan mengangkat tubuh Elsa untuk di pindahkan di atas ranjang yang masih banyak bertaburan kelopak bunga mawar. Ia mengungkung tubuh yang hampir polos di hadapannya.
"Aku ingin melakukannya sekarang El." Ucap Ivan sembari melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya.
"Lakukanlah." Ucap Elsa sebelum matanya terpejam karena malu ketika Ivan membuka handuk kimono yang membungkus tubuhnya.
"Aduh...." Teriak Elsa ketika merasakan rudal milik Ivan yang ingin menerobos masuk ke dalam gua basah miliknya.
Elsa mencengkram bantal yang ada di sampingnya tatkala rudal itu menghujam untuk yang kedua kalinya.
"Auuhhh... sakit Van!!" Teriak Elsa lagi.
Ivan menghentikan usahanya untuk masuk kedalam gua yang sudah licin dengan air surga yang mengalir dari dalam sana.
"Jangan berisik Elsa, diluar masih banyak keluargamu." Ucap Ivan dengan suara yang lirih.
Sekali lagi, Ivan melancarkan usahanya untuk menerobos gua yang masih tertutup rapat itu. Kali ini ia sedikit keras menghentakkan senjatanya yang berhasil membuat Elsa semakin mengencangkan suaranya.
"Stop Van! Stop!!" Ucap Elsa karena tak tahan dengan rasa perih yang terasa di tubuh bawahnya.
"Astaga Elsa! jangan teriak-teriak seperti itu! malu di dengar orang." Ucap Ivan dengan wajah yang memerah karena menahan gejolak yang menggebu dalam dirinya.
Ivan menghentikan permainannya, ia memberikan Elsa jeda waktu untuk menetralkan rasa perih yang melanda gua licinnya.
"Ternyata melakukan ini tak semudah yang aku lihat di video." Gumam Ivan dalam hatinya sembari menatap tubuh polos di bawah kungkungannya.
😍Nih aku kasih foto pernikahan Elsa dan Ivan😍
_
_
Selamat membaca kak, semoga suka♥️😍
_
__ADS_1
_
❤️❤️❤️❤️❤️