
Waktu terus berlalu, hari demi hari telah berganti mengantar Elsa di tujuh bulan usia kandungannya. Semua orang tengah sibuk mempersiapkan acara syukuran untuk tujuh bulan kandungan Elsa atau bisa di sebut sebagai acara tingkepan.
Bu Nurul sejak pagi sudah datang ke rumah besannya untuk membantu mempersiapkan segala sesuatu yang di butuhkan untuk acara nanti malam karena Pak Roni sengaja mengundang beberapa relasinya.
Setiap pagi selama hamil di trimester pertamanya Elsa mengalami morning sickness. Tubuhnya akan merasa lemas di pagi hari, baru menjelang siang ia kembali bertenaga, bahkan nafsu makannya menjadi naik dua kali lipat.
Seperti saat ini, dalam kurun waktu dua jam ia sudah makan dua kali. Hal itu membuat pipinya semakin mengembang seperti adonan donat yang telah di fermentasi.
"Sayang, ini sudah siang. Kamu istirahat dulu ya." Ucap Ivan yang baru saja berjalan dari ruang tamu.
"Aku pengen lihat belalai gajah, Mas." Ucap Elsa sembari menatap Ivan dengan tatapan yang menggoda.
"Kan tadi pagi sudah, nanti malam lagi ya." Ucap Ivan sembari mengusap rambut hitam istrinya.
"Sekarang pengen lagi, nanti malam juga lagi." Ucap Elsa dengan suara manjanya yang membuat Ivan menjadi gemas.
"Katanya Anak kita pengen di tengok kamu Mas siang ini." Ucap Elsa sambil menahan senyumnya.
Ivan mengusap perut buncit Elsa, ia mengusap dengan gerakan lembut dan terakhir ia mengecupnya dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapkan.
"Baik-baik di dalam ya Nak, jangan nakal ya." Lirih Ivan sebelum kembali menegakkan tubuhnya.
Begitulah Elsa, semenjak kandungannya memasuki trimester kedua, hasratnya semakin menjadi. Ia lebih sering meminta kepada Ivan untuk melakukan penyatuan antara belalai gajah dengan ikan piranhanya. Terkadang Ivan di buat kalang kabut dengan keiinginan istrinya itu. Ia harus benar-benar menjaga stamina dan membaginya untuk bekerja di pabrik dan menjalankan misi di 'pabrik' banjir milik Elsa.
"Ayo Mas!!" Ucap Elsa seraya berdiri dari sofa yang ada di ruang keluarga.
Ivan hanya tersenyum menatap donat salju yang ada di hadapannya. Ia berjalan di belakang Elsa menuju kamarnya untuk melakukan produksi di 'pabrik' Elsa yang sering kebanjiran itu.
Panasnya terik matahari tak sepanas gairah sepasang suami istri yang tengah memposisikan tubuh setelah melakukan pemanasan yang menggelora. Keduanya mengerang ketika mulut piranha mencengkram belalai gajah dengan kuatnya. Ivan semakin mempercepat gerakannya setelah merasakan bagian dalam piranha berdenyut kencang tanda sebuah pencapaian akan segera tiba.
__ADS_1
"Mas...." Lenguhan manja keluar dari bibir Elsa ketika rasa itu telah menghancurkan pertahanannya. Ia meremas lengan bergelombang Ivan dengan kencangnya.
Berkali-kali Ivan mengecup kening Elsa yang basah karena keringat hasil dari pertempurannya. Ia menatap manik hitam yang sudah sayu karena terserang rasa kantuk yang berat.
"Tidurlah, nanti akan aku bersihkan sisa lumpur yang ada di mulut piranha mu." Ucap Ivan sebelum melepas penyatuannya.
...💠💠💠💠...
Sinar mentari telah berganti dengan sinar rembulan. Satu persatu tamu undangan telah datang di kediaman Pak Roni untuk mengikuti acara tingkepan Elsa.
Acara telah di mulai karena semua tamu undangan telah hadir, keluarga besar Bu Kana yang dari Surabaya pun sudah hadir termasuk wanita yang di sebut Elsa dengan singa betina.
Hampir satu jam lamanya acara tingkepan berlangsung. Setelah acara selesai, sebagian tamu dan tetangga Pak Roni ada yang pulang, menyisakan beberapa orang saja yang masih berada di ruang tamu.
