PUNCAK CINTA

PUNCAK CINTA
Menyelesaikan Misi....


__ADS_3

Waktu terus berjalan, cahaya matahari telah berganti dengan cahaya bulan yang indah. Ivan menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar Elsa setelah tadi bercengkrama dengan Pak Roni dan Emran di taman belakang.


Ivan tersenyum tipis ketika pintu kamar Elsa terbuka, ia melihat Elsa sudah terbaring di ranjangnya dengan suasana kamar yang temaram.


Setelah berganti dengan boxer dan kaos oblong berwarna putih, Ivan merebahkan tubuhnya di samping Elsa. Ia menatap punggung istrinya yang tidur membelakanginya.


"Kamu pasti belum tidur kan El." Ucap Ivan dengan tubuh yang sudah merapat dengan punggung Elsa. Ia memeluk tubuh yang terbalut piyama berwarna merah muda yang sedang membelakanginya itu.


Elsa membuka kelopak matanya tatkala telapak tangan Ivan mengusap perutnya. Ia sengaja pura-pura tidur karena malu di hadapan Ivan.


Kegiatan penjebolan pintu gua licin tadi siang belum selesai. Kegiatan itu harus tertunda karena ada saudara Pak Roni yang baru datang dari Sidoarjo.


"Coba hadap kesini, aku ingin melihatmu." Ucap Ivan sembari menarik pundak Elsa agar tidak membelakanginya lagi.


"Ada apa?" Tanya Elsa sembari menatap manik hitam Ivan.


"Kenapa kamu malu-malu seperti ini El? Aku ingin melihat kamu seperti saat di kamar ku dulu." Ucap Ivan sembari menaik turunkan alisnya untuk menggoda Elsa.


Malu, ya itulah yang di rasakan Elsa saat ini. Ivan telah mengingatkan Elsa kejadian saat di kamarnya beberapa bulan yang lalu.


"Ih!!! Itu bukan diriku sendiri Van! mungkin saat itu aku sedang kesurupan!" Kilah Elsa.


Ivan tertawa ketika menatap wajah yang memerah di hadapannya. Perlahan tangannya membelai wajah tanpa make up itu dan selanjutnya ia mulai menjelajah leher mulus yang menggoda milik Elsa.


Elsa memejamkan matanya tatkala tangan Ivan berpindah di bagian tubuh yang lain, tangannya kembali mendaki bukit yang masih terbungkus cup berenda itu.


Lenguhan manja keluar dari bibir Elsa tatkala tangan Ivan sudah berada di atas puncak berwarna coklat yang siap untuk di mainkan.

__ADS_1


"Ivan..." Rintih Elsa dengan manjanya ketika merasakan dua jari Ivan menjepit dan memainkan puncak yang menegang itu.


Satu persatu kancing piyama berwarna putih itu terlepas semua, menampilkan dua gundukan bukit yang keluar dari cup berwarna hitamnya.


Wajah Elsa memerah ketika Ivan menatap kagum tubuh polosnya. Kelopak matanya kembali terpejam ketika lidah Ivan mulai menyapu bibirnya dan bermain disana.


Lenguhan panjang lolos dari bibir Elsa ketika lidah Ivan menari-nari di atas dua puncak berwarna coklat miliknya bergantian. Ia tak dapat lagi menahan getaran yang sudah terkumpul di ubun-ubunnya.


Tubuh Elsa semakin menegang ketika tangan Ivan mulai memainkan kacang almond yang ada di atas bibir gua licin miliknya. Ia mencengkram rambut Ivan tatkala rasa nikmat itu datang menyerang dirinya.


"Ivan...." Lenguh Elsa ketika ia sampai di puncak nirwana untuk pertama kalinya.


Ivan menghentikan aktifitasnya. Ia tersenyum menatap wajah yang tengah menikmati rasa yang belum pernah ia berikan kepadanya. Ia memeluk pemilik tubuh polos yang sedang mengatur nafasnya.


"Bersiaplah Elsa, jangan berisik malam ini. Oke!" Ucap Ivan yang sedang melepas satu persatu kain yang melekat di tubuhnya.


"Kalau begitu berteriaklah! aku suka ketika kamu memanggil namaku seperti tadi." Ucap Ivan yang sudah memposisikan diri nya di tengah² kaki Elsa yang terbuka lebar.


Suara Elsa kembali terdengar ketika Ivan mencoba lagi memasukkan rudal panjangnya untuk menembus gua licin yang masih tertutup rapat.


Setelah bersusah payah menerobos palang pintu gua milik Elsa, akhirnya Ivan berhasil membobol pintu gua yang selama ini di jaganya. Elsa terus meracau ketika Ivan mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur dengan lembut.


Hampir tiga puluh menit mereka bermain dalam gua licin yang terus mengeluarkan lahar panas ketika mencapai puncaknya. Tubuh Ivan menegang ketika gelombang tsunami melanda tubuhnya. Ia semakin mempercepat gerakannya untuk memuntahkan bibit unggulnya ke dalam gua yang banjir itu.


Setelah mencapai klimaks bersama, mereka berdua tidur dengan tubuh yang saling memeluk. Alam mimpi yang indah menanti kedatangan sepasang suami istri yang baru saja menyelesaikan misi penanaman bibit di rawa yang ada di dalam gua.


Ivan mengerjapkan matanya, ketika mendengar suara alarm dari ponsel yang ada di atas bantalnya. Ia menatap wajah cantik yang terlihat layu dalam dekapannya.

__ADS_1


"Elsa.... bangun yuk!" Ivan menggoyangkan lengan Elsa.


Elsa membuka kelopak matanya, ia sedikit terganggu dengan suara Ivan yang terus memanggil namanya. Ia menatap wajah yang kini mengembangkan senyum manis disana.


"Aku masih ngantuk, Van." Ucap Elsa yang kembali menutup matanya.


"Sudah waktunya sholat subuh El. Setelah sholat kamu bisa tidur lagi." Ucap Ivan yang kini tengah membelai rambut panjang yang berantakan.


"Aku masih capek, Van!" Ucap Elsa dengan mata yang masih terpejam.


"Nanti aku pijitin. Buruan mandi!" Ucap Ivan


Elsa membuka matanya lagi, ia masih mengumpulkan separuh jiwa yang masih berada di alam mimpi. Beberapa menit kemudian ia bangun dari ranjangnya, ia memakai piyama yang tercecer di lantai kamarnya.


Ivan tersenyum melihat dada Elsa yang di penuhi banyak tanda merah hasil karyanya. Ia juga masih terbayang-bayang bagaimana wajah Elsa ketika mencapai puncak kenikmatannya.


"Sudah bisa doa mandi besar kan El?" Tanya Ivan sebelum Elsa menutup pintu kamar mandi.


_


_


Selamat membaca kak, semoga suka😍♥️


_


_

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2