"Saya tidak menyangka, Pak Roni dan Pak Hamid ini besanan." Ucap Pak Budi, seorang pria paruh baya keturunan tionghoa, beliau adalah peternak Ayam terbesar di Mojokerto, tempat Pak Hamid bekerja setiap hari.
Keluarga Pak Budi dan Pak Roni bisa di bilang dekat, dulu mereka berdua pernah terikat kerja sama ketika Pak Budi masih mengelola sebuah yayasan sosial yang ada di Mojokerto.
"Iya Pak Bud, saya juga penasaran kok Pak Budi bisa kenal dengan besan." Timpal Bu Kana.
Semuanya memang tengah duduk bersantai di atas permadani mewah yang tergelar di ruang tamu yang luas ini. tak terkecuali Bu Mala yang duduk di samping Bu Kana, Bu Nurul dan istri dari Pak Budi.
"Loh gimana toh sampean ini Pak Ron. Pak Hamid ini bekerja di peternakan saya, Pak Hamid inilah yang merawat ayam-ayam aduan saya hingga bisa menang kontes di berbagai kalangan. Beliau ini selalu ikut kemanapun saya pergi." Ucap Pak Budi dengan bangganya.
"Iya Pak Roni, setelah saya kecelakaan dulu, saya kerja di peternakan Pak Budi. Saya sering menemani Pak Budi keluar kota untuk merawat ayam puluhan juta nya yang mau ikut kontes." Ucap Pak Hamid dengan kalemnya.
Pak Budi menceritakan kegiatannya selama ini. Beliau juga bercerita dengan bangganya jika sering menang kontes ataupun aduan di berbagai kota yang ada di jawa timur.
"Wah kapan-kapan boleh dong saya ikut Pak Budi dan Pak Hamid keluar kota untuk menyegarkan pikiran, biar gak cepet tua, ya kan Pak Hamid." Kelakar Pak Roni yang diiringi dengan gelak tawa semua orang yang ada di ruang tamu kecuali Bu Kana dan Bu Mala.
__ADS_1
Setelah mendengar cerita dari Pak Budi bahwa beliau sering bersama Pak Hamid pergi keluar kota untuk melakukan Adu ayam, pikiran beliau menjadi kemana-mana.
"Astaga... kalau sabung ayam kan ada taruhan uangnya. Apa itu berarti jika Ayahnya Ivan biasa ikut Judi bersama Pak Budi." Gumam Bu Kana dalam hatinya.
"Jadi besannya Kana sering masuk ke pertarungan ayam, ini tidak bisa di biarkan! Kana harus melakukan sesuatu." Gumam Bu Mala yang sedang menatap Pak Hamid.
Obrolan di ruang tamu hanya seputar ayam-ayam mahal milik Pak Budi yang sering menghasilkan kemenangan dan uang dari kalangan kelas kakap. Membuat Bu Kana semakin yakin jika Pak Hamid ikut melakukan taruhan Ayam.
Malam semakin larut, Pak Budi dan Istrinya pamit untuk pulang. Dan beberapa tamu yang lain pun mengikuti langkah Pak Budi untuk pulang dari rumah Pak Roni.
Begitu juga dengan Bu Mala, beliau beserta anak-anaknya juga pamit untuk kembali ke Surabaya. Bu Mala sempat berbicara empat mata dengan Bu Kana di teras belakang rumah dengan raut wajah seriusnya.
"Dik, jangan lupa kalau ada waktu datanglah ke rumahku, kita harus melanjutkan apa yang tadi sudah kita rencanakan." Ucap Bu Mala sebelum masuk ke dalam mobil putih miliknya.
"Iya Mbak, besok setelah dari rumah sakit aku akan mampir ke rumah Mbak Mala." Lirih Bu Kana yang berdiri di samping mobil Bu Mala.
_
_
Wah wah wah... Ada apalagi ini?? apa yang di rencanakan dua nenek sihir ini yakk?? penasaran gak nih?😂
Selamat membaca kak, semoga suka😘♥️
Sekedar info saja ya, Kalangan ayam disini maksudnya adalah sebuah tempat berbentuk lingkaran yang biasa di pakai sabung ayam/ Tarung Ayam. Kalau penasaran bisa cek sendiri di internet yaa kak😀
_
_
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